Nekrolog

"Jadilah nekrolog-ku, dan aku tidak akan memintamu menjadi apapun setelah itu."
"Ihan, jangan bicara tentang kematian!"
"Tidak terlalu sulit untukmu, tinggal menyetujui atau tidak."
"Oke! Oke!"
Ihan, maafkan aku, 'iya'ku ketika itu hanyalah jawaban pendek tanpa fikir panjang, hanya untuk segera menyudahi desakanmu yang terus-menerus memintaku menjadi nekrolog-mu.

Dan, bila akhirnya aku berdiri di sini untuk sebuah nekrologi yang tidak teratur, sungguh, itu bukanlah bagian dari doaku agar keinginanmu segera terwujud. Aku, dan atau siapapun itu masih ingin melihatmu duduk dan berdiri di hadapanku; untuk sebuah kelekar lucu yang menguras tawa.

Aku, terasa canggung dalam kerumunan ini, karena tidak ada seorangpun dari mereka yang kukenal, wajah-wajah asing yang semuanya menyuratkan kepiasan, dan air mata yang berlapis-lapis. Aku menerobos dan tiba-tiba mencengangkan semua orang dengan lengkingku yang parau; Tunggu! Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian semua.

Semua mata menyelidik ke arahku, sempat membuatku salah tingkah, di antara mereka kudengar ada yang menyebut-nyebut sebagai ibumu, adikmu, nenekmu, pamanmu, kerabat dan sahabat, tapi tidak ada yang kulihat sebagai sosok ayahmu, Ihan.

"Perkanalkan, saya tuan Inisial." kataku memperkenalkan diri.
Ihan, sebenarnya aku ingin sekali memperkenalkan diriku dengan namaku sendiri. Tapi seketika aku teringat pada obrolan terakhir kita beberapa waktu yang lalu. "Hadirlah sebagai inisial" katamu waktu itu. "Kau tahu, bertahun-tahun aku hidup dengan inisial, sepertimu aku juga sangat ingin menyebut namanya dengan jelas, memperkenalkannya pada orang-orang dengan lazim, tetapi menahan sedikit egomu, maka kau akan memberikan kesempatan pada orang lain untuk menikmati leluasa dalam hidupnya, begitulah kami."
Ya Ihan, aku ingat, aku akan hadir sebagai inisial saja, seperti kau yang membiarkan leluasa hinggap  di tubuh lelaki inisialmu di kedalaman hatimu, yang seperti lautan, yang apabila sudah tenggelam tidak akan muncul ke permukaan lagi.

Orang-orang mulai berdesis, kasak-kusuk dengan pembukaan protokolerku.

"Di antara kalian semua, barangkali saya-lah yang paling terakhir berkenalan dan bertemu dengan Ihan bin Nurdin." aku mulai lancar membuka prologku.
 "Aku mengerti kebingungan kalian, mestinya aku menyebutnya Ihan binti Nurdin bukan?" kataku lagi.
Ah Ihan, kau tahu tiba-tiba aku teringat pada ucapanmu di suatu petang. "Setengah dari jiwaku adalah laki-laki, aku bisa membaca peta dan pandanganku tidak menyebar sebagaimana perempuan pada umumnya."
Nekrologi ini sungguh parah, tak teratur dan aku semakin menjadi kacau, tetapi karena aku sudah terlanjur janji padamu, dan aku menyesal mengatakan 'iya' pada waktu itu. Dengan tertatih, dan keringat yang menyamai bulir hujan aku mencoba menyelesaikannya untukmu.

