Langsung ke konten utama

Puisi Penghilang Nyeri I


Puisi bagi saya seperti pil kecil yang menghilangkan nyeri di kepala, maka kalau tak nyeri tidak dibutuhkan pil, seperti saya yang membutuhkan puisi untuk menghilangkan nyeri, oleh apa saja.

Untuk malam selarut ini, mengingatmu masih membuatku berdebar, sungguh, meski entah siapa aku telah begitu mabuk denganmu

~Candu~ 
07/10/2011
10:35 pm

Menikmati malam dengan segelah cahaya dari bulan, semoga terangnya sampai ke wajahmu, agar binarnya terlihat hingga ke malam berikutnya

~Kagum~

09/10/2011
08:15 pm

Malam menemui lengangnya, menyergap sepi dari empat penjuru takdir, seperti kumparan aku terkurung di antara semuanya, adakah engkau di salah satu penjurunya?

~Takdir~

17/10/2011
06:30 pm

Sebelum hujan tadi pagi kukirimkan seikat bunga rumpur untuk engkau, warnanya kuning gading, tetapi ia tidak memiliki wangi yang membuatmu sadar bahwa aku telah meletakkannya di bawah bantal tidurmu, nanti ketika kau mencium wangi kasturi janganlah berfikir bahwa itu berasal dari bunga rumput yang kukirim, tetapi wangi yang berasal dari hatimu sendiri.

~Wangi~

19/10/2011
08:48 AM

Aku adalah lentera, tetapi engkau adalah bahan bakar yang membuatku menyala
Aku adalah pulau, tetapi engkau adalah teropong yang membuatku dapat dilihat dari jarak jauhAku adalah air pelepas dahaga, tetapi engkau adalah kopi pembangkit selera
Aku tanpa engkau, hambar, tawar, seperti sayur tanpa garam

~Aku~ 

22/10/2011
07:02 pm

Hujan
Tak ada pelangi setelahnya
Sebab malam telah menggulita
Ijinkan aku menatap matamu
Sebab pelangi yang sesungguhnya ada di sana

~Pelangi~

23/10/2011
09:54 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…