Langsung ke konten utama

Juli dalam Gundahku

Perjalanan, bagaimanapun rupanya selalu menyisihkan waktu bagi diri untuk menyelami dirinya, entah itu sebagai yang kau sebut pelayaran Jawa-Sumatera pada tahun 1998 silam, seperti kapal yang melebur bersama ombak yang pecah, atau seperti kendaraan darat yang mencoba berpacu bersama abstraksi angin.

Bagaimanapun suasananya, perjalanan lebih banyak memberikan lengang, itulah mengapa akhirnya Juli begitu membekas di benakmu, atau seperti lelakiku yang telah mereinkarnasi menjadi teman, sahabat, kakak dan seorang kekasih yang banyak mengajarkanku tentang makna hidup.

Dan nostalgia tentang perjalanan itu pelan-pelan berubah bentuk, menjadi sesuatu yang kita sebut sebagai kenangan, lalu berubah menjadi prasasti yang kerap melahirkan gundah dan risau, itulah tempat di mana memori mulai mengambil tempatnya di hati kita.

Tetapi pernahkah kita teringat, bahwasannya dalam gundah seseorang terlibat seseorang yang lain, dalam gundahmu terlibat Juli dari Kuala Leugeu yang pernah beberapa kali meneleponmu, lalu keadaan berupa kecamuk perang memutuskan romansa itu, dan Juli lenyap dalam nyata, tetapi tidak di alam ingat.

Begitu juga aku, dalam gundahku terlibat bukan hanya satu tokoh, tapi dua, tiga, berpuluh-puluh orang yang telah menjadi penting dalam hidupku, dan engkau adalah salah seorang dari itu.

Perjalanan, bukan sekedar perpindahan gerak ragawi dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi secara integral apakah kita pernah atau sudah melakukan perjalanan bagi rohani untuk menemui sebenar ruh-nya? atau imajinasi yang tidak dibiarkan terkungkung pada satu aliran tertentu, juga kehidupan agar tidak menjadi stagnan, dan juga perjalanan perasaan yang panjang.
 
 Maka, melibatkan Juli dalam gundah bukan dosa, tetapi penghargaan karena Juli istimewa.






Special writen for MA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.