Langsung ke konten utama

Kangen Zatin!

Kencan akhir pekan di Uncle.co 

SECANGKIR es kopi pabrikan yang kuhabiskan petang tadi, ditambah segelas mungil kopi hitam yang kusesap lepas isya, cukuplah sebagai 'syarat' membuat mata tetap terbelalak hingga selarut ini. Sudah lebih dari tengah malam, tapi belum ada tanda-tanda mata ini akan segera layuh.

Setelah 'menyadari' kalau ini akan menjadi malam yang cukup panjang, aku menyalakan laptop. Menuliskan satu atau dua kalimat panjang mungkin bisa membuatku segera tertidur, setidaknya bisa menghadirkan lelah sebagai syarat utama untuk tidur.

Aku ingin menuliskan tentang Zatin, seorang karib yang telah mengisi ruang khusus di hatiku. Beberapa hari ini ingatanku terus tertuju padanya, sejak mengetahui bahwa ia secara 'diam-diam' telah meninggalkan kota yang tak seberapa riuh ini. Emosi sentimentilku mengatakan, dia meninggalkanku. Hiks...


Awal April lalu, pagi-pagi sekali aku mengirimkan pesan singkat untuknya. Sekadar menyapa dan 'check sound'. Rupanya dia sedang berada di bandar udara, menunggu keberangkatan ke sebuah negara di Asia Selatan. Perjalanan yang sudah lama ia rencanakan bersama seseorang.

'Baiklah, aku akan menunggu kepulangannya yang masih lebih dari sepekan lagi untuk mengajaknya minum kopi,' begitu batinku pagi itu, sambil terus ber-sms ria dengannya.

Pagi itu, terbetik keinginan untuk mengajaknya minum kopi, ada sesuatu yang ingin kuceritakan padanya.

Main-main ke Kuburan Belanda di Gampong Blower Banda Aceh


Beberapa hari lalu, kami kembali bertukar pesan lewat SMS. Ia memberitahuku sedang dalam perjalanan pulang ke kampungnya di Nisam, Aceh Utara. Aku yang waktu itu sedang di Aceh Timur, spontan bertanya; kapan balik ke Banda?

Bukan apa-apa, aku ingin mendengar langsung mengenai keseruan perjalanannya baru-baru ini. Beberapa hari sebelumnya, kesibukan dan waktu yang mepet membuatku sengaja menunda untuk menghubunginya. Ehh.... ternyata aku malah kecele lagi.

Tapi hei.... jawabannya membuatku menjadi tak berselera kemudian. "Nggak balik lagiiiii." Jawabannya begitu pasti dan lugas.

"What? Are you sure?"

"Sure sangatlah hehehhe"

Menurutnya Banda Aceh tak menarik lagi. Itulah alasannya 'gulam ransel woe u gampong'.

Sepatu merah dengan atasan coklat dan sepatu coklat dengan atasan merah. Kami punya kesamaan dalam hal sepatu


Kamis malam, dalam perjalanan ke Banda Aceh aku menuliskan sebuah status di Facebook; setengah jiwaku pergi.

Status itu memang kutujukan untuk Zatin.

Ah, tak sopan rasanya menyebutnya hanya 'Zatin' saja, karena in real life dia lebih tua sedikit dariku. Tapi, hanya dengan menyebutkan namanya saja di ceritaku ini, setidaknya menjadi gambaran betapa kami sudah sangat dekat.

Aku jadi mengingat-ngingat kembali, kapan pertama kali kami bertemu, kapan kami pertama kali janjian minum kopi, kapan pertama kali kami saling bertukar cerita, kapan pertama kali kami jalan-jalan berdua, kapan pertama kali kami saling berbagi rahasia. Ternyata, aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Termasuk, kapan pertama kali aku berbagi cerita tentang Zenja kepadanya. Di sebuah warung kopi, selepas isya, usai pertemuan dengan seorang teman yang sudah pindah domisili ke Pulau Jawa.

Gelang persahabatan :-D


Beberapa hari ini - setelah Zatin tak lagi tinggal di kota ini - aku merasa ada yang kurang dengan diriku. Ada sesuatu yang hilang, dan setelah kutilik-tilik sesuatu yang hilang itu adalah Zatin. Seorang sahabat yang kukenal sejak 2014 lalu lewat gathering sebuah komunitas backpacker di Banda Aceh.

Memang, kami masih bisa bercakap-cakap lewat perangkat teknologi. Tetapi, tetap saja tak ada yang mampu menggantikan obrolan face to face. Kenikmatannya, kesakralannya, keseruannya, tak ada yang bisa menandingi sekalipun menggunakan perangkat paling canggih.

Suatu malam usai salat magrib di Masjid Teuku Umar Seutui


Semoga kami bisa segera bertemu, lalu minum kopi bersama, dan bertukar cerita tentang rahasia paling rahasia dari dua orang perempuan; about love and life.[]

Komentar

  1. Kami pun kangen kaliiii sama Kak Zatin...

    BalasHapus
  2. Kangen kaliaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan adik adikku

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja