Langsung ke konten utama

Bu; Ini Tentang Restumu

Mendengar suara pagimu ibu, persis seperti embun yang membilasi serbuk debu di pucuk-pucuk daun hatiku, debu dari resah yang membekapku semalam, juga kelebat rindu dari sosok yang samar, rindu yang tak kupahami dan aku tersadar ketika semuanya telah menjadi jelaga di ruang hatiku.

Seperti tawamu yang menenangkan, maka semua galau hatiku telah kau lipur tanpa nasehat, ah, ibu, betapa kau adalah perempuan maha sempurna yang begitu kuhormati, kau yang memahamiku melebihi diriku sendiri, kau yang selalu memberi jalan panjang untuk kususuri sendiri, tanpa pernah berusaha memaksaku berhenti pada satu tikunganpun yang tidak kukehendaki.

Ibu, legamu adalah lega panjang jalan hidupku, terimakasih untuk tak pernah memintaku menjadi sesuatu seperti yang kau inginkan, tetapi menyuruhku menjadi apa yang aku inginkan, juga untuk restumu atas kerinduanku pada lelaki yang menemuimu di awal april beberapa tahun yang lalu, menangisi lelakiku di hadapanmu kuakui adalah kecengengan, tetapi rindu terhadapnya memang harus kubagi denganmu bukan, karena kau adalah penterjemah rindu.

Tetapi restumu tentatif bukan? dan aku tak ingin menjadikan rindu itu terserak, dan semakin terakumulasi menurutku.

Ibu, Z lelaki yang baik, dan itu sudah cukup untuk menerima siapapun menjadi teman dalam hidupnya, dia lelaki istimewa yang telah mengajarkanku arti berjuang, pada kebijaksanaannya aku banyak memahami tentang sketsa hidup yang rumit, dan cerdasnya telah merambati sebagian dari diriku hingga imajinasiku tak pernah putus, juga pada kepak lengannya yang hangat aku tak pernah menangis di sana, karena dia tidak pernah menawarkan sepotong kesedihanpun untukku; anak perempuanmu.

Mendengar suaramu pagi ini ibu, membuatku tak punya ketakutan dan kebimbangan apapun, juga untuk restumu yang pernah kita bicarakan beberapa tahun silam, terimakasih telah memberiku pilihan untuk tidak segera terlibat pada prosudural kehidupan yang tersekat adat. Aku mencintaimu Bu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.