Langsung ke konten utama

Sketsa Rupa

mestinya pada cinta kita tidak perlu bersedih bukan? karena cinta itu sendiri adalah sumber kehidupan dan inspirasi, tetapi pada cinta yang tak semestinya mengapa kesedihan menjadi teman seperjalanan?

mendengar sedumu, adalah rajam yang menusuk ulu hati, tetapi pada jarak yang tak terjangkau aku tak bisa berbuat apapun, selain hanya bisa berkata; bersabarlah untuk sesuatu yang kita tidak tahu sampai kapan usainya.

aku memahami bagaimana resahmu menunggu sesuatu yang bernama kabar, dan degub jantungmu yang serupa gemuruh ketika halilintar menerangi jagat, sering membuat tak berdaya, betapa rindu adalah nikmat yang kadang-kadang bisa berubah menjadi petaka jiwa yang laknat.

kita tidak bisa berasumsi pada apa yang kita tidak tahu kebenarannya seperti apa, pada rupa yang belum pernah kita sentuh, pada raut wajah yang belum pernah kita lihat sketsa nyatanya, meski kita sering merasa bahwa hati begitu dekat, seperti jiwa yang menyatu dengan sanubari, dan pada apa yang kita sebut sebagai kontak batin itu.

seperti pesan yang kau kirimkan bahwa nadimu terus mencari kepingan hati yang pernah ia simpan, memang kehilangan yang tiba-tiba adalah bingung yang tak pernah selesai, pertanyaan yang tak pernah ada jawabannya, dan teka-teki yang tak pernah sempurna.

seharusnya pada apa yang disebabkan oleh cinta kita tak boleh menangis bukan? tetapi ketika kita telah terlibat pada permainan hati, kepada siapa kita menuntut tanggung jawab?

kewajiban kita adalah menyampaikan; tentang perasaan dan isi hati yang sering tak terkendali, tentang rindu yang mencabik, dan tentang cinta yang parah. dan dia mempunyai hak untuk mendengar apa yang kita keluhkan, yah, hanya sebatas diam, sebab dia tidak punya kewajiban untuk menjawab atau menjelaskan, sebab kewajibannya adalah menjadikan sesuatu menjadi tak berbentuk, remuk, dan hancur, dan setelah itu dia menjadi kabut. pergi!

aku tahu, engkau bukanlah aku, dan aku tak bisa memaksamu untuk mengikuti caraku menyembuhkan, tapi marilah kita berhenti sejenak, untuk saling menguatkan, pada sosok yang tak pernah kita kenal jangan pernah menggadaikan semua perasaan, karena ketika dia hilang kita tak tahu harus menebusnya kemana, pada wajah yang tak pernah bisa kita sentuh janganlah menaruh percaya, karena kita tak pernah tahu dengan mimik seperti apa ketika dia mengatakan sesuatu untuk menyenangkan hati kita, dan pada bibir yang tak pernah bisa kita cium, jangan pernah menitipkan seluruh rindu karena kita tak pernah tahu seperti apa desis nafasnya.

tetapi, semua perasaan telah tergadaikan, semua percaya telah terakumulasi, dan semua rindu telah diserahkan, pada semua yang telah terjadi kita hanya bisa mengatakan selamat datang lalu pergilah dengan cepat.

* Kepada yang tersayang; my beloved sista; Y

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.