Enter your keyword

Bacalah tanpa harus menerima begitu saja. Berfikirlah tanpa harus bersikap sombong. Yakinlah tanpa harus bersikap fanatik. Dan, jika anda memiliki pendapat, kuasai dunia dengan kata-kata.

Selasa, 18 April 2017

Hikayat Kunang Kunang; Wujud Rindu


Aku baru saja akan tidur ketika seekor kunang kunang mendekatiku. Entah darimana munculnya hewan mungil itu. Sepasang sayapnya mengepak-ngepak, seperti mencari landasan yang tepat untuk mendarat.

Mataku yang mulai layuh kembali membeliak. Sesaat aku hanya memandanginya dalam diam, sampai kunang kunang itu mengeluarkan suara. Membuatku terkesiap. Hampir saja kunang kunang itu tergelincir saat tubuhku bergoyang. "Aku hanya ingin berteman denganmu," katanya kemudian. 

Dahiku mengernyit. 

"Siapa kamu? Kau pasti bukan kunang kunang biasa, kau bisa bicara layaknya manusia." 

"Apa bedanya manusia dan kunang kunang, kita sama sama diciptakan Tuhan sebagai makhluk, sama-sama memiliki anggota tubuh, memiliki hati untuk merasakan perasaan," jawabnya penuh filosofis. 


"Baru kali ini ada makhluk selain manusia berbicara tentang perasaan padaku, di malam selarut ini pula. Kau tahu apa yang kurasakan sekarang?" 

"Kau ingin katakan kalau kau ingin tidur bukan? Kau mengantuk, tapi bukan itu sebenarnya yang kau rasakan." 

Aku tergelak. Sekadar ingin menunjukkan bahwa kunang kunang itu telah begitu sok tahunya. Tapi dia benar. Ada rasa lebih dari sekadar mengantuk yang kurasakan saat ini. 

"Kau pernah melihat seperti apa wujudnya rindu?" tanya kunang kunang itu kemudian. Dia seolah sedang mengujiku. 

"Rindu itu tak berbentuk, hanya bisa dirasakan, lewat helaan nafas, lewat degup jantung, lewat bahasa panca indera." jawabku sefilosofis mungkin. Berharap kunang kunang itu terpesona dengan jawabanku.

"Tak sepenuhnya salah," cepat sekali kunang kunang itu menangkis ucapanku. "Rindu itu seperti aku.... Tepatnya seperti cahaya yang ada di bawah perutku. Dia hanya sepercik, tapi itulah inti dari sebuah eksistensi. Jika cahaya itu tak ada siapa yang akan mengingat ada makhluk seperti aku di muka bumi ini. "

Aku termangu. Sama sekali tak paham pada apa yang dikatakannya. 

"Begini, begini, dalam dirimu ada rindu yang menjadi turbin, membuatmu bergerak, berjalan untuk menemukan sesuatu yang kau cari, dengannya kau mendapatkan eksistensi diri. Rindu itu pula yang tanpa sadar telah memerintahkan hatimu untuk menyebut namaku kemarin malam: KUNANG KUNANG."[]


Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email