Langsung ke konten utama

Saddam; Sebuah Teka-Teki Baru

Saddam berlari menyusuri jalan yang menanjak di Mata Ie, Aceh Besar.


SADDAM. Mengeja namanya mengingatkanku pada seorang petinggi negeri di Irak yang berakhir di tiang gantungan. Perkenalan dengan teman baruku ini terbilang unik. Ngomong-ngomong hari ini satu minggu usia pertemanan kami. Usia pertemanan yang sangat muda.

Berawal dari sebuah gambar yang di-share Saddam di sebuah grup. Ia menawarkan mesin cuci second dengan harga yang sangat miring.  Terbersit rasa kasihan, kuberanikan diri menyapanya lewat jalur pribadi. Mungkin orang ini sedang butuh uang, begitu pikirku saat itu.

“Merk apa mesinnya?” tanyaku lewat pesan WhattsApp.

“Ini dengan siapa?”

“Ihan. Di grup...” aku menyebutkan nama grup yang kami ikuti.

“Oh iya ya ya. Lagi nyari mesin cuci ya?”

“Enggak juga sih. Itu berapa lama sudah dipakai?”

“Kurang tahu juga. Ni dikirim yang jelasnya yaaa.”


Lalu... Saddam mengirimkan sebuah gambar. Beberapa detik kemudian gambar itu berhasil terunduh. Seketika membuatku menyeringai. Aku jadi korban jebakan Batman, eh Saddam! Aku terkekeh sendiri, sampai-sampai teman di sebelahku saat itu penasaran dan ingin tahu dengan siapa aku chatting.

Gambar mesin cuci yang ia kirim berbeda dengan gambar yang sebelumnya dikirim. Yang ini memperlihatkan seorang anak kecil yang sedang mengangkat sebuah mesin cuci berukuran mini.  Gambar yang ternyata cuma foto layaknya meme yang bertebaran di dunia maya yang sifatnya semata-mata hanya untuk menghibur, dan mengocok perut.

Saddam! Saddam!..... Kalau ada orangnya saat itu sudah pasti kucubit-cubit sampai dia mengaduh dan meringis.

Gambar mesin cuci yang dikirim Saddam. :-D


Satu minggu usia pertemanan, hanya dua hal yang kutahu tentang dia; kegemarannya berlari dan bersepeda.

Tentang bersepeda ini, ada dua cerita menarik yang sempat kutangkap dari pembicaraan via pesan WhattsApp yang sepotong-sepotong. Pertama ia pernah gowes dari Kuala Lumpur ke Penang sejauh 365 kilometer pada 2016 lalu. Kedua, ia pernah kemalaman seorang diri di jalan sepulang bersepeda dari Geurutee, Aceh Jaya. Sampai-sampai ketika itu ia meminta bantuan seorang bapak dari Leupung untuk mengantarnya hingga Ajun, Banda Aceh. Yang kedua ini ia ceritakan saat kami lari (baca: jalan) bersama pagi Sabtu lalu.

Ini juga yang membuat pertemanan ini menjadi beda dengan yang lainnya. Selama ini jika ada janji temu pertama dengan orang-orang (kenalan) baru, pilihannya selalu jatuh pada warung kopi. Tapi kali ini kami memilih jalur sepanjang Punie – Mata Ie. Ecek-eceknya kopi darat sambil jogging, tapi karena akunya nggak kuat lari ya sudah, kami jalan santai sambil mengobrol. Sambil sesekali berhenti di spot yang cantik untuk foto-foto. Setelah puas berjalan kami berenang di kolam pemandian Mata Ie. Yang berenang betulan dia. Kalau aku cuma belajar :-D

Sebenarnya, ada satu pertanyaan yang sudah kurencanakan akan kutanyakan pada Saddam saat kami ketemu, soal gowes 365 Km itu. Tapi pas ketemu malah lupa sama sekali. Aku baru teringat saat menuliskan catatan ini. *tepokjidat

Saddam hanyalah salah satu dari sekian teman yang awalnya kukenal dari dunia tak kasat mata. Lalu pertemanan berlanjut ke dunia yang sebenarnya.  Di mana aku bisa menatap bola matanya saat berbicara, dan bisa melihat bentuk hidungnya tanpa efek kamera.

Buatku menemukan seorang teman adalah menemukan setitik kekayaan baru.  Ya, kekayaan untuk memahami dan menerima perbedaan. Seperti Saddam yang ‘sanguin’ dan aku yang ‘melankoli’. Perbedaan ini pula yang membuat janji temu yang sudah kami atur beberapa kali berakhir dengan emoticon-emoticon lucu di kotak pesan.

Perbedaan yang membuatku harus menunggu satu jam dari waktu yang sudah kami atur, karena tiba-tiba dia sakit perut. Perbedaan yang membuatku mendapatkan jawaban ‘cancel’ di kotak pesan karena dia tiba-tiba sakit badan. Sanguin yang suka 'in time' dan melankoli yang demen 'on time'. 

Buatku, mendapatkan seorang teman layaknya menemukan teka-teki baru. Belajar beradaptasi agar duniaku dengan dunianya bisa ‘cocok’.  Sehingga ada warna baru dalam pertemanan tersebut. 

Seperti sebuah kata bijak; teman sejati tidak hanya menerima siapa kamu, tetapi juga membantumu untuk menjadi dirimu yang seharusnya. Semoga aku bisa 'menemukan' siapa diriku yang seharusnya melalui pertemanan baru ini. Semoga.[]

-->

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.