Langsung ke konten utama

Hikayat Kunang Kunang; Nama yang Dibisikkan Hati

ilustrasi


SATU dari berjuta-juta lusin bintang di atas sana menjatuhkan secarik kertas, tepat di hadapanku. 


Aku menjulurkan tangan, meraih kertas berwarna kelabu. Ada gambar kunang kunang dengan kilau cahaya di perutnya. Juga setangkai kalimat bertuliskan; akan kuceritakan sebuah dongeng, tentang kunang kunang.

Aku menengadah, menatap ke ketinggian. Bintang-bintang melambai. Menjatuhkan secarik kertas lainnya.

Kertas lainnya kembali berjatuhan, lagi, lagi, hingga banyak sekali kertas. Aku mengambilnya satu persatu. Semua isinya sama: gambar kunang kunang dengan cahaya di perutnya. 


"Sebutkan satu nama di hatimu, maka kunang kunang ini akan hidup," sebuah suara tiba-tiba muncul di telingaku. 

Aku mengeja sebuah nama. Lalu ribuan kunang kunang itu menjadi hidup. Beterbangan mengelilingi diriku. Aku terbuai pada gerakan binatang mungil itu. Tanganku ikut mengepak, kakiku berdentam dentam, kepalaku meliuk-liuk, aku menari bersama mereka.

Kemudian seekor ratu kunang kunang mendekatiku. Ada mahkota bertelekan batu permata di kepalanya. Ia mengangsurkan wajahnya hingga kami menjadi sangat dekat. 


"Aku tahu apa yang ada di hatimu," bisiknya. 


"Bagaimana kunang kunang ini bisa hidup saat aku menyebutkan namanya. Maksudku, nama itu hanya milik orang asing, aku bahkan tidak mengenalnya..." 


"Itu nama yang dipilihkan oleh hatimu. Sesekali dalam hidupmu, tak ada salahnya melakukan 'kesalahan'. " 


"Kesalahan apa maksudmu?" 


"Jika menurutmu jatuh cinta pada si pemilik nama yang kau sebutkan tadi adalah kesalahan, maka kau sudah melakukannya." 


"Aku? Jatuh cinta padanya?"

Si ratu kunang kunang hanya mengangguk. Ia tersenyum misterius sambil mengibas-ngibaskan sayapnya. 


"Bagaimana mungkin?" tanyaku bingung.


"Apakah yang selama ini kau jalani sebuah kemungkinan?" Ratu kunang kunang malah bertanya balik.


Belum sempat aku bertanya lagi ratu kunang kunang itu sudah pergi. Ia membawa serta seluruh pasukannya. Kunang kunang itu sudah lenyap. Hilang dalam pekat malam. Kembali kepada bintang.

Tinggallah kertas-kertas berserakan di sekelilingku. Aku mengambil salah satunya, gambar kunang kunang tadi berganti dengan sebuah nama. Nama yang tadi kusebutkan tanpa sengaja di hatiku. KUNANG KUNANG.[] 

Komentar

  1. Balasan
    1. jangan sampai matanya yang berkunang kunang karena anemia :-D

      Hapus
  2. Pengen bisa nulis seperti ini kak, tapi imajinasiku sulit untuk menuturkannya di dalam tulisan. Membaca tulisan ini, seperti aku berada di dunia dongeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh thanks Yelli, ini memang ditulis sebagai dongeng sebelum tidur

      Hapus
  3. Kak, sajakmu selalu mampu menjejak di ingatanku.
    Love so much! :*

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n