Langsung ke konten utama

For My Beloved Z; aku mencintaimu sepenuh hati, Sayang!

maka biarkan aku mengenangmu dengan caraku//biarkan aku menikmati kesenangan hati dan kebanggaan karena menjadi kekasihmu//karena kau pantas dikenang//pantas dibanggakan/dan patut dicintai sepenuh hati//

Ketika aku hampir tidak bisa menuliskan apapun, kau selalu datang sebagai inspirasi, untuk sepatah dua patah kata sederhana, walau hanya sekedar eksplorasi perasaan.
Dan kali ini, adalah eksplorasi kebanggan untukmu. Sebagai laki-laki dewasa kau selalu membuatku mampu menyediakan kata dan perasaan lebih untuk mencintaimu setiap harinya, sebagai laki-laki dewasa kau mampu membawa kita pada pertemanan dan persahabatan yang menggelitik, yang kadang menimbulkan rajukan-rajukan kecil dan berujung pada rayuan-rayuan sederhana tapi membuat kita akhirnya sama-sama mengerti bahwa cinta mampu mengenyahkan segala amarah.
Sebagai lelaki dewasa kau mampu memberikan pencerahan untuk hidupku, meski bukan seperti matahari yang terang benderang, tetapi sangat penting untuk menghilangkan redup yang kadang hinggap di hati kecilku, sungguh, mencintaimu memang bukan perkara mudah, memilih bertahan denganmu adalah keputusan maha sulit dan tak bisa dianggap sepele, dan memutuskan untuk tetap menabuh genderang rindu untukmu adalah perjuangan panjang; antara akal sehat dan realitas.
Dan, sebagai lelaki dewasa kau telah membuatku mampu menghormatimu dari waktu ke waktu, mengagumimu dengan sepenuh hati, dan kebanggaan itu tak habis ku eksplorasi hingga hari ini.
Untuk kali ini, biarkan kebanggaan ini menjadi milik kita, untukmu akan terus ada doa panjang yang tak pernah putus, lakukan yang menurutmu terbaik untuk alam, untukmu selalu ada cinta sepenuh hati.


Yang mencintaimu

Ihan Sunrise

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.