Langsung ke konten utama

Kakiku

mungkin bukan sekali ini saja aku mengalami kejadian ini, aku menyebutnya 'diskriminasi', uniknya diskriminasi ini dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, untukku, yang usianya terpaut jauh dengan mereka, apa aku marah? tentu tidak, mereka hanya anak-anak yang belum mengerti soal hormon.
menjelang magrib tadi saya mampir ke toko buah, untuk membeli bengkoang dan sekalian isi bensin, di depannya ada anak kecil dua orang berusia sekitar lima tahun, mereka ramah dan langsung menyapaku, akupun membalas seadanya sekedar untuk basa-basi, untuk orang yang tidak menyukai anak kecil sepertiku ditegur seperti itu rasanya kok aneh.
"Kak, kakak kok kakinya banyak bulu, kayak orang laki?" kata mereka sambil cengengesan."Banyak lagi." sambungnya.
"Kenapa kalau banyak bulu?" tanyaku dingin.
anak itu tidak menjawab dan masih cengengesan.
lain waktu, adik sepupu saya juga pernah mengatakan hal yang sama, umurnya masih sekitar tiga tahunan waktu itu, "Kaki kakak seperti kaki ayah." katanya polos. aku cuma bisa nyengir.
sebelumnya sepupu kecil yang lain juga pernah 'mengagumi' kelebihanku ini, sambil memperhatikan, kadang sambil membelai, dan ketika mereka merasa geli mereka tertawa terbahak-bahak.
bukan hanya mereka, ibu, adik,teman-teman juga sering membicarakan tentang hal ini, tapi apa saya peduli? tidak! apakah pernah muncul rasa minder? juga tidak! saya justru senang karena saya menjadi perempuan yang berbeda!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n