Langsung ke konten utama

"Cinta dan sentuhan fisika"

mengupas soal cinta memang tidak akan pernah habis, selalu saja ada yang baru dan bisa diangkat menjadi tema menarik meskipun endingnya tidak seindah yang diperkirakan. berbicara cinta selalu saja menghadirkan semangat heroik yang tidak pernah habis, cinta ibarat air bagi dahan-dahan kering, kehadirannya selalu ditunggu agar selalu muncul tunas baru dan pucuk-pucuk baru dan semakin indah dilihat. cinta juga seperti lumpur becek disawah, jorok, menjijikkan, tetapi karena keberadaannyalah justru padi-padi tumbuh subur dan menjadi sumber kehidupan.
bibir-bibir tersenyum, wajah merengut, hati yang gelisah, mata yang enggan terpejam sekalipun kantuk menyerang, juga darah yang mengalir di medan perang, atau mengais sampah di got-got di pingir jalan, semuanya demi cinta. cinta seperti magnet yang menggerakkan besi-besi yang ada di sekelilingnya. cinta mampu melahirkan keberanian dan kekuatan yang mungkin tidak masuk akal, tetapi itulah cinta. kehadirannya adalah sumber utama kehidupan, penggerak roda mobilitas perjalanan hidup, tapi sayangnya sedikit sekali yang memahami cinta dengan benar.
ingin disayang, diperhatikan, adalah bagian dari cinta, namun ternyata cinta tidak cukup hanya sampai disitu saja. cinta memerlukan unsur lain yang dengnnya akan semakin terasa indahnya dan maknanya. sentuhan!
cinta memerlukan sentuhan-sentuhan fisika, tetapi jangan bayangkan sentuhan ini hanya sebatas nilai-nilai seksualitas semata, pelukan, ciuman, dekapan adalah bagian dari sentuhan fisika tersebut, yang dengannya kekuatan tadi bisa muncul dan semangat hadir memenuhi rongga-rongga kehidupan kita. memang tidak dapat dipungkiri seksualitas adalah puncak dari sentuhan fisika tersebut, tetapi sebaiknya sebelum berbicara lebih lanjut mengenai hal tersebut ada baiknya jika kita memperhatikan apa, siapa dan bagaimananya dahulu sehingga semua proses itu bisa dijalankan dengan sebagaimana mestinya, tidak melanggar etikia, norma dan agama.
setiap individu yang normal memerlukan sentuhan-sentuhan tersebut, bayi yang baru lahir sangat mengharapkan pelukan dan ciuman cinta dari ibunya, meskipun tidak dapat mengatakan ia bisa merasakan pesan cinta yang disampakan melalui pelukan tersebut dan ia juga merasakan bahwa ia disayangi dan diterima keberadaanya, seorang suami yang stress karena pekerjaannya memerlukan suplai energi lewat genggaman tangan istrinya, orang tua, anak-anak, pengemis, siapa saja...
melalui sentuhan sentuhan fisika tadilah keutuhan dan totalitas dalam mencintai bisa terwujudkan, karena darisanalah muncul kekuatan baru untuk menghadapi hidup yang pelik dan juga rasa aman ketika seorang istri berjalan disamping suaminya. sehingga darisanalah muncul peraturan-peraturan agar apa yang haram menjadi halal dan yang tidak boleh menjadi wajib untuk dilakukan. pernikahan merupakan pintu gerbang memasuki totalitas mencintai dan dicintai tadi. dan dengan melakukan pernikahan seseorang telah menunjukkan keberanian dan kesungguhannya dalam mencintai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…