Senin, 23 Februari 2009

Lelaki dan Hujan*

Rintik-rintik hujan masih tersisa satu-satu, menghadirkan aroma tanah basah yang segar. Dingin yang menggigit tulang membuatku berkali-kali merapatkan jaket. Rambutku basah dan sebagian pakaianku juga basah karena terlalu lama berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan kota yang akan mengangkutku pulang kerumah. Tapi sampai setengah jam aku bediri, belum ada satupun angkot dari arah Ulee Kareeng yang melintas.

Tak habis-habis kumaki diriku sendiri, mengapa tadi lebih memilih naik angkutan umum dan meninggalkan sepeda motorku dirumah. Beginilah jadinya, kehujanan, dan akan kemalaman sampai dirumah. Aku benci sekali suasana seperti ini, berdiri dipinggir jalan dalam keadaan matahari sudah tenggelam. Dan sebentar lagi azan magrib akan menggema di belantara cakrawala, menerobos mendung dan kegelapan. Menyeru para pencinta Tuhan untuk membawanya pada tarian zikir dengan senandung-senandung doa yang khusuk.

Rasa kesal ku masih belum berkurang, sekonyong-konyong ingatanku melayang pada waktu sembilan tahun silam. Aku seperti merasa kembali pada waktu itu, berdiri dipinggir jalan, hujan dan juga malam. Tetapi bedanya saat itu ada Amirah disampingku. Gadis yang telah membuatku tergila-gila padanya dan mengantarku dalam ketidak pastian hidup seperti ini. Membuatku tidak bisa menemukan cinta yang lain karena ia telah memasungku dalam kekecewaan yang dalam dan menganga. Bukan hanya dia tapi juga orang tua, adat dan hal lainnya yang tidak pernah kumengerti sampai saat ini.

Kalau memang tidak bisa memiliki Amirah, aku sudah rela, tapi tolong jangan pasung hati dan perasaanku agar aku bisa mengais cinta dari tangan-tangan orang yang bersedia menyodorkannya kepadaku. Yang tidak melihat siapa aku, apa latar belakangku dan bagaimana aku hidup. Tapi ternyata Amirah, gadis minang nan lembut itu telah memenjarakan jiwaku sekian lama.

Hujan menjadi agak lebih deras, tapi beruntung aku sudah berada diatas becak yang akan mengantarkanku pulang. Tanpa bernego soal harga langsung aku melompat naik saat sebuah becak motor berdiri terpat dihadapanku, barangkali dia mengerti kegelisahan hatiku sehingga tidak perlu bertanya lagi apakah aku memerlukan jasanya.

“Jl. Todak nomor 21” Kata ku singkat sembari mengatakan nomor rumahku, rumah kontrakan tepatnya. Lelaki tua itu mengangguk. Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol dan menceritakan apa saja, juga tentang hujan.

“Hujan begini biasanya hujan penyakit. Karena hujan salah musim.” Katanya dengan suara nyaris berteriak, kalau tidak aku tidak akan bisa mendengar suaranya.

Aku tidak begitu mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh laki-laki itu, tapi dalam hati aku membenarkan, yah, ini hujan penyakit. Setidaknya hatiku lah yang sakit. Dan aku memang benar-benar sakit. Kembali bayangan Amirah memutar-mutar syaraf ingatanku.

“Aku senang berhujan-hujan begini dengan mu Sam,” katanya sore itu. Wajahnya memang terlihat sangat ceria, bibirnya tak putus melemparkan senyum. Rambutnya yang panjang terlihat lepek karena basah.

“Aku juga, saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang paling berharga bagiku Mirah, “ kataku menjelaskan sambil menggandeng tangannya. “Kamu adalah satu-satunya perempuan yang kukenal dinegeri ini, yang telah memberiku bukan cuma cinta tapi juga kehidupan, semangat dan kasih sayang.” Aku tersenyum, memandangnya tidak berkedip, dalam rintik-rintik hujan aku bisa melihat ia tersipu malu dan wajah hitam manisnya merona. Matanya berkedip-kedip karena tidak sanggup membalas pandangan ku.

“Kita akan selalu bersama kan Sam?” tanyanya lagi. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengangguk.

“Yah, kita akan selalu bersama.”

“Jangan pernah tinggalkan aku dalam kondisi apapun,” ucap Amirah lagi

“Pasti, karena aku juga tidak bisa hidup tanpamu Amirah…” jawabku meyakinkan hatinya. Senang sekali melihatnya tersenyum merekah seperti waktu itu.

Mengenal Amirah memang bukan kebetulan bagiku, ia perempuan yang mampu menjadi apa saja bagiku. Saat aku sedih ia hadir seperti ibu bagiku, membesarkan hatiku dan memberiku semangat hidup, dan karenanya aku berani menantang matahari esok paginya. Saat aku sedang marah, ia hadir sebagai kekasih yang mampu melunakkan kemarahanku dengan segala petuah-petuahnya yang bijak, ia mampu menjadi teman, sahabat, semuanya.

Tidak pernah ada perempuan istimewa yang kukenal dalam hidupku selain Amirah, sejak lahir aku tidak pernah mengenal ibu, bahkan waktu kecil dulu aku justru berfikir yang melahirkanku adalah ayah, lambat laun aku mengerti sampai kapanpun laki-laki tidaklah bisa melahirkan seorang anak. Lalu siapa ibu? Tetapi sampai sekarang tidak pernah ada jawaban yang membuatku puas. Ayah mengatakan ibu sudah meninggal, tetangga-tetanggaku mengatakan kalau ibuku kabur karena ayah sering berlaku kasar kepadanya. Aku tidak pernah mengenal nenek, bibi atau siapapun.

“Main-mainlah kerumahku Sam, ibu ingin sekali mengenalmu” ucap Amirah suatu hari. Aku menatapnya serius.

“Apa yang sudah kamu ceritakan kepada orang tuamu tentang aku?”

“Tidak ada, selain kau adalah kekasihku. Dan ku bilang pada ibu sebentar lagi kau akan datang melamarku. Seperti katamu beberapa waktu yang lalu.”

“Aku masih belum berani kerumahmu Mirah, aku takut kepada ayahmu.” Jawabku jujur. Siapapun tahu, ayah Amirah adalah pemuka adat ditanah minang ini. Ia mempunyai kebun yang luas, punya ternak yang banyak serta disegani oleh masyarakat. Bagaimana mungkin aku berani menghadapnya memperkenalkan diri sebagai calon suami anak bungsunya Amirah? Pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarganya.

“Ayahku baik Sam, jangan takut, aku selalu dibelakangmu.”

Sedetikpun aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan Amirah, karena itu, undangan untuk menemui orang tuanya kuterima karena aku memang serius menjalin hubungan dengannya. Dengan rasa takut bercampur malu aku datang menemui ayahnya yang sering dipanggil orang Datuk Marajho. Usai pertemuan singkat itu aku amat senang, karena ayah Amirah menerima ku dengan baik. benar seperti kata Amirah, ayahnya memang baik dan ramah. Datuk Marajho tidaklah seseram yang selama ini dikatakan orang-orang, pikirku. Berbagai rencanapun mulai kususun untuk kedepan, aku akan segera melamar Mirah, lalu menikahinya dan kami akan hidup bahagia. Biarkan bidadari cemburu pada keserasian kami.

Tapi rupanya kesenanganku tidak berlangsung lama, tiga hari kemudian Datuk Marajho memanggilku lagi. Tapi kali ini ia langsung ke pokok persoalan, menanyakan asal usul keluargaku, dan semua-semuanya. Aku terdiam lama disini, karena sampai sekarangpun aku tidak mengetahui pasti, apakah aku orang minang, melayu atau bukan. Ayah tidak pernah menjelaskan keberadaanku dengan pasti. Dari seorang tetangga yang cukup dekat dengan ayah pernah mengatakan kalau ayahku keturunan campuran padang dan bugis, ibuku keturunan batak bercampur aceh. Aku jadi pening dengan semua itu. Rumit sekali garis kehidupanku.

“Seorang Datuk Marajho tidak akan menikahkan anaknya dengan orang yang tidak jelas asal usulnya seperti kamu anak muda,” ucapnya dengan tidak terlalu keras tetapi terdengar seperti halilintar ditelingaku. Wajahku bersemu merah, marah bercampur malu.

“Apalagi Amirah pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga ini, bagaimana mungkin ia menyunting seorang calon suami yang tidak jelas keturunannya, keluarganya.”

Lagi-lagi aku harus menahan pil pahit yang masuk ke hati, sebilah belati sedang merajang-rajang hati dan perasaanku.

“Ku pikir apa yang dikatakan oleh ayahku benar, Sam.”

Aku yang sedang menunduk tercengang mendengar apa yang dituturkan oleh Amirah. Bagaimana mungkin ia membela ayahnya. “Selama ini aku juga tidak pernah berfikir apa yang difikirkan oleh ayahku, dan sekarang aku baru sadar, kamu tidak pernah menceritakan tentang keluargamu sekalipun kepadaku.”

Aku kembali menunduk, menangisi diriku dan kenyataan yang disodorkan oleh Amirah, suaranya tetap lembut dan bersahaja, tetapi ia menyampaikan isyarat yang dalam sekali.

“Bukankah kamu pernah bilang padaku untuk tidak meninggalkanmu walau bagaimanapun, tapi dari cara bicaramu sepertinya kamu yang akan meinggalkan ku Mirah.”

“Aku tidak ingin dikatakan anak durhaka Sam,”

tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi, aku tidak mau merengek-rengek karena pasti Amirah semakin tidak senang kepadaku. Dan sejak itu Amirah meninggalkanku dengan sebuah pesan bahwa ia mencintaiku untuk selamanya. Tapi bagi ku semua itu hanyalah penghinaan dan cemoohan.

***

Aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada lelaki tua pemilik becak motor yang baru saja kutumpangi. Ia mengangguk sambil mengucapkan terimakasih, akupun demikian, kupaksakan seutas senyuman yang terasa getir dan hambar.

Sejak kejadian sembilan tahun lalu itu aku jadi petualang kehidupan yang tak pernah bosan menjajaki tanah Sumatra. Sesekali terlintas dalam benak ku, adakah dalam perjalanan panjang ku ini bertemu dengan perempuan dalam wujud ibuku, wujud bibi atau barangkali nenekku. Maka, dari sekian tanah pilihan terakhirku jatuh ke Aceh. Setelah Pekan Baru, Palembang, dan Medan terlebih dulu kutetesi air mata kepiluanku. Dari setiap langkah kaki yang kuinjakkan disana seperti tergraffir luka dan sakitku yang tak pernah kunjung pulih.

“Jangan sering-sering bermain dengan hujan salah musim seperti ini. Nanti bisa sakit” Kembali terngiang ucapan bapak tua sipemilik becak dalam cerita-cerita kami tadi. Yah, aku memang sudah sakit. Dan hujan pesakitan ini hanya penyempurna dari segala rasa sakit yang ku miliki. (Ihan)

Banda Aceh, 27/4/07


cerpen ini sudah pernah dimuat di koran aceh independen edisi ahad, 22 februari 2009

Previous Post
Next Post

Coffee addicted and mother of words

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)