Langsung ke konten utama

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

7 kata keramat yang diusung sebagai tema Peringatan Hari Anak Nasional 2007 ini, kumpulan kata yang mempunyai makna dan arti yang sangat luar biasa, sebagai bentuk apresiasi paling tinggi terhadap hak anak dan kesempatan untuk memberikan ruang berekspresi positif yang tak terbatas kepada mereka. untuk memperoleh cinta dan kasih sayang yang layak dari orang tua, teman, lingkungan, bahkan negara. untuk berkreasi dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan apa yang mereka kehendaki, untuk menentukan alur kehidupan, menentukan masa depan, memilih orang yang dicintai, memilih untuk berkarya....memilih untuk bertahan.

Tanya Aku Dulu, Aku Juga Punya Hak

Aku bukan sedang ingin menceritakan tentang anak-anak yang tengah berlomba makan kerupuk, ataupun berlomba memancing botol, membawa kelereng dalam sendok, membaca puisi ataupun menari diatas pentas sana. bukan tentang semua itu, karena ditengah keramaian ini aku juga sedang merayakan hari anak ini untuk ku sendiri, sambil memasang foto-foto kegiatan yang telah kami lakukan selama ini, sambil memasang lukisan-lukisan anak didinding, sambil memakan kue yang diberikan panitia, dan terakhir dengan catatan kecil untuk menuliskan sesuatu diatas kertasnya yang putih.

aku, hingga sampai umurku ditelan bumi pun nanti tetaplah aku seorang anak. maka pantaslah bila aku juga ikut menikmati suasana keriaan hari anak ini. sekali dalam umur hidupku, menyadari benar bahwa hari ini adalah hari anak. dimana yang menjadi prioritas setiap orang adalah membuat anak-anak menjadi bahagia, yah entah itu dengan lomba makan kerupuk, lomba memancing botol ataupun mewarnai. tapi aku? dengan apa aku membuat diriku sendiri bahagia? paling tidak untuk hari ini saja.

adalah cinta, karena hanya itu yang membuat ku terus hidup sampai hari ini. cinta yang dikiriman oleh orang-orang melalui cara yang kadang aku sendiri bingung mengapa harus dengan cara itu.

Hari Ini Aku Punya Hak,

memutuskan apa saja tentang hidup ku, memutuskan untuk mencintai siapa dan memilih hidup bersama siapa. memutuskan untuk mengukir nama siapa dan memilih badan yang mana. hati ku sudah memutuskan itu, dan aku tetap mencintainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.