Langsung ke konten utama

"Menari, berdansa..bima-banda"

siang itu, matahari sangat cerah....burai burai sinarnya menerobos hingga ke lapisan kulit paling dalam, melahirkan keringat dan gerah yang teramat sangat. padahal ruangan tempatku berada ada air conditionernya...tapi ia masih kalah dengan semburat menyala sang surya. tapi syukurlah....setelah wudhu kembali terasa sejuk hingga ke selaput sukma.

menjelang asar...bulir-bulir keringat tadi telah berganti dengan kesejukan baru....jangan berfikir kalau hujan telah memandikan tanah-tanah kering, jangan juga berfikir mendung telah menguasai bumi hingga gelap. malah langit semakin beringas saja ...semakin menjingga...

kira-kira apa yang membuat seseorang bisa merasakan kesejukan ditengah siang menyala seperti ini? apakah secontong es krim yang meleleh susu diatasnya? atau segelas koktail dengan serbuk es berwarna warni? ada benarnya juga...tapi menurutku itu cocok untuk anak anak yang masih berumur dibawah sepuluh tahun, merengek-rengek pada bundanya lalu tersenyum ketika es krim sudah ditangan.


tapi tidak denganku. aku baru saja menerima sepotong kabar dari mbak ku....mbak yang belum pernah ku dekap meski hampir setiap malam aku mendekapnya dalam mimpi, mbak yang belum pernah kupandangi dua bola matanya meski itu sangat ingin kulakukan. kami jauh...teramat jauh....tapi juga begitu dekat...

begini katanya " dek, gimana kalau kita bikin kompilasi kumpulan puisi...itung-itung bisa untuk dakwah...". Allahu Akbar...siapasih yang nggak semangat 45...langsung deh...jari jemari kami sibuk merangkai kata..aku disini dia disana....kami dekat...hanya layar komputer pemisahnya.

matahari kian tenggelam, semburat jingga mulai digantikan oleh rembulan yang tak kalah indahnya meski dengan kilau cahaya yang terbatas. jemari kami tidak lagi merangkai kata....kata- kata telah berpindah ke kepala, menari...berdansa...untuk dituangkan besok pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…