Langsung ke konten utama

Saus Kehidupan



BEBERAPA hari lalu bersama seorang teman, Astina, saya mendatangi kafe baru di Jalan Ali Hasyimi Banda Aceh. Namanya UK Lounge. Kafe ini baru dibuka beberapa hari sebelumnya. Saya sendiri baru mengetahui keberadaannya setelah direkomendasikan seorang teman. Padahal saban hari saya melewati jalur ini, karena kantor tempat saya bekerja berada satu jalur.

Tapi, ya begitulah! Kehadiran kafe atau kedai kopi baru hal yang lumrah di Banda Aceh. Sesuai julukannya, Negeri Seribu Warung Kopi, di sini kedai kopi tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak heran jika kehadiran satu warung kopi membuat kedai kopi lain mati suri.

Saya yang baru pertama kali datang ke kafe ini langsung menyukai suasananya yang didesain dengan konsep bernuansa British. Sama halnya dengan saya, Tina juga menyukai dekorasi kafe ini. Meski hanya terdiri dari satu pintu toko, kafe ini terasa nyaman dan lega karena memanfaatkan ruang kosong di bilah samping dan teras toko.

Kursi-kursi ditata apik. Antara satu meja dengan meja lainnya tidak saling berdekatan, sehingga mempunyai ruang yang cukup bagi pengunjung untuk hak privasi mereka. Perpaduan warna bata dan hitam juga menjadi daya tarik tersendiri. Saya dan Tina, yang memang terlahir sebagai generasi milenial memanfaatkan kondisi ini dengan baik. Bermodalkan kamera ponsel kami berfoto di setiap sudut yang menurut kami menarik mata.

Tina yang datang lebih dulu memilih tempat duduk di bilah samping. Posisi yang cukup nyaman untuk menyesap sajian chocolate mousse yang menjadi salah satu menu istimewa di UK Lounge. Dari sini kami bebas menyaksikan kesibukan di jalan protokol.

Tak lama setelah kami duduk hadir pelayan membawakan daftar menu. Seorang anak muda dengan setelan celana dan kemeja hitam. Senyumnya ramah. Hanya saja saat kami menanyakan beberapa menu di daftar, dia belum menguasainya. Wajar saja mengingat usia kafe ini baru terbilang hari.

Saya dan Tina kompak memesan chocolate mousse. Saya turut memesan seporsi nasi goreng regular untuk mengganjal perut. Berselang menit kemudian chocolate mousse yang disajikan dalam gelas jenjang terhidang di meja kami. Beberapa saat kemudian nasi goreng reguler pesanan saya hadir.

Nasi goreng ini ditata apik dalam piring datar berwarna hitam pekat. Di atas tumpukan nasinya ditangkupkan telur mata sapi. Ada dua iris timun, seiris tomat dan selada, serta sepotong makanan yang saya tidak ketahui namanya. Hanya nasi goreng biasa. Tetapi yang membuat saya tertarik adalah tambahan saus tomat yang menghiasi sebagian piring. Menambah kesan ramai dan semarak. Dan tentu saja menggoda selera makan saya untuk segera mencicipinya.

Sembari menikmati suapan demi suapan nasi goreng tersebut, pikiran saya terus berkelana. Membayangkan, ada kalanya kehadiran seseorang dalam kehidupan kita seperti tambahan saus tomat dalam sepiring nasi goreng ini.

Kehadirannya mungkin tidak akan mengubah banyak hal. Tapi setidaknya telah membuat hidup kita lebih bercitarasa, kaya warna, lebih semarak, dan kita lebih bersemangat melewati hari-hari yang bisa saja tidak sesuai harapan.

Hal ini mengingatkan saya pada Saddam, teman baru saya. Usia pertemanan kami baru lewat seminggu, dengan proses perkenalan yang lucu. Setelah beberapa kali gagal ketemuan, Sabtu lalu kami bisa ketemuan juga sambil lari pagi.


"Besok pagi, yuk. Ke Mata Ie sambil lari," ajaknya melalui pesan WhattsApp.

"Jam berapa? Tapi Ihan larinya nggak bisa kencang," kata saya.

"Nggak apa-apa. Ntar barengan kita ke atas."

"Atas mana?"

"Ke hillside, terus baliknya ke Mata Ie deh nyebur."

"Etapi Ihan nggak pernah lari mendaki bukit lho."

"Nggap apa-apa, ntar pelan-pelan. Atau foto-foto deh jadi fotografer. Cameraman gitu."

Singkatnya pagi itu kami ketemuan untuk yang pertama kalinya. Kami jalan santai sepanjang jalur Mata Ie hingga ke atas bukit. Sampai di puncak kami lantas foto-foto dengan riang, setelah sebelumnya saya merekam video Saddam saat sedang lari.

Setelah itu kami turun sambil tetap berjalan kaki. Kemudian singgah di pemandian untuk berenang. Saat saya katakan kalau saya tidak pandai berenang, Saddam sempat meledek. Katanya; jadi apa yang bisa, Ihan? Tapi kemudian dia menjawab sendiri pertanyaannya; kita belajar, yuk!

Pagi itu Saddam persis seperti guru olahraga yang tengah membimbing salah satu muridnya. Ia memberi tahu saya mengenai teknik-teknik dasar berenang. Melihat saya tak kunjung masuk ke kolam, lagi-lagi ia menyemangati saya. Hari itu kami menghabiskan waktu yang lumayan lama di kolam. 

Bermodalkan 'kunci' yang sudah diberikan Saddam kemarin, esok paginya saya beranikan ke kolam seorang diri. Tapi karena debit airnya lumayan tinggi, saya tak berani berenang terlalu jauh tanpa ada yang mengawasi. Saya mempraktekkan ulang apa yang diinstruksikan Saddam kemarin.

Siangnya lewat pesan WhattsApp Saddam mengirimkan sepotong pesan. "Nggak bisa harus berusaha. Anak bayi saja berusaha bisa merangkak. Berusaha bisa jalan. Walaupun jatuh-jatuh. Berusaha bisa berenang walaupun terminum air," tulisnya.

Terimakasih, Saddam. 

Saya juga punya kesan tersendiri pada sahabat saya yang lainnya, Fungky. Kami sudah berteman beberapa tahun dan belum pernah sekalipun bertemu karena keterbatasan jarak. Tapi cukup intens berkomunikasi.

Belum lama ini saya menceritakan kepadanya sebuah rahasia hidup yang telah belasan tahun saya simpan. Awalnya saya agak cemas terhadap reaksinya setelah mengetahui rahasia tersebut, tapi ternyata Kiki-panggilan dekat untuknya- cukup bijaksana dan dewasa. Ia memberi support dan menyemangati agar saya berhasil melaluinya dengan baik. Kami sering bertukar cerita, tidak ada sedikitpun komentar bernada negatif, apalagi sindiran dan celaan. Saya merasa tak salah orang berbagi rahasia.

Kehadiran Saddam, Kiki, dan Astina teman santai saya sore itu, juga teman-teman lainnya ibarat polesan saus di sepiring nasi goreng. Kehadiran mereka membuat saya bersemangat menjalani hidup yang pelik, membuat saya bersemangat mencoba hal-hal baru, memberi warna baru dalam nafas keseharian saya, mengajarkan arti perbedaan, membuat hidup lebih ramai dan riuh. Kehadiran mereka memberikan sensasi di hidup saya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.