Langsung ke konten utama

"Selamat ulang tahun yang terlambat (dari kakak besarku...)"

Tapi, walau bagaimana juga, mengucapkan selamat ulang tahun kepada sorang teman adalah baik. Kepada seorang adik tentu lebih baik lagi. Kepada seorang adik kecil? Wah, itu sangatlah baik. Bukankah ia masih kecil dan butuh banyak perhatian?
Ah tentu bukan perhatian, ia butuh banyak hadiah dan coklat tentunya! Haha, standar ulang tahun banget memang, Undangan dan pemberitahuan bahwa seseorang ulang tahun, ada pesta kecil, tiup lilin, nyanyi selamat ulang tahun kami ucapkan....., makan alakadarnya terus banjir hadiah deh........ Besok, kehidupan kembali normal pada usia yang baru! Itu saja. Tahun lalu begitu dan tahun depanpun akan begitu. Yang aku tahu begitu, mungkin orang lain tidak, entahlah.
Pada hari ulang tahun, berbahagia adalah baik, bergembira tentu. Tetapi berdoa kepada Tuhan yang di langit agar sisa hidup diberi keberkahan dan jalan yang lurus adalah lebih utama dari semua yang disebutkan terdahulu. Bukankah orang-orang bilang bahwa Tuhan itu baik? Biasanya memang begitu, Dia cukup sering mengabulkan do'a do'a yang dipanjatkan kepadaNya. Beberapa do'a yang kupanjatkan ada yang sudah dikabulkannya, sebagian belum. KataNya sih sebentar lagi..... He he he. Kuharap salah satu yang akan dikabulkanNya adalah yang kutulis dibagian bawah tulisan ini. Mengapa aku bisa yakin? Tidak tahu juga. Tapi bukankah Tuhan itu bagaimana prasangka ummatNya saja dan aku selalu berprasangka baik kepadaNya. Jadi, aku bolehlah masuk dibarisan ummat-ummat yang ge-er itu. Itu kata-kata bercanda saja dari seorang umat yang lemah, yang ingin menghibur seorang adiknya yang sedang berulang tahun. Karena tidak ada hal lain yang dapat dilakukannya kecuali menulis kata-kata yang menggelitik dan sedikit nyerempat dunia ghaib yang amat sakral. Tidak mungkin ia mengirimkan kado selamat ulang tahun yang dibungkus dengan kertas pembungkus bergambar bunga. Atau memberikan hadiah yang tidak tidak mungkin dibungkus, seperti sebuah Ruko, misalnya. Ha ha ha tidak mungkin. Bukan tidak mau, tetapi tidak mampu! Lagian rugi. Rugi? lha iya lah khan mahal. Satu ruko minimal 150 juta-an. nah mahal khan? Bukan.... bukan itu. kalau dikasih hadiah ultah yang semahal itu, nanti sang adik tidak mau kuliah lagi. Khan rugi jadinya. Kok ngelantur sih? Jadi, yah hanya do'a saja yang ia panjatkan. Tetapi do'a yang tulus dan penuh perasaan semoga sang adik menjadi orang yang berguna, terutama bagi dirinya sendiri. Jadilah sang adik ini seorang lembut sebagaimana fithrahnya sebagai seorang muslimah. Jadikanlah hatinya bisa menangis dikala sedih dan berduka, dan jadikanlah pula hatinya bisa tersenyum saat ada sedikit kebahagiaan yang diperolehnya. Jadikanlah matanya mata yang sejuk, yang bisa berair dikala sedih dan dapat pula berbinar saat gembira. Jadikanlah tangannya senantiasa berada diatas sebagai tanda kemurahannya. Dan jadikanlah senyum sebagai satu-satunya hal yang bisa dilakukan bibirnya tanpa perduli dikala apapun itu..... ah aku jadi malu padamu ya Allah, begitu banyak yang kumintakan padaMu. Tapi tak apa-apalah, untuk adik kecilku ini mungkin aku akan minta lebih banyak lagi. aku meminta lagi ya Allah, berilah adik kecilku ini cinta yang banyak, agar dia bisa berbagi kepada sesamanya, mungkin juga sedikit kepadaku nanti. Berilah ia tempat yang baik dan langit yang teduh. Berilah ia perlindungan, hingga dimanapun ia berada senantiasa berada dalam penjagaanMu. Ya Allah jadikanlah ulang tahunnya ini dapat diulanginya kembali ditahun-tahun yang akan datang, agar aku tidak sampai terlambat untuk mengucapkan "Selamat Ulang Tahun." untuknya. Amiiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…