Langsung ke konten utama

Aku adalah Apa yang Aku Fikirkan

sejak kecil saya selalu punya keinginan untuk menjadi berbeda dari orang kebanyakan. walaupun ketika itu belum tergambar dengan jelas menjadi berbeda yang seperti apa. mungkin dari sini pulalah proses kreatif saya berawal, saya senang berimajinasi, membayangkan hal yang indah-indah dan menantang, yang dalam imajinasi saya hanya saya yang bisa melakukan tantangan tersebut.

untuk menjadi berbeda dari orang kebanyakan memang tidak mudah, karena dengan begitu harus ada hal-hal berbeda yang bisa kita lakukan. ketika kuliah dulu, saat on the job training saya memilih sebuah media sebagai sarana, dan itu akhirnya jadi wacana dalam keluarga, entah darimana informasi itu tersebar yang jelas saya pernah ditegur oleh ibu, beliau takut saya jadi wartawan. dan tak lama setelah itu, saya benar-benar jadi wartawan di sebuah surat kabar nasional.

ketika selesai kuliah teman-teman yang lain memilih pulang ke kampung untuk berbakti pada sekolah-sekolah dasar, saya lebih memilih bekerja serabutan di sini, tekad saya supaya saya menjadi berbeda dari mereka. ketika yang lain sibuk mendaftar untuk ikut menjadi calon pegawai negeri, saya dan beberapa teman malah sedang mengikuti sebuah seminar internasional yang sangat spektakuler. ketika yang lain bermuka lesu karena tidak lulus pegawai negeri, saya dan komunitas saya malah tertawa senang karena kami sudah punya perencanaan yang baik untuk masa depan kami.

ketika yang lain sibuk membuka koran mencari lowongan kerja, kami malah asik berdiskusi membahas buku-buku yang fenomenal dan inspiratif. ketika yang lain sibuk dengan pikiran mereka tidak bisa berubah, kami malah berfikir akan membuat perubahan bagi orang banyak. ketika yang lain sibuk berfikir untuk dihormati, kami justru berfikir bagaimana caranya mencetak pemimpin yang kharismatik.

saya selalu berfikir untuk bisa berbeda dari orang kebanyakan, dalam keluarga saya dianggap paling berbeda karena saya paling tidak betah berlama-lama di kampung. saya juga dianggap berbeda karena pekerjaan saya yang paling "tidak" jelas, karena saya bukan guru, saya bukan karyawan, dan bukan pegawai negeri. mereka lebih kaget lagi karena saya bekerja bukan pada "kantor" yang jelas hehehehhe. dan mereka menjadi sangat kaget ketika saya memaparkan rencana hidup saya lima tahun yang akan datang.

terakhir, meminjam kata-kata teman saya, hanya orang-orang aneh yang bisa memahami orang aneh. buatlah keanehan yang fenomenal, jangan sekedar keanehan sosial yang bisa menimbulkan sanksi adat.

Komentar

  1. setujen
    you are what you think
    bukan what people think

    BalasHapus
  2. Ihan, jangan terlalu banyak mengutip dari orang aneh...
    nanti ikut2an aneh, hahahaha...

    BalasHapus
  3. @ cengkunek: dari pepatah tersebut akan muncul dua kemungkinan, menjadi manusia yang reaktif atau manusia yang pro aktif....manusia reaktif adalah orang-orang yang tidak mempunyai pengaruh. sedangkan manusia proaktif adalah orang2 yang mempunyai pengaruh besar dalam lingkungannya.


    @ tengkuputeh: banyak hal yang bisa kita dapatkan dari keanehan....menjadi aneh berarti memilih untuk menjadi berbeda kan? nah, kalau sudah berbeda,...lihat item di atas heheheh

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…