Langsung ke konten utama

Puisi Ihan Sunrise (*)

(Didedikasikan kepada eS eM)


Kau kah itu

Kau kah itu?
Yang tiba-tiba hadir dan membuatku terbangun
Dengan kantuk yang berat dan ruh yang belum sempurna menyatu
Aku hanya ingin mendengar suaramu ketika itu
Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi
Karena gigil seringkali mendahului
Mengapa gugup ini tak kunjung sembuh setiap kali dihadapkan denganmu
Padahal, aku tahu kau tak benar-benar datang sebagai dirimu sendiri

Kau kah itu,
Yang selalu hadir di mimpi-mimpi pagiku?


Seorang lelaki dan gitarnya

Suara itu,
seperti lembut yang merayapi sepi,
seperti hangat yang dihinggapi cahaya,
seperti dingin yang dilelehi air,
seperti pesona yang terbuai oleh semesta,
suara itu melahirkan permintaan; agar kau terus membuatku memabukimu,
karena memabukimu adalah lena paling nikmat yang tak ingin kusudahi

suara itu,
adalah petikan lembut dari rahim rindu
leguh-leguh nikmat senar yang bertemu jemarimu

suara itu,
adalah yang menembus lorong-lorong telingaku



langkah kaki

serupa detak jantungku
berdegub saling bersahutan
pertanda bahwa kehidupan masih berlangsung saat itu

menembusi malam
melintasi sepi yang senyap tanpa basa basi
hanya desah nafas yang sesekali terdengar begitu berat
lelah itu, telah menjadi salut kehidupanmu

dan kau seperti mabuk di dalamnya
mengurungnya dalam terowongan hatimu

masih serupa detak jantungku
kali ini dengan kemistisan yang seharum misteri
aku masih menunggu
untuk mendengar derap-derap langkah kakimu menembusi malam


kau di mana

aku kehilanganmu hari ini
aku kehilangan matamu
untuk membaca puisi-puisiku
aku kehilangan telingamu
untuk mendengarkan keluh rinduku
aku kehilanganmu
sama seperti aku kehilangan imajinasiku


Punie, After Infonite
24 may 2011

(*) telah dimuat di Koran Harian Aceh, edisi Ahad, 05 Juni 2011

Komentar

  1. Aku pikir ini telah jadi abu saja.

    BalasHapus
  2. itu puisinya bersambung ato beda-beda kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa bersambung bisa beda-beda (berdiri sendiri) Khaira :-)

      Hapus
  3. Balasan
    1. kak Iya, tinggal klik di 'join this site' :-)

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.