Hikayat Hati (satu)

Bahkan, sebelum aku menyentuh pasir dan merasakan asinnya air laut pulau ini, aku sudah terlebih dahulu mencium bau kota ini. Melalui wangi tubuhmu Cinta, wangi yang selalu melekat dalam panca inderaku.

Maka ketika aku benar-benar hadir di sini, kota ini bukan lagi kota asing yang membutakan imajinasiku, kau sering menceritakan gradasinya, tentang pantai itu yang pernah diteduhi purnama yang berpendar terang.

Cerita-ceritamu bagai huruf broile dalam alur imajinasiku, membentuk gurat-gurat yang melekat kuat dalam ingatanku. Dan anak imaji itu lahir sebagai narasai yang sepotong-sepotong, demi untuk mengulummu dalam ruang bernama rahasia.

Kita tak pernah tahu Cinta, takdir membawaku juga ke sini, untuk mengikuti jejak yang kau titipkan di bawah akar-akar pohon, di atas ranting dan daun-daun gugur. Bukan, bukan hanya itu, di atas geliat angin, di atas debur ombak, di atas ambang senja.

Di atas karangnya, aku mengumpulkan seluruh janin imaji yang terserak, di tempat yang pernah menjadi serambi rumahmu, aku sempat berdiri sejenak, di sanalah kau pernah merayuku dengan sangat indah.

Montana, 10:12 pm
25/03/12

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)