Langsung ke konten utama

Hingga Cahaya Berikutnya

Mungkin iya kemarin malam telah gerhana, dan bulan tak muncul sebagaimana mestinya, aku tak tahu menahu soal itu, yang kutahu malam itu aku pulang bersama rinai hujan yang tidak lebat tetapi tidak juga sebagai rintik-rintik, dan cukup membuatku gigil dan basah.

Yang kutahu angin tak begitu bersahabat ketika itu, bertiup cukup kencang dan membuatku hampir-hampir kehilangan keseimbangan, dan gelap adalah pelengkap yang sempurna.

Aku memandangi langit Tuhan, tak sebutirpun kudapati bintang terpantul di sana, dan mestinya bulan bulat penuh malam itu, mungkin serupa purnama atau sehari sebelumnya. Tapi langit malam itu adalah kosong yang sunyi.

Aku ingat pada keinginanku malam sebelumnya, untuk tak ingin menyaksikan purnama kali ini, karena pada purnama sebelumnya aku telah menggantung wajahnya di pucuk sempurna. Dan setelah itu ia padam serupa api yang menjadi bara, dan bara itu masih mengepul hingga saat ini di hatiku, bara yang melahirkan jelaga rindu dan debar-debar parah yang tak kunjung sembuh.

Itulah mengapa, aku tak ingin menyaksikan bulan mencapai puncaknya, karena aku yakin wajah samarnya akan kembali muncul dalam bias perak yang mistis. Seperti mistisnya ia yang raib dalam rahim tanpa permisi. Dan aku, tak ingin kembali menduga-duga.

Maka, pada gerhana kali ini aku juga tak ingin mengenang, “karena aku tidak menyukai fenomena alam apapun” kataku pada seorang teman yang memintaku untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Sebenarnya aku sedang tak ingin menyaksikan langit, karena di sana tempat bulan menggantung.

Kataku lagi “Malam ini aku tak ingin melihat cahaya apapun” pada seorang teman yang lain yang memintaku melakukan hal serupa. “Karena melihat cahaya seperti melihat wajahnya yang selalu membuatku rindu.” Aku bersyukur karena ia mafhum dengan alasanku.

Mungkin iya malam kemarin telah gerhana, dan bulan tak muncul sebagaimaa mestinya, yang kutahu langit gelap dan tidak ada cahaya apapun dan itu membuatku lega karena tidak mendapati wajahnya di pucuk langit.

Mungkin iya malam kemarin gelap mencapai sempurnanya, tapi yang pasti rindu untuknya demikian parah hingga cahaya di mataku tak dapat kupadamkan, dan aku terbeliak hingga cahaya berikutnya muncul di ufuk.

Teruntuk Seuramoe Meukah

21:29 pm

17-Jun 2011

Permata Punie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.