Langsung ke konten utama

Rahim Cinta

ini kali yang tak terhitung ketika berbicara dan menulis harus terus menerus mengambil tema tentang cinta. mungkin memang cinta demikian uniknya hingga ia terus menerus hidup dan ada dalam ingat orang-orang sesuai dengan zaman yang mereka lalui. karena begitu unik ia kerap menimbulkan kebingungan yang meresah, menabrak-nabrak logika dan membuat pemiliknya terjerembab dalam arus yang pelik dan terjal.

ini bukan pula kali pertama aku mendengar gelisahnya, tatkala ia bercerita tentang cintanya yang berakhir tidak happy ending. dan seperti kali-kali sebelumnya, sebagai orang yang tak begitu memahami cinta ( cinta dalam pandanganku berbeda dengan bercinta) memandangnya sudah merupakan jawaban yang sakral, manik matanya yang hitam berkedip-kedip, sambil mendendang mengayun buah hati yang katanya lahir dari benih cinta. yang umurnya belum genap 60 hari tersebut.

cinta? mungkin benar ia dilahirkan dengan benih cinta dari rahim cinta yang agung. tapi benarkan si pemilik benih itu benar-benar mencintainya? itulah yang selalu membuatnya gelisah saban waktu, membuatnya tak bisa pejamkan mata hingga malam beranjak jula, dan itu pula yang membuatnya diam-diam sering menangis, kadang menangis pula dalam hati.


gelisah yang diam-diam merayap dalam hatiku, apakah semua orang mempunyai cinta seperti itu? cinta yang jahat dan picik hanya untuk mencari sumber nikmat? cinta yang diliputi kebohongan dan kelapukan akal budi. aku benar-benar gelisah sebab rasa benci mulai hadir dalam hatiku, rasa benci yang tak tahu harus ditujukan kepada siapa. rasa benci yang kadang membuatku begitu meletup-letup dan berteriak penuh kebencian. menuding-nuding si pemilik cinta yang tidak bertanggung jawab, kepada si pengecut yang meninggalkan istrinya tiga jam sebelum prosesi kelahiran buah cinta mereka.


itukah cinta? yang katanya tulus tetapi definisinya adalah terus menerus ditinggalkan. begitukah cara cinta mengaplikasikan kesempurnaannya? ketika kesepian demi kesepian datang silih berganti seperti purnama yang tak jeda. ketika malam-malam berat dengan tangis bayi melengking harus dihadapi seorang diri, ketika sakit, rindu, .... apakah cinta benar-benar bisa memberikan jalan ke luar?

aku bingung, benar-benar bingung, sebab pagi hari ini saat aku menemuinya ia tertawa girang, ia mulai kembali menemukan cintanya, cinta yang dulu pernah hadir sebelum ia mencintai lelaki yang menabur benih dalam rahim cintanya yang agung. matanya yang kemarin berair berbinar terang mengerjap-ngerjap, sejak sedari semalam ia menyebut nama lelaki cintanya itu.

tapi cinta adalah cinta, keabstrakan yang penuh dengan keunikan dan ketidak mengertian. yang mampu melahirkan rindu yang begitu kuat, tetapi pada saat yang bersamaan juga melahirkan benci yang tak terkatakan.

Komentar

  1. Terlalu banyak kesengsaraan yang dialami manusia ketika ia terlalu mudah menyerahkan hati...
    Jagalah ia karena milik berharga manusia...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.