Bercinta dengan Narasi

Seperti pertemuanku denganmu yang tak ingin kusudahi, maka bercinta dengan narasi adalah kesenangan maha panjang yang mampu membeliakkan mata, seperti pusaran angin yang mampu mengakumulasikan debu maka lelah terakumulasi di tempatnya, untuk tak hinggap di kelopak mata, dan malam adalah teman paling setia yang tak pernah mengeluh, atau melenguh.

Sunyi adalah rasa paling nikmat untuk melebur dalam mabuk kata, hingga kokok ayam pertama ternyata ‘sudah’ belum menemui hilirnya. Seperti percintaan pertama yang ingin kita ulangi pada setiap pertemuan, maka kata adalah selalu prosesi percintaan pertama untukku.

Pada helaan napas berikutnya belum juga kutemukan titik kulminasi nikmat, maka berhenti sejenak adalah ritual singkat untuk menghimpun imajinasi, dan kau hadir sebagai pelengkap, lelaki inisial yang telah menjadikanku begitu perempuan.

Permata Punie, 25-Juni 2011

02:11 am

Komentar