Langsung ke konten utama

Hikayat Kunang Kunang; Wujud Rindu


Aku baru saja akan tidur ketika seekor kunang kunang mendekatiku. Entah darimana munculnya hewan mungil itu. Sepasang sayapnya mengepak-ngepak, seperti mencari landasan yang tepat untuk mendarat.

Mataku yang mulai layuh kembali membeliak. Sesaat aku hanya memandanginya dalam diam, sampai kunang kunang itu mengeluarkan suara. Membuatku terkesiap. Hampir saja kunang kunang itu tergelincir saat tubuhku bergoyang. "Aku hanya ingin berteman denganmu," katanya kemudian. 

Dahiku mengernyit. 

"Siapa kamu? Kau pasti bukan kunang kunang biasa, kau bisa bicara layaknya manusia." 

"Apa bedanya manusia dan kunang kunang, kita sama sama diciptakan Tuhan sebagai makhluk, sama-sama memiliki anggota tubuh, memiliki hati untuk merasakan perasaan," jawabnya penuh filosofis. 


"Baru kali ini ada makhluk selain manusia berbicara tentang perasaan padaku, di malam selarut ini pula. Kau tahu apa yang kurasakan sekarang?" 

"Kau ingin katakan kalau kau ingin tidur bukan? Kau mengantuk, tapi bukan itu sebenarnya yang kau rasakan." 

Aku tergelak. Sekadar ingin menunjukkan bahwa kunang kunang itu telah begitu sok tahunya. Tapi dia benar. Ada rasa lebih dari sekadar mengantuk yang kurasakan saat ini. 

"Kau pernah melihat seperti apa wujudnya rindu?" tanya kunang kunang itu kemudian. Dia seolah sedang mengujiku. 

"Rindu itu tak berbentuk, hanya bisa dirasakan, lewat helaan nafas, lewat degup jantung, lewat bahasa panca indera." jawabku sefilosofis mungkin. Berharap kunang kunang itu terpesona dengan jawabanku.

"Tak sepenuhnya salah," cepat sekali kunang kunang itu menangkis ucapanku. "Rindu itu seperti aku.... Tepatnya seperti cahaya yang ada di bawah perutku. Dia hanya sepercik, tapi itulah inti dari sebuah eksistensi. Jika cahaya itu tak ada siapa yang akan mengingat ada makhluk seperti aku di muka bumi ini. "

Aku termangu. Sama sekali tak paham pada apa yang dikatakannya. 

"Begini, begini, dalam dirimu ada rindu yang menjadi turbin, membuatmu bergerak, berjalan untuk menemukan sesuatu yang kau cari, dengannya kau mendapatkan eksistensi diri. Rindu itu pula yang tanpa sadar telah memerintahkan hatimu untuk menyebut namaku kemarin malam: KUNANG KUNANG."[]


Baca juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…