Langsung ke konten utama

Kepada Lelaki Luarbiasa

Sejak mengenalmu aku ingin sekali untuk...untuk apa ya? Oh ya, untuk menatap matamu, memeluk pinggangmu, merebahkan kepalaku dipundakmu, menyentuh pipimu lalu mengecupnya penuh cinta. Sejak mengenalmu, sejak mendengar suaramu, sejak kita bercanda, sejak kau menjalari hatiku dengan cinta dan sayangmu. aku ingin sekali untuk.... ya untuk memeluk dan menciummu. Untuk mengatakan betapa aku sangat mencintaimu.

Bercelana Jeans, kita duduk berdampingan, aku ingat sekali, pada suatu malam, di bulan Januari, pada pertengahannya di awal tahun ini. Adalah kebahagiaan tak terhingga ketika aku bisa menemanimu duduk di suatu tempat, menyaksikan suapan demi suapan ke mulutmu, sambil melihat kiri dan kanan kau berdesis...."ayo suapi aku"

Aku tertawa. Lama kita tak bercanda, lama hangat tak menjalari tubuhku, dan lama aku tidak berdesir. Setiap detik bersamamu selalu menimbulkan getaran yang menyenangkan dan mendebarkan. "Aku tak ingin menyuapi makanmu, tapi ingin menciummu..."balasku setengah berbisik. aku tertawa saat kau menjulurkan wajahmu. Tapi tak juga kucium kau di sana.

Bertahun-tahun mencintaimu rasanya seperti baru kemarin saja kita jatuh cinta, seperti baru kemarin pertamakali aku mengenalmu, dan seperti baru kemarin aku mengatakan betapa kau telah menjadi bagian terbesar dalam hidupku. Merasakan hangat jiwamu seperti tak pernah habis tularkan hidup untukku. Dan cinta untukmu mampu mengejawantahkan semua rasa kepada yang lain yang pernah bercokol di hati. "Kamu lelaki paling istimewa yang pernah hadir dalam hidupku, kemarin, sekarang, dan selamanya."

Maka, ketika aku memelukmu, memandang matamu yang mesra, merasai hangat rengkuhmu, menyentuh dan mencium pipimu, adalah hal yang tak patut untuk dikatakan. semuanya terbenam dalam rasa yang abstrak dan hanya mampu dijawab oleh kediaman dan kebungkaman kata. Sebab cinta tak perlu diceritakan, semuanya hanya ritme yang perlu diikuti.

Cinta kepadamu mampu hilangkan gundah sebesar apapun, tuturmu mampu leburkan luka dalam hati yang lebar, dan memberi tenang yang damai, setenang ketika aku bersandar di dadamu yang bidang dan kekar. Senyaman ketika aku memanggilmu dengan Cinta.

Mencintaimu melahirkan inspirasi, merinduimu melahirkan gundah, gundah yang nikmat dan menakjubkan. Semakin gundah, semakin besar cinta dan rindu itu sendiri.

Komentar

  1. Cinta itu tak peduli zaman, selalu menjadi bahan perbincangan yang hangat....

    BalasHapus
  2. Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

    BalasHapus
  3. @ tengkuputeh : benar...karena setiap zaman mempunyai kisahnya sendiri.

    @ lex depraxis : thx too sudah berkunjung ke rumah mayaku.dan salam kenal kembali....

    BalasHapus
  4. Kapan ya gw dapat gadis yang begitu tuilus mencinta gw

    BalasHapus
  5. Salam kenal ya dan thanks atas sharingnya

    BalasHapus
  6. jangan lupa mampir ke tempat saya ya

    BalasHapus
  7. @ aceh wordpress: semua lelaki akan merasa begitu hhhheheeee.

    kalau kita bisa mencintai dengan tulus, pasti kita akan mendapatkan yang sebaliknya juga


    @ baka kelana: thx too....makin sering share makin asyik

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.