Langsung ke konten utama

Secangkir Kopi Hitam dan Kolase Rindu di Bawah Rumoh Aceh Ar-Raniry

Ilustrasi @mrwallpaper.com


"Kupi saboh, Bang," kataku.

"Kupi?"

"Yap! Kupi!"

Jawabku mantap sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong. "Bak meja nyan beh," kataku lagi sambil menunjuk sebuah meja di dekat kasir.

"Jeut!" Jawab si peracik kopi dengan ramah.

Setelah sepekan absen menyesap kopi, pagi tadi akhirnya aku kembali menyeruput minuman hitam dengan aroma yang khas itu. Kali ini aku memilih Solong Corner yang lapaknya ada di bawah Rumoh Aceh di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Seorang diri, tanpa gawai, aku menikmati pagi yang dibaluri mendung dengan menyesap kopi yang hangat. Sembari membaca tulisan-tulisan lama di majalah tempatku bekerja dulu. Ah, bukankah kopi adalah teman paling syahdu untuk menikmati kesendirian?

***
Rumoh Aceh di UIN Ar-Raniry sebelum ada Solong Corner @Arkin Kisaran/ist


Sebenarnya ini agenda minum kopi tanpa rencana. Ceritanya, pagi tadi aku mengantar adik yang hari ini mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry.


Saat di area parkir, seorang petugas keamanan menyapa kami dengan hangat. Lalu terjadilah dialog singkat yang mengujung pada keberadaan Rumoh Aceh di kompleks kampus ini.

"Bang, di mana Rumoh Aceh yang diresmikan Menteri Agama saat Pionir lalu?" tanyaku.

"Kok tahu ada Rumoh Aceh di sini?" tanyanya penasaran.

"Saya baca di berita," jawabku sekenanya.

"Di sana," matanya memberi isyarat ke arah utara. "Di depan bank. Ada jual kopi juga di bawahnya," katanya berpromosi.

"Serius?" tanyaku berbinar. Hidangan kopi hitam mengepul nikmat langsung terbayang.

"Serius! Enak lho kopinya, kalau mau ngopi bisa langsung ke sana saja," ia menjelaskan dengan ramah. Senyumnya menambah hangat obrolan singkat kami.

"Baiklah, terimakasih ya."

Aku berpamitan. Usai mengantar adik di ruang 11 di lantai 2, aku segera tancap gas menuju kedai kopi yang dimaksud.

Tak susah mencari kedai kopi Rumoh Aceh ala UIN Ar-Raniry ini. Jika kita masuk dari pintu gerbang UIN, letaknya ada di sebelah kanan sebelum Bundaran Rektorat. Pas di depan kantor beberapa bank yang membuka cabang pembantu di Ar-Raniry.

Rumoh Aceh ini adalah hibah dari mantan Rektor UIN Ar-Raniry. Diresmikan oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan gelaran Pionir beberapa pekan lalu, dengan tujuan menjadi pusat pelestarian kebudayaan Aceh di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh. (Sumber: portalsatu)

***

Belum pukul delapan saat aku mampir ke kedai kopi ini pagi tadi. Pemandangan yang terlihat tak ubah seperti di kedai kopi pada umumnya. Hanya saja bisa ditebak, mayoritas pengunjung adalah kalangan mahasiswa dan sivitas kampus seperti dosen dan pegawai lainnya. Atau, satu-satu orang luar yang 'tersesat' seperti aku.

Mereka menikmati hangatnya kopi pagi dengan santapan kue-kue atau nasi gurih. Sambil bercengkerama dengan sejawat. Bahkan beberapa orang tua terlihat membawa anak-anak mereka. Derai-derai tawa menjadi pelengkap harmoni ala warung kopi.

Ada 12 meja berukuran sedang yang disusun di bawah Rumoh Aceh yang disangga 28 tiang itu. Warnanya yang cokelat senada dengan tiang-tiang dan warna Rumoh Aceh yang natural. Setiap meja dikelilingi empat kursi plastik berwarna biru toska.

Dari belasan meja itu, hanya ada beberapa meja saja yang kosong. Aku memilih salah satunya yang berada di dekat meja kasir. Untuk teman minum kopi pagi ini, aku memilih sebungkus nasi gurih dengan lauk ikan tongkol balado. Dan sebotol air mineral.

Tak lama kemudian secangkir kopi hitam terhidang di meja. Aku menghirup aromanya yang menggoda, ini kebiasaanku jika minum kopi. Ada kenikmatan tersendiri ketika aromanya yang pekat menembusi lorong-lorong gelap indera penciumanku. Sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan oleh para penikmat kopi.

Di ketinggian sana tampak langit mulai gelap. Kepulan aroma kopi yang kupesan menyatu dengan semilir angin yang berlalu lalang dengan girang.

Sementara aku menikmati bahagia dengan caraku sendiri; yang dikirim Tuhan lewat secangkir kopi, hujan turun membasahi bumi. Memenuhi rintih dedaunan dan doa-doa para pecinta hujan.

Oh, adakah yang lebih romantis dari ini; secangkir kopi, setumpuk rinai hujan, sejumput semilir angin, yang berkolase dengan burai-burai rindu untuk seseorang.[]


Note: karena tanpa gawai aku tidak bisa memotret aktivitas di sini.

Komentar

  1. Emang deh kak ihan, jago banget membuat sesuatu hal yg biasa, enak untuk dibaca. I like it, :) Yel belum pernah kemari kak, pengen kesini juga lah, kayaknya seru!

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh thanks Yell, ntar abis lebaran bisa kita ke sana. Tempatnya asyik lhooo

      Hapus
  2. hmm... terasa suasananya, Han. Barangkali sesekali perlu ke sana untuk benar-benar merasakan kopinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja