Langsung ke konten utama

"Mengapa Harus Menikah"

dewasa ini banyak sekali orang yang tidak menikah alias melajang, laki-laki maupun perempuan terutama di kota-kota besar. alasannya pun beragam, mulai dari membenci lembaga perkawinan hingga karena tidak ingin mempunyai tanggung jawab ekstra, mengurus diri sendiri saja masih sulit gimana mau ngurus istri, anak, keluarga. apalagi biaya hidup yang sangat tinggi, mau dikasih makan apa nanti anak istrinya, tinggal dimana, dan seabrek alasan lainnya yang menjadikan mereka memilih jomblo terus. yang membenci lembaga perkawinan lain lagi ceritanya, mereka ini biasanya berasal dari keluarga broken home dimana sering sekali melihat adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki sehingga beranggapan bahwa perkawinan tidak lebih sebagai pengekang gerak perempuan, aktivitasnya tidak lebih dari seputar kasur, sumur, dapur. selain itu ada juga orang yang terlalu perfeksionis, sehingga ia tidak menikah karena tidak menemui orang yang sempurna menurutnya. takut nanti tidak bisa masaklah, tidak bisa mengurus rumahlah, tidak sayang pada suami, atau tidak pandai merawat diri. sehingga ia memutuskan tetap sendiri atau memilih alternatif lain, pacaran! tapi jelas-jelas ini bukan solusi yang baik. sebegitu ribetkah perkawinan itu? sehingga banyak orang yang memilih hidup sendiri? kalau ingin punya anak tinggal adopsi saja dan jadilah single parent. ''Pintu-pintu langit akan dibuka dengan rahmat-Nya dalam empat situasi, yaitu saat turun hujan, saat seorang anak melihat wajah orang tuanya dengan kasih, ketika pintu Ka'bah dibuka, dan saat pernikahan,'' begitulah penjelasan Rasulullah SAW, jadi jangan beranggapan dengan menikah akan menambah beban hidup karena harus memberi makan anak dan istri, tapi sebaliknya justru dengan menikahlah pintu rejeki akan bertambah. selain itu dengan menikah berarti juga berbagi kasih sayang dan berbagi cinta kepada orang lain yang kelak menjadi pasangan hidup kita. dalam keluargalah sebenarnya seseorang akan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, bagi seorang laki-laki disinilah ia akan menjadi qawwam bagi perempuan, pengertian qawwam/pemimpin disini bukanlah pengekangan maupun bentuk otoriter kepada perempuan. seorang pemimpin seyogyanya menjadi pengayom, mampu membimbing dan mengajak keluarganya pada kebaikan. jadi, bila tidak pernah menikah bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri kita sebgai anggota masyarakat dan tidak mungkin tigas dan fungsi kita akan berjalan sebagaimana mestinya.selain itu, dengan menikah juga berarti melakukan penyelamatan diri. mengapa penyelamatan diri? karena seperti sabda Rasul ''Wahai para pemuda, jika salah seorang dari kalian mampu menikah, maka lakukanlah, sebab menikah itu baik bagi mata kalian dan melindungi yang paling pribadi (farj).'' (HR Bukhari dan Muslim). makna hadist ini sangat dalam sekali, karena seseorang yang telah dewasa ada kebutuhan lain selain makan dan minum, selain sandang dan pangan, ada yang lebih urgen yang harus disikapi dengan serius, yaitu kebutuhan seksual.mengapa dewasa ini tindakan pelecehan seksual sangat serign terjadi, penyimpangan seksual layaknya jamur dimusim hujan, kasus perkosaan sudah menjadi sajian hangat media massa, bapak memperkosa anak, paman mencabuli keponakan, pemuda yang nekat menggauli nenek tua, penyebabnya tidak lain adalah karena libido seksual yang sangat tinggi dan tidak mampu dibendung sehingga tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga merugikan orang lain. banyak orang yang tidak mau menikah dan membenarkan praktik prostitusi, padahal ini adalah sumber dari segala kerusakan dan juga penyakit. sehingga tidk sedikit dibangun tempat-tempat lokalisasi, belum lagi yg terselubung yang jumlahnya tidak sedikit. dengan menikah kebutuhan seksual tadi bisa tersalurkan dengan baik, selain itu hati juga menjadi tenang karena sudah punya tambatan hati, punya tempat berkeluh kesah dari himpitan hidup, sehingga tidak stres dan tidak merasakan beban hidup sendiri. bagi siapa saja yang sudah memiliki kecukupan dan umur sudah cukup, memang tidak ada alasan untuk menunda-nunda pernikahan, selain memang kita tidak bisa melepas diri dari yang namanya fitrah, menikah merupakan sarana ibadah kepada Allah dan juga sebagai pembuktian kalau kita ini adalah umat Muhammad yang senantiasa menjalankan sunnahnya. tetapi apabila masih juga belum mampu, menahan diri dan berpuasa adalah lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari hal-hal yang merugikan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…