Langsung ke konten utama

Hikayat Kunang Kunang; Menikmati Misteri


ilustrasi


"Hari yang menakjubkan, hah?" Kehadiran kunang kunang yang tiba-tiba lagi-lagi mengagetkanku. Pertanyaannya tanpa basa-basi. Teras menodong dan menohok.

"Menakjubkan apanya?" Aku menggerutu. Terusik dengan kehadirannya. Aku berusaha mengabaikannya dengan menarik selimut. Mataku sudah layuh.

Kunang kunang itu malah berputar-putar di sekitar pelipisku. Kilau cahaya di bawah perutnya membuatku silau.

"Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu ke sini. Atau.... mungkin kamu adalah robot kunang kunang yang sengaja dikirim untuk memata-matai aku. Jika memang begitu sebaiknya kau pergi saja, jangan ganggu istirahatku."

"Hei... kau bahkan belum tidur. Lalu kau tuduh aku mengganggu istirahatmu? Kau keterlaluan." Mata kunang kunang terlihat mengkilat. Mungkin dia tersinggung. Tapi mengapa aku harus peduli.


Ini malam ketiga kunang kunang hadir ke kamarku, tetap di saat aku sedang bersiap-siap untuk tidur. Tapi mereka bukanlah kunang kunang yang sama. Anehnya yang mereka bicarakan seolah menjurus pada bahasan yang sama. Membuatku bingung. 

"Jangan kau limpahkan kekesalanmu padaku. Jika gemuruh di hatimu itu bersebab oleh dia, maka sebaiknya kau tumpahkan padanya. It's not fair for me..." kata kunang kunang setengah berteriak.

"Kau kunang kunang modern rupanya, bisa bahasa Inggris pula."

Baca: Hikayat Kunang Kunang; Nama yang Dibisikkan Hati

"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tahu aku sedang membicarakan dirimu yang sedang gamang. Apa yang kau pikirkan tentang dia, hah?"

"Dia? Dia siapa?" mungkin aku terlihat bloon sekali di depan kunang kunang itu.

"Hahaha... kau pandai berkelit juga. Dia yang kau harapkan hadir di mimpimu sebentar lagi."

Aku kembali melongos. Kunang kunang ini makin tak terkendali. Racauannya tak karuan.

"Aku ingin tidur nyenyak. Mengapa harus mengharapkan seseorang hadir di mimpiku?"

Kunang kunang itu merapatkan jaraknya denganku. Ia hinggap di hidungku. Gerakan kakinya membuatku geli dan bersin-bersin. Dan membuatnya tergelincir. Untungnya ia cukup sigap mengepakkan sayapnya dan terbang. Berputar-putar lalu kembali mendarat di pucuk hidungku.

Cahaya di bawa perutnya ia padamkan. "Tidurlah....tidurlah wahai penikmat rasa," bisiknya lembut.

Aku menuruti perintahnya. Bukan, tepatnya menuruti perintah mataku yang sudah tak kuasa menahan kantuk. Sementara kunang kunang itu kubiarkan bertengger di hidungku. Beberapa menit kemudian aku kembali membuka mata. Begitu berulang-ulang hingga kunang-kunang itu menyalakan kembali lampu di bawah perutnya. Wajahku seketika berbinar.

"Kenapa kau malah tidak bisa memejamkan mata?" tanyanya.

Baca: Hikayat Kunang Kunang; Wujud Rindu

Matanya menatap lurus, tapi penuh kelembutan. Aku bisa merasakan kalau kunang kunang itu peduli padaku.

"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin melihatmu lebih lama di sini kunang kunang. Mendapati kau di sini rasanya aku lebih bahagia dan senang," jawabku sekenanya.

Kunang kunang itu tersenyum. "Bukan, bukan karena aku, tapi karena dia. Kau bahagia karena pertanyaan-pertanyaan nakalku tentang dia bukan? Sekarang tidurlah, jadikan bunga-bunga perasaanmu seperti lampu-lampu yang ada di perut kunang kunang."

"Aku tidak mengerti maksudmu...."

"Tidak semua hal harus dijelaskan secara gamblang. Aku tahu kau mengerti apa yang kumaksudkan, dan aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Adakalanya menikmati sesuatu yang misteri itu jauh lebih mendebarkan, sekarang, nikmati debarmu, nikmati setiap detik yang memunculkan degub karena memikirkanya..."

Kunang kunang itu kemudian melesat. Hilang di kegelapan.[]
-->

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.