"Saya berkenalan dengan Ihan bin Nurdin di sebuah warung kopi, yang cat dindingnya berwarna merah, kuning dan hitam. Waktu itu hujan turun selepas asar bersamaan dengan matahari yang memerah saga."
Tiba-tiba aku ingin menangis sekeras-kerasnya, kesedihan ini terasa begitu memuncak, ah Ihan, mengapa harus aku yang kau tugasi hal seberat ini. Mengapa tidak kau serahi saja pada ustad atau ustazah. Tapi, segera aku teringat pada kata-katamu, ketika itu kau sedang menyeruput teguk terakhir kopimu yang kental dan pahit.
"Meski aku baru mengenalmu, dan kita belum menjadi sahabat, tapi aku percaya padamu, kau tahu, aku tidak akan membawa semua rahasiaku, akan kutinggal semuanya denganmu di sini."
"Apa maksudmu?" tanyaku bodoh.
"Seberapa pernah kau hidup untuk seseorang yang tidak pernah bisa kau miliki, tetapi kau sangat mencintainya dan dia sangat mencintaimu. Atau, ketika ada kemungkinan bagimu untuk memiliki seseorang, pada saat kau mulai berusaha membuka hati, tapi cinta adalah fatarmorgana  yang silau."
"Aku tidak mengerti Ihan."
"Maksudku, cinta tidak membuat kita sampai pada kematian sebenarnya."
"Ah..."
"Maka, mencintai dan dicintai, atau mencintai dan tidak dicintai, adalah sama-sama kamuflase sempurna yang harus segera disudahi."
"Kali ini aku sedikit mengerti."
Langit lembab! Bekas hujan siang tadi.
"Sampai saya membacakan nekrologi ini di hadapan kalian semua saya masih belum mempercayai semuanya. Saya masih berharap, seusai prosesi ini Ihan hadir untuk menjelaskan kalimat-kalimatnya yang membingungkan." Airmataku menitik.
 Dan benar saja, kulihat kau bergerak perlahan, tetapi itu adalah gerakan di warung kopi ketika kau hendak ke kamar kecil. "Aku menderita penyakit bawaan yang payah!" gerutumu.
"Apa kau pernah merasakan ketika tiba-tiba saat terbangun dari tidur, kau tidak bisa berbicara sama sekali, dan saluran pernapasanmu tiba-tiba seperti tersendat. Rasanya seperti menggelepar, seperti ikan yang terlempar ke darat, membuatmu megap-megap." ucapmu sekembali dari kamar kecil.
"Tapi itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan kesenangan yang kau peroleh dari seorang teman, yang sambil berlari kecil memanggil namamu dan mengatakan begini; Ihan, apa kau senang mendengar musik? Aku mengangguk dan dia meminjamkan sekeping vcd lagu terbaru yang kusukai."
Aku menarik napas panjang, dalam diamku kuperhatikan ruas wajahmu yang terlihat pucat, mata yang seperti kantuk menahan katup, dan suara yang parau dan membuatmu berdehem berkali-kali.
"Atau, ketika kau tahu ayahmu sudah tiada tetapi semakin sering kau melihatnya ada, menyamai langkahmu, seduduk meja denganmu, dan itu sering mengundang gigil yang tiba-tiba, keluhan tanpa diagnosa yang telah terjadi bertahun-tahun, dan pernah kusangka sebagai penyakit malaria, dan aku meminum pil bulat kecil yang putih dan pahit tanpa berkonsultasi pada dokter."
Kepalaku berdenyut-denyut, perutku tiba-tiba terasa mual, ada bau harum yang merambati penciumanku tetapi berbeda sekali dengan aroma Lotus di samping tempat tidurmu.
  
"Para hadirin semuanya, di beberapa kalimat terakhirnya Ihan mengatakan bahwa ia hanya ingin menyaksikan orang-orang di sekelilingnya tersenyum, senyum memberi kekuatan untuk tidak rapuh. Maka tersenyumlah untuk Ihan yang ingin menjadi penulis terkenal hingga ke surga."
"Amin."
"Amin."
"Amin."
Aku menyudahi nekrologiku, walaupun sederhana, tetapi ini sungguh lebih berat dari persidangan di hadapan dosen penguji. Ini adalah sidang di hadapan Tuhan, di mana aku tak boleh membacakan apa yang tidak pernah kau ceritakan padaku Ihan.
Ihan, maaf untuk kali ini aku tak berani menjulurkan wajah ke tempat tidurmu, aku masih merasa kita masih dalam keadaan sebulan yang lalu, ketika kau menunjukkan bahwa lelaki inisialmu ada di tempat yang sama.

"Seperti dia yang memberi hakku sebagai Ihan maka akupun memberikan haknya sebagai Z yang utuh, kami cukup bermain mata dari jauh dan itu cukup bahwa kami saling mencintai." jawabmu sederhana saat kutanya mengapa kau tidak menghampirinya.
Ah ya, apakah lelaki inisialmu ada di kerumunan ini? aku meliarkan pandangan, mencoba mencari sosoknya seperti yang kau ceritakan; bermata coklat, beralis tipis, berwajah penuh dan mempunyai lengkung senyum seperti sabitnya bulan, di mana dia? Aku menerka-nerka.
"ketika kau berusaha mencari-cari sesuatu yang tidak bisa kau temui, maka pada saat itulah kau telah kehilangan." katamu sore itu.
Dan, segera aku berbalik, untuk memberi tahumu bahwa aku tidak menemukan sosok lelaki inisialmu di sini. Dan, ucapanmu, walaupun selalu membingungkan tetapi selalu benar, Ihan.
Kali ini aku telah kehilangan, sebenarnya kehilangan, bahkan sekedar cuma untuk melihat sosokmu untuk yang terakhir kalinya, dalam sekejap pandang orang-orang itu telah menutupi jasadmu dengan tanah dan mengubahnya menjadi gundukan tanah yang padat. Dan aku hanya bisa terpana....

"Tak kan pernah ada paesan di dahiku sebagai pengantin perempuan berkulit cokelat, dengan tahi lalat di bibir kanan atas, dengan sepasang mata bertelekan alis yang lebat. Tetapi aku percaya akan ada nisan bertuliskan Ihan bin Nurdin di kepalaku."
Hari telah gelap, tetapi aku mendapati cahaya di mana-mana, dan ini bukan kamuflase atau yang kau sebut sebagai fatamorgana!


12:50 am
14 Juli 2011

Nekrologi; riwayat singkat mengenai kehidupan seseorang yang baru saja meninggal
Nekrolog; pembaca/pembuat riwayat

Komentar