Langsung ke konten utama

Happy Graduation dan Selamat Berjuang My Beloved Sista

gaya selfie generasi milenials


KUSEMPATKAN untuk menuliskan cerita ini di sela-sela bekerja di akhir pekan. Maklum, aku tergolong 'bukan orang biasa', di mana bekerja di saat orang lain libur, dan tetap bekerja saat orang lain bekerja. :-D #abaikan #justjoke

Yang benar adalah, aku sengaja menuliskan ini untuk memberi semangat kepada adik bungsuku yang saat ini sedang berjuang di step pertama menuju gelar sebagai mahasiswa.

Baiklah, akan kuperkenalkan sedikit tentangnya. Namanya Nurul Muhdiah. Lahir 13 Oktober 1999, saat gejolak konflik di Aceh sedang 'hot-hotnya'. Satu hal yang mengingatkan pada peristiwa kelahirannya adalah Referendum. Bahkan salah satu tetangga kami memberikan nama anaknya 'Referenda' untuk mengenang peristiwa bersejarah itu.

Back to Diah, si bungsu ini baru saja tamat SMA. Kamis, 27 April lalu dia diwisuda dari SMA Unggul Nurul Ulum, Peureulak, Aceh Timur. Btw sejak enam tahun terakhir dia mondok di sana, tapi entah kenapa sifat manjanya sampai hari ini belum hilang juga. Mungkin karena anak bungsu, entahlah.


Pokoknya sebagai kakak yang baik budi aku sering dibikin pusing dengan sifat kekanak-kanakannya ini. Kalau dia sudah menelepon hati jadi dag dig dug, karena pasti ada sesuatu yang diminta. Terakhir, dia minta dibelikan iPhone. Whattttt!!! Mata kakaknya ini langsung mendelik. Iya, kakaknya aja pakenya hape sejuta umat kok :-D

wefie bersama dua hari sebelum wisuda


Sebagai sesama perempuan aku dan Diah punya kedekatan emosional yang luar biasa besar, walaupun kami tinggal berjauhan. Saat aku merantau ke Banda Aceh tahun 2002 silam, umur adik bungsu kami ini baru tiga tahun. Waktu itu dia masih lucu, imut, menggemaskan, mulutnya cerewet. Aku paling suka membawanya ke mana-mana kalau pergi main sore-sore. Karena sudah bisa berdiri, Diah tinggal kuberdirikan saja di kap sepeda motor bebek Astrea Grand yang menjadi tungganganku kala itu.

Saat umurnya 9 tahun ayah kami meninggal dunia. Diah waktu itu masih kelas tiga SD. Inilah yang membuat kami sekeluarga sangat menyayanginya. Beda dengan kami-kami yang sudah besar ini, adek Diah hanya bisa merasakan kasih sayang ayah sebentar saja. Alhasil, dia tidak bisa merasakan momen-momen penting bersama ayah seperti yang dulu pernah aku rasakan.

Jauh-jauh hari sebelum acara wisuda, Diah sudah mengultimatum agar aku hadir ke salah satu momen penting di hidupnya. Sebagai kakak yang baik, sudah pasti aku memenuhi permintaannya itu. Pagi-pagi sekali aku dan mamak sudah berangkat ke Peureulak dari Idi, dengan meminjam sepeda motor Cek Muna. Aku mengebut karena takut terlambat. Soalnya Diah bilang acaranya dimulai pukul sembilan pagi, sedangkan kami baru berangkat dari rumah setengah jam sebelumnya.

Syukurlah kami sampai tepat waktu. Dan begitu kami sampai ternyata sekolah masih sepi jali, hanya ada para santri. Sedangkan orang tua santri dan undangan belum satupun ada yang datang. Mak geleng-geleng kepala.

"Memanglah si Diah ini, nyan ipeugah acara poh 9 ka mulai. Ban trok tanyoe hana ureung lom meusidroe pih," kata Mamak sambil menahan geli.

Mamak aku mamak ke juga, kata Diah ke bestfriendsnya


Selain aku, mak tentu saja orang nomor paling wahid yang dibuat pusing oleh anak bungsunya itu. Bagaimana tidak, kalau bicara di telepon selalu merengek-rengek, kalau bicara tatap muka sering berujung pada tangisan. Makanpun masih minta disuap. Beda kali sama kakaknya yang seumur dia udah jago masak rendang jengkol :-D

Sebagai generasi milenial, foto-foto adalah aktivitas paling menyenangkan buat Diah and the genk, aku juga dink hihihi. Makanya, begitu sampai di pesantren kami foto-foto, mengabadikan momen penting ini, untuk dikenang di waktu-waktu kemudian, jika ada umur panjang. Tapi kalau aku foto-fotonya nggak pakai moncongin bibir hahahah. Saat namanya di podium disebut kami mengucap syukur, si bungsu lulus SMA dengan predikat Jay Jiddan. Artinya buka kamus Arab-Indonesia yakk...

Rangkaian acara hari itu ditutup dengan makan bersama para wali santri dan undangan. Hidangannya sangat enak, lauknya ada rendang daging, sayur bak pisang khas awak Aceh Timur, dan paling spesial adalah tauco kikil dengan kacang tunggak kesukaanku.

Bersama tiga juniornya, kata mereka Uti Diah baek binggitsss... sampai dikasi kado jam tangan segala


Saat ini, saat aku menuliskan ini, Diah sedang mendaftar online untuk masuk ke perguruan tinggi. Dia dibantu oleh guru-gurunya di pesantren. Sudah dua hari ini proses pendaftaran tersendat karena koneksi internet yang terganggu, dan juga jaringan listrik yang on off on off terus. Adik kami ini salah satu calon penerima beasiswa Bidikmisi, doakan lulus yang kangkawan.

Sama kayak kakaknya, ni anak juga nggak suka sama pelajaran eksakta. Dia akhirnya pilih tiga jurusan yaitu Hukum, Politik dan Komunikasi. Tiga-tiganya milih di Unsyiah. Hmm....mungkin dia mau jadi wartawan juga kek kakaknya ini. Ngomong-ngomong kami seperti punya taste yang sama, kalau kuperhatikan dia jago juga bikin puisi dan menulis, tinggal diasah sajah.

Dengan kakak yang kalau nggak merah nggak jadi ari raya :-D


And the last word.... i want to talk something to you my beloved sista

dibutuhkah lebih dari sekadar berlari untuk memahami hidup

pada jejak langkah yang tak pernah berhenti

kita menemukan lebih dari sekadar definisi



Selamat berjuang sista, jalani hidup dengan semangat, selalu nyalakan api di hidupmu, jangan pernah padam, jangan pernah padam, jangan pernah padam.

Ditulis dengan sepenuh cinta dan sayang

Kakak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.