Langsung ke konten utama

Tentang Rasa

Apa yang terjadi denganku? Kemana hilangnya geletar-geletar yang dulu muncul ketika aku
bertukar sapa dan pesan dengannya.

Aku sering gelisah akhir-akhir ini, tapi bukan gelisa yang sering aku ceritakan kepadanya, aku
sering khawatir, tetapi bukan rasa takut karena rinduku untuknya sering tersangkut di etalase jarak.

Aku mencoba mengingat, dalam resah panjang yang membeliakkan mata, dalam leguhan
panjang yang mengenyahkan kantuk, dan dalam geliat yang melunglai memamah sendi-sendi.

Aku terkapar dalam pengulangan takdir yang tidak biasa, mungkinkah, setelah bertahun-
tahun, aku bahkan nyaris telah lupa bagaimana perasaanku saat jatuh cinta dulu. Aku bahkan tak
lagi dapat mendefinisikan tentang rindu kembali.

Tapi ini rindu yang melesak-lesak, merusak alam ingatku untuk terus menghadirkan imajinasi,
hingga ketika aku tak lagi sanggup berfikir, kubiarkan kepala ini berdenyut-denyut menentang
keinginannya, mata yang mulai mengerjap-ngerjap, namun simpul syarafnya terus memaksa untuk
bersikap anti tesis.

Tak satupun kalimat yang dapat menyembuhkan, bahkan tidurpun tidak, getarku telah hilang,
hatiku mengatup, perasaanku melabirin, pada takdir aku meminta maaf, mungkin memang sudah
waktunya seperti ini.

Sebentar lagi, kesepian panjang akan menghinggapi, dia yang memilih untuk kembali ke
tanahnya, adalah yang selama ini menjadi guci tempatku menyembunyikan cerita-cerita tentang
gemuruh perasaanku. Dia yang di malam-malam terakhirnya terus mendesak-desak agar sekali
waktu aku berlaku jujur untuk diriku sendiri. Dia bilang “bersikaplah egois untuk sekali saja dalam
hidupmu,”

Kukatakan, bahwa aku telah egois sejak pertama kali menaruh rindu untuknya, hanya pada
beberapa kali percakapan setelah aku mengenalnya. Telah banyak keegoisan yang kulakukan,
memaksanya untuk mendengar keluhan-keluhan rinduku, memaksanya terlibat dalam imajinasiku,
aku yang meliarinya tanpa sekat. Aku telah egois, ketika kukatakan padanya bahwa aku memang
egois.

Aku berharap hujan turun untuk membilasi seluruh jelaga rindu yang menempel di dinding
hati, tetapi sampai hari ini tak sebutir hujanpun yang turun. Sementara jelaga rindu ini terus
merambati di setiap ruang keperempuananku.

Aku juga telah egois karena tak ingin mengingat apapun tentang malam yang terlampaui
semalam, aku ingin tidur dan tidak kubiarkan apapun hadir menyerupainya dalam mimpi-mimpiku,
juga di mimpi pagiku. Tetapi, ketika dia tetap dating dalam wujudnya yang entah, aku mau
menyalahkan siapa?

Aku telah melewati malam berjeda itu dengan sangat cepat, seperti kecepatan sayatan pisau
yang memutuskan nadi, tetapi tetap saja aku terbangun di setiap waktu yang pernah kugunakan
untuknya.

Jeda malam itu adalah sebentar yang membawanya pada pertemuan panjang yang mabuk,
yang membuatnya lupa pada segala hal, juga padaku. Dan, tidak ada sesuatu yang dapat kukatakan
agar ia bias mengingatku.

Dan aku, benar-benar egois ketika aku hanya bisa diam dalam resonansi waktu yang masih
belum pagi benar. Meskipun ia akan tidur dengan 99 perempuan berikutnya, mestinya aku tidak perlu
tahu tentang itu. Tapi sayangnya, aku tidak bisa tiba-tiba menjadi tuli untuk tidak mau mendengar
apa yang idak ingin kudengar. Dan pemberitahuan tentang itu terus menerus mengiang-ngiang di
sepanjang hari dan malamku.

Kawan, maka keegoisan seperti apalagi yang kau maksudkan?

Aku hanya meminta agar Tuhan menurunkan hujan mala mini, bukan air yang keluar dari
mata yang sembab. Agar aku dapat membilasi semua kecewa yang terselubungi oleh kecubung rindu.
Untuk membilasi semua rasa yang terpendam dan terakumulasi.

Tuhan! Maafkan aku, kurasa aku telah kembali jatuh cinta

Tuhan! Biar kepadamu saja aku bercerita yang sesungguhnya.



11 – 12-May 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…