Langsung ke konten utama

Teruntuk

Mei semakin dekat, setahun yang lalu aku berjanji untuk menemuimu pada mei kali ini, aku ingin bernostalgia, merasakan lembut wajahmu dan bening matamu pada pagi mei yang sejuk, seperti beberapa tahun yang lalu.

masih ingat? ketika kita berjalan kaki menaiki bukit kotamu yang tinggi. lalu mendorong mobil menuju atas yang terseok-seok menahan beban yang berat. aku ingin mengulangnya, sebab mei subuh bertahun-tahun yang lalu telah memberikan kenangan yang begitu membekas di hatiku. bahwa aku mempunya seseorang yang sangat berakal budi dan perasa selembut jiwa.

aku ingin menapaki kembali kota bukitmu, sambil menggandeng tanganmu mesra dan sesekali memeluk punggungmu yang kokoh, betapa aku sangat nyaman dalam dekapmu. suaramu yang lembut dan ceria, seperti isyarat bahwa hidup hanya ada keceriaan dan keindahan.

tatkala aku bercerita tentang galau yang semakin galau, kau mengingatkanku bahwa apa saja bisa terjadi di dunia ini. dan kau, meski tak pernah tahu telah memberikan kekuatan yang luar biasa untukku.

kini mei semakin dekat, aku resah sebab tak bisa penuhi janjiku. sebab banyak hal yang telah membuatku untuk terus bertahan di kota berdengung ini. sebuah embanan tugas yang akan terus menjulang tinggi, bahkan melebih diriku sendiri. tapi itu takkan lama, tahun depan, mei yang akan datang, aku akan menemuimu dalam wujud yang berbeda, aku dengan jiwaku yang telah berpetualang, mungkin akan kubawakan beberapa miniatur bentuk cintaku kepadamu. mudah-mudahan aku bisa membuatmu senang...bukankah kau sangat menyukai sesuatu yang sangat berkesan?

mei adalah mei yang basah, sesejuk kumpulan air yang ada di kotamu, sesejuk embun yang menyelimuti tetumbuhan yang menopang tanah beraroma gelora. sebasah hatiku ketika menemuimu pada subuh yang dingin, sayangnya aku tak sanggup menggendongmu ketika itu.

ternyata benar katamu, kasih itu menyembuhkan, bagi yang memberi dan menerima, dan aku benar-benar merasakan itu. kasihku, cintaku, memberikan kesembuhan bertubi-tubi saat kekeringan dan kesakitan menggerontang dalam hatiku.

mei ini tak ada ciuman kerinduan untukmu, tapi aku akan mempersembahkannya dengan cara yang lain saja. tadi aku sudah mengawali, mudah-mudahan kau menyukai apa yang telah aku persembahkan, rembulan merahmu, mungkin tak mendekati sempurna, tapi beberapa hari ke depan, aku akan menyelesaikan setiap piguranya untukmu.

bila bukan kau mungkin aku akan acuh dan tak peduli, bila bukan kau mungkin aku tak mau bersusah payah, dan bila bukan kau mungkin sudah kutinggalkan tempat ini sedari tadi. tapi kau lain....marahku mencair mengingat manjamu, tawaku meledak mengingat rengekmu, dan rasa hormatku tak pernah berujung mengingat apa yang telah kau lewati.

darisanalah aku belajar, bahwa segala sesuatunya akan hadir sesuai yang kita butuhkan. mungkin untuk saat ini aku belum membutuhkan hangat pelukmu meski mei akan selalu basah, barangkali juga mei kali ini tak terlalu harus dilalui bersama untuk mengenang semua nostalgia negeri bukit yang berombak. betapa...kerinduan kadang-kadang menjebak kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.