Langsung ke konten utama

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian III

Sejak pertemuan di kafé dikawasan Lamprit sebulan yang lalu aku dan Juan sering berhubungan melalui telepon. Hari-hari ku menjadi lebih menyenangkan lagi, kami menjadi lebih dekat. Aku bisa melampiaskan semua kegundahan hati ku pada laki-laki itu. Terus terang sekian tahun menjalin hubungan dengan Zal membuat ku capek, membuat hati ku lelah karena aku seperti sedang menunggu buah Ara hanyut dari gunung. Dan itu artinya aku harus menunggu hujan besar yang akan mengalirkannya ke hulu. Tapi kapan hujan besar itu datang? Aku sendiri tidak pernah tahu.

Diantara kelelahan dan kesakitan itu aku mendapati Zal tetap menyayangi ku dan mencintaiku dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dan itu membuat cinta ku semakin bertambah besar terhadapnya. Aku semakin hanyut dan gila pada perasaan ku yang tak terbendung. Hanya Zal yang tahu sebesar dan sedalam apa cinta ku pada nya. Karena aku tidak pernah menyembunyikan perasaan dan isi hati ku kepada nya.

Disaat aku sangat menginginkan Zal hadir di dekat ku, Juan muncul dengan banyak kesamaan. Membuat ku sedikit lupa pada Zal, namun disisi yang lain kerinduanku terhadap Zal semakin menjadi-jadi. Namun…diam-diam aku berharap agar Juan selalu hadir dalam kehidupan ku. Selama hubungan pertemanan ini aku merasa nyaman berkomunikasi dengan nya, aku bisa mengekspresikan diri ku apa adanya tanpa perlu menutupi apapun. Hanya satu yang Juan tidak tahu, bahwa aku menyimpan cinta untuk seorang laki-laki, Zal.

Ku sulut sebatang rokok yang dari tadi tergeletak diranjang, asap putihnya mengepul, sebagiannya masuk menggelitik kerongkongan ku dan saluran pernapasan ku, lalu menyembul keluar melalui hidung. Aku sangat menikmati setiap hembusannya yang keluar dari mulut ku. Aku bukanlah perokok berat, hanya sesekali waktu saja bila aku menginginkannya. Disaat malam buta seperti sekarang ini, malam begitu dingin karena diluar sana hujan tengah turun begitu lebatnya. Membuat lorong-lorong menjadi becek dan tergenang, got-got meluap dan memunculkan aroma busuk yang kental dan menusuk hidung.

Sementara itu, gejolak didalam diriku meletup-letup seperti magma yang akan disemburkan gunung merapi, membuat ku hanya bisa meringkuk memeluk lutut disudut ranjang. Mata ku menerawang, memandangi nama Zal yang besar didinding kamar. Pikiranku sedikit menjadi liar. Dengan sebatang atau dua batang rokok ini ku harap yang menggebu-gebu itu bisa normal kembali.

Entah mengapa saat ini bukan hanya Zal yang berputar-putar dibenakku, tapi juga Juan. Laki-laki yang baru ku kenal sebulan yang lalu, tetapi cukup untuk membuat aku menyukainya. Tiba-tiba saj aku jadi sangat ingin bertemu dengannya, mengobrol apa saja yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Agar hati ku benar-benar rileks.

Juan…kembali aku memikirkannya, rasa penasaran ku kepadanya semakin besar dan menjadi-jadi. Dimana aku pernah melihatnya?

Dengan sedikit berdebar aku meraih hand phone dan menekan nomor ponselnya seperti yang tertera di kartu namanya. Selama sebulan ini hanya Juan yang rutin menghubungi ku, sedangkan aku sekalipun tak pernah menghubungi ataupun mengirimkan pesan untuknya. Entahlah, aku merasa bersalah setiap kali melakukan interaksi tak biasa dengan laki-laki selain Zal. Aku merasa seperti mengkhianati cinta ku sendiri.

Tapi…apakah Zal merasa begitu terhadap ku? Aku tidak pernah tahu, dan tidak mau tahu. Karena, walaupun ia begitu tetap tidak artinya bagi ku, jauh sebelum aku hadir dalam kehidupannya ia sudah mempunyai dunia sendiri. Sayang dan cinta Zal memang aku butuhkan, tapi mengharapkannya bisa bersama ku adalah mimpi. Mimpi besar yang tidak pernah terwujud. Dan aku tak peduli apakah Zal peduli atau tidak pada ku.

“Halo” kata ku begitu saluran telepon tersambung

“Ya, Halo juga. Sayang apa kabar?

“Baik, abang apa kabar?”

“Baik juga. Tumben nih telfon abang. Ada apa?”

“Kepingin ngobrol saja.”

“Abang masih dijalan, nanti abang telepon kamu ya? Sedang nyetir nih, ntar nabrak trotoar lagi heheh…”

“Okay kalau begitu, aku tunggu.”

Aku menunggu Juan menghubungi ku hingga larut malam, nyatanya sampai pagi tidak sekalipun nada dering di hand phone ku berbunyi. Aku menjadi semakin gelisah, jangan-jangan Juan benar menabrak trotoar, apalagi semalam hujan lebat, bisa saja itu membuatnya susah melihat ruas jalan dan mengakibatkan dia menabrak tiang listrik atau tembok. Berbagai macam kemungkinan berseliweran dibenakku.

Hingga matahari setinggi dhuha aku masih menunggu kabar darinya, tapi satu pesanpun belum ada yang masuk. Aku mencoba menghubunginya, masuk. Tapi tidak ada yang mengangkatnya. Ku coba kirim pesan menananyakan kepastian kabarnya, tidak ada balasan. Aku jadi semakin cemas, sekaligus kesal.

Keinginanku untuk bertemu dengannya hilang sudah. Mengalir bersama air hujan menuju lorong-lorong rendah dan berkelok. Sebatang rokok kretek kembali menjadi teman setelah sarapan pagi ini. Aku tahu itu tidak baik, tapi disaat-saat sepi seperti ini kepulan asap putihnya kerap kali menjadi mainan bibir yang menyenangkan. Mengamai gelembung-gelembung pintalan asapnya tak ubahnya seperti menyaksikan mainan puzzle yang menegangkan dan membuat senang. Membuatku lupa pada apa yang seharunya tak boleh ku pikirkan saat itu.

Masih dengan kecemasan yang besar ku coba redial nomor Juan, tersambung tapi tetap saja tidak ada yang mengangkat. Ku coba sekali lagi, kali ini tak lupa dengan selipan basmalah sebagai pengantarnya.

“Halo”

“Abang apa kabar?”

“Pak Juan sedang meeting.

“Ini siapa?”

“Saya Romi, anak buahnya,”

“Pak Juannya ada dimana sekarang?”

“Sedang di Bandung”

“Terimakasih kalau begitu,”

Aku menghela napas berat, kekesalanku semakin bertumpuk-tumpuk. Aku semakin tidak mengerti dengan dirinya, semalam ia masih berada di Banda Aceh, pagi ini sudah berada diluar kota. Mengapa Juan tidak pernah bercerita tentang ini kepada ku? Mengapa ia tidak memberi tahu ku?

Aku bangkit dan menyeruput susu coklat yang tersisa digelas sampai habis. Jarum jam di dinding sudah berada tepat di pukul sepuluh pagi. Aku harus bersiap-siap untuk beraktivitas. Juan dan Zal sama saja, sama-sama membuat ku bisa mengagumi mereka tapi juga sama-sama membuatku sakit dan gila. Hidup ini terlalu banyak warna, akankah aku bisa selalu menjaga agar hati ku selalu biru?

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.