Langsung ke konten utama

Senarai Puisi Sunrise (SPS)

menikmati senja dengan sepotong cinta
dari engkau
19-Juni 11
06.02 pm
kekasih-kekasih yang menanti
serupa keinginanku untuk berdansa denganmu
namun pada waktu sebentar lagi
kita mesti bersabar
menunggu kepak sempurna membentang
18-Juni 11
09.11 pm
malam tanpa cahaya telah terlalui
dengan sempurna
tetapi karena dia sahabat sunyi
tetap saja dia hadir sebagai resah sepanjang malam
16-Juni 11
08.07 pm
hujan pagi ini adalah kelebat dari langit
yang meluluhkan semesta
seperti derai-derai rindu yang membelalakkan mata
untuk melipuri semua vandal resah
juga jelaga gundah
hujan pagi ini seperti aku yang ingin mengalir ke dirimu kekasih
15-Juni 11
08.14 am
memandang bulan di langit Tuhan
terbayang wajahmu yang penuh
matamu yang berbinar
senyummu yang membuat mabuk
dan pelukanmu yang serupa sayap merpati
14-Juni 11
09.21 pm
sabit yang seperti senyummu
menenangkan
memabukkan
membuat gelepar
serupa rebah di pelukmu
07-Juni 11
09.02 pm
harum yang merambati penciumanku
serupa aroma tubuhmu yang menguapi jagat
membumbung menyelinap di antara atmosfir
untuk kemudian merambati adrenalinku
06-Juni 11
09.19 pm
jika saja panas yang berpeluh ini
berasal dari sergap dekapmu
tentu tidak ada resah yang membuat galau
padahal membara denganmu
adalah kerinduan panjang
yang tak pernah ingin kusudahi
04-Juni 11
12.00 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.