Langsung ke konten utama

"Parade masa kecil"

cerita masa kanak-kanak yang masih terekam jelas sampai detik ini, dimana kami berlari, dimana kami bersembunyi, dimana kami bermain petak umpet yang ujung-ujungnya dimarahi oleh guru ngaji yang tak lain adalah nenekku sendiri. dimarahi bukan karena kami bermain petak umpet tetapi karena bunga teh-tehannya yang berfungsi sebagai pagar halaman babak belur karena kami jadikan tempat persembunyian, kami, para bocah-bocah nakal hanya bisa tertawa geli, besoknya begitu lagi.

meski saat ini bayangan tentang desa kecil itu masih melekat dengan kental, tetapi menikmatinya tidak lagi seleluasa dulu. lekuk-lekuk desa tak bisa kujelajahi setiap jengkalnya apalagi sekedar untuk mencium bau tanahnya, rerimbunan pohon atau kicau burung yang tak ubahnya bagai alarm kehidupan. mungkin juga bukit kecil itu sudah menjadi belantara hutan karet yang tidak terurus, bukit itu namanya Lhok Jeuruweng, menyimpan seribu romansa masa kecil yang tidak akan pernah pupus dimakan usia. masih ingat sekalu aku bagaimana dulu diatas bukit ini kami bermain perosotan dengan menggunakan pelepah kelapa, meluncur tidak ubahnya seperti papan ski yang meluncur diatas salju, setelah itu naik lagi ke puncak bukit, melihat-lihat pemandangan yang indah sebentar lalu meluncur lagi kebawah, begitu seterusnya, membayangnkannya saat ini sudah membuatku lelah dan terengah-engah tapi waktu itu semua itu entah ada dimana.

hampir enam tahun aku tidak bisa menikmati lekukan tubuh desa kecil bernama padang petua ali ini, apalagi mencium aroma tanah basahnya dan lumpur lumpur becek di ruas jalannya, rerimbunan pepohonan dan kicau burung yang tak ubahnya bagai alarm kehidupan. semuanya telah berubah, berganti dengan ketakutan dan kengerian. tawa-tawa bocah teman sepermainanku berakhir dengan bibir mengatup rapat dan air mata yang mengalir namun tanpa suara, bukit itu...yang dulu menyimpan seribu pesona kini tidak ubahnya seprti mangkuk kengerian yang tidak segan segan menumpahkan isinya dan membuat orang orang tak berani lagi memandanginya.


entahlah...sempat juga terfikirkan, mengapa semua ini cepat sekali terjadi. tapi..barangkali inilah yang dinamakan takdir, tidak seorangpun bisa mencegahnya. tangan-tangan kecil dulu kini telah menjadi besar dan bertebaran dimana-mana, bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah menyalami mereka lagi, bukankah lebih baik begitu? daripada setiap kali memikirkan mereka yang ada hanya bayangan asap-asap yang mengepul namun bukan dari sudut dapur melainkan dari rumah-rumah yang terbakar, ketakutan-ketakutan disuatu malam diakhi kelulusan SLTP ku. ketika paman dan bibi ku lari entah kemana karena ketakutan.

dan aku menangis sesenggukan di pelukan ayah, karena saat itu ibu tidak ada dirumah. bagaimanakah bocah bocah lain yang tidak punya dua tangan kekar orang tuanya untuk memeluk mereka disaat ketakutan seperti itu?
teman kecilku...dimana kalian? apa kalian juga serign merindukan bukit kecil itu???tempat kita meluncur bersama dan menggembala? dan aku selalu berharap suatu saat kita bisa bertemu kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…