Langsung ke konten utama

Hikayat Kunang Kunang; Kebahagiaan Itu Harus Diciptakan, Dia Tidak Datang Sendiri


"Hai, kau sudah pulang?" seekor kunang kunang mencegatku dari balik pintu kamar. "Kami sudah menunggumu sejak tadi," sambungnya.


Sedetik kemudian seekor kunang kunang yang lain muncul, diikuti sekor yang lainnya. Ada tiga kunang kunang yang sekarang berputar-putar di depanku. Salah satunya adalah Ratu kunang kunang. 

Mereka memamerkan kepakan-kepakan sayap yang indah dan perut mereka yang berkilauan hijau kekuningan. Mereka adalah kunang kunang yang pada malam malam sebelumnya datang bergantian.

"Maaf telah membuat kalian harus menunggu lama. Tadi aku ada urusan di luar. Sebenarnya tadi aku berharap kalian datang lebih awal, ada yang ingin kuceritakan. Tapi, karena kalian tak muncul-muncul juga aku memutuskan pergi sebentar, mencari angin segar," kataku panjang lebar sambil merebahkan badan di kasur. Lelah dan kantuk menggayutiku. Aku melirik jam dinding, hampir setengah dua belas.

"Kami tahu dengan siapa kau berurusan tadi." Salah satu dari mereka membuka suara. Sambil mengulum senyum. Seperti mengetahui sesuatu. Aku melotot.

Kemudian salah satu dari mereka berbisik-bisik kepada yang lainnya. Aku berusaha menguping, tapi tetap tak tahu apa yang mereka bicarakan. Hingga salah satu dari mereka seperti memberi kode.


Lalu sekawanan kunang kunang lain bermunculan di kamarku. Jumlah mereka tak terhitung. Mereka membentuk berbagai formasi indah dan kelihatannya seperti sedang berpesta merayakan sesuatu.

Rasa kantuk yang menghinggapiku menyusut. Mataku berbinar-binar menyaksikan atraksi ini. Kesenangan merayapi urat syarafku. Senyumku mengembang. Aku mengerjap-ngerjap bersuka cita.

"Ini hadiah untukmu. Hiburan atas kerisauan yang sempat kau rasakan tadi," seekor kunang kunang berusaha menjelaskan situasi ini. "Semoga kami selalu bisa memberikan kebahagiaan dan senyuman untukmu wahap penikmat rasa."

"Tidak, tidak, sekarang aku tidak cemas lagi. Aku sedang berbahagia sekarang," jawabku malu-malu.

"Kami tahu, hiburan ini untuk melengkapi kebahagiaanmu malam ini. Hmmm...ngomong-ngomong tadi diam-diam kami mengekori kalian."

"Hah?! Kalian mengikutiku? Untuk apa? Untuk memata-matai aku?"
"No no no...bukan, tentu saja bukan untuk itu. Kami hanya ingin memastikan dengan siapa kau membersamai waktu."

"Lalu?"

"Kami merasa kau tidak biasa melakukan ini. Tak pernah kulihat kau keluar rumah sekadar hanya untuk mencari angin segar selarut itu."

"Hm.... Kalian pandai sekali mengorek-ngorek.... Eh, tunggu dulu, kalian bilang 'tak pernah kulihat...' bukankah kalian baru beberapa malam saja datang menemuiku? Bagaimana kalian tahu malam-malam sebelumnya yang aku lalui?"

"Belum saatnya kau mengetahui itu. Jika waktunya tiba akan kami ceritakan semuanya."

"Baiklah. Lalu apa yang kalian lakukan setelah mengetahui dengan siapa aku mencari angin segar?"

"Setelah mengetahui dengan siapa kau menghabiskan waktu lalu kami pulang dan merencanakan semua ini."

"Terimakasih atas kejutannya, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarga kunang kunang."

"Kami sengaja datang untuk menjadi temanmu, agar kau bisa berbagai dengan kami. Karena..."

"Karena apa?"

"Kehadirannya lagi-lagi bukan untuk diceritakan. Benar, bukan?"

"Tapi untuk dinikmati..." aku menjawab lugas.

Lalu kami tertawa bersama. Ya, kunang kunang itu benar. Banyak hal yang tak bisa diceritakan, bahkan kepada diri kita sendiri. Terlalu banyak rahasia.

Tapi entah mengapa tiba-tiba kesenduan kembali menghinggapiku. Sebulir bening mengapung di pelupuk mataku. 

"Kebahagiaan itu harus diciptakan, dia tidak datang sendiri. Untuk saat ini, nikmati kebahagiaan ini, meski hadirnya hanya sebentar... Kau telah menciptakan kebahagiaanmu sendiri." Ratu kunang kunang yang sebelumnya hanya diam mengampiriku. Ia berusaha menyeka air mataku dengan tangan mungilnya. 

Aku membentangkan tangan. Hanya sekali lompatan Ratu kunang kunang sudah ada di telapak tanganku. Aku memandanginya dengan takjub. "Tidak, bukan aku, tapi kalian yang sudah menciptakan kebahagiaan ini. Melalui dia bukan?"

Ratu kunang kunang tersenyum. Menyejukkan. "Sekarang tidurlah.... Semua yang kalian bicarakan tadi akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Tidurlah dengan nyenyak. Lupakan semua takdir belasan tahun. Kita akan menciptakan takdir berbeda untuk hari-hari selanjutnya."

"Terimakasih."

Dan aku tidur dengan cerita-cerita yang kuciptakan sendiri, sebagai dongeng pengantar tidur.[]

Komentar

  1. Met bobok kakak, semoga ditemani kunang-kunang dalam mimpinya. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.