Langsung ke konten utama

Seorang Lelaki dan Gitarnya (part 2)


Bahkan hingga sekarang aku seperti masih mendengar petikan gitarnya, resonansinya
melewati palung-palung jiwaku, membelah naluri keperempuananku, dan menggetarkan ingatanku,
untuk tak berhenti pada satu lagu. Sepertinya aku masih mendengar ia dengan lagu ‘diamond ring’-
nya dan ‘ I will be there for you’ nya Bon Jovi.

Suara itu, seperti lembut yang merayapi sepi, seperti hangat yang dihinggapi cahaya, seperti
dingin yang dilelehi air, seperti pesona yang terbuai oleh semesta, suara itu melahirkan permintaan;
agar kau terus membuatku me-mabuki-mu, karena me-mabuki-mu adalah lena paling nikmat yang
tak ingin kusudahi.

Ketika kutanya, apakah ia sengaja dengan semua ini, ia tak menjawab, tetapi ia menyuruhku
bertanya pada diriku sendiri. “Tanyalah pada hatimu,” begitu katanya di antara serak-serak suaranya
yang berat.

“Rihoen, mau request lagu apa?” tanyanya kembali di sela-sela perbincangan, obrolan ini
nyaris seperti musikalisasi puisi, aku bercerita dan kau memainkan senar gitar, dan petikan gitarmu
adalah yang terindah yang pernah kudengar, bahkan tetangga depan rumahku saja yang katanya
begitu lihai memainkan gitar tetap tak sepertimu. “Ayo, mau dinyanyikan lagu apa lagi? Kita Cuma
punya kesempatan kali ini, karena besok gitar ini harus dikembalikan kepemiliknya.”

Ah…kau, gitar itu sungguh beruntung karena pernah dipinjam oleh orang sepertimu, dan
aku adalah perempuan beruntung karena punya kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu dari
seorang ‘pengamen hati’ sepertimu.

“Aku punya keinginan agar seumur hidupku dapat memainkan gitar, dan menyanyikan lagu-
lagu sederhana untuk seseorang, dan saya bisa menemaninya menuliskan note-note kecil yang
hanya dituliskannya untukku.”

“Dan aku ingin menjadi perempuan itu…”



11:41 am

22-may 2011

Seorang Lelaki dan Gitarnya (part 1)
http://ihansunrise.blogspot.com/2011/05/seorang-lelaki-dan-gitarnya.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.