Langsung ke konten utama

"Curhat"

"Ada hal yang sampai sekarang tak pernah ku ceritakan pada mu sampai hari ini , Bi. kita memang dekat, tapi bukan berarti semua tentang ku kau harus tahu kan?" kata ku
sebuah perbincangan seru sepertinya akan segera dimulai, sebelumnya tak pernah kita bicara dari hati ke hati dengan sangat dalam seperti sore menjelang magris saat itu. tepatnya aku yang tidak pernah terbuka pada mu, karena memang begitulah aku, lebih senang membicarakan itu disaat aku bahkan barangkali sudah tak mengalami lagi hal itu. seperti saat ini.
kau menatapku dalam dan penuh selidik, "apa yang aku tidak tahu tentang mu?" tanya mu pada ku. aku hanya menunduk. sengaja membuat mu penasaran dan bertanya-tanya. dan dengan usil kau pun menggelitik-gelitikkan paha ku, memaksaku untuk berbuka suara. tapi aku masih belum bergeming. lalu, kembali kau menceritakan kisah mu yang sebagian sudah ku ketahui dan sebagiannya lagi belum. jarak yang jauh, waktu yang terbatas, dan pulsa Hp kita yang sering tersendat-sendat membuat komunikasi kita ikut tersendat pula.
"Pokoknya selama enam bulan terakhir ini sangat banyak kejadian-kejadian yang ku alami, perselisihan ku dengan kakak ipar ku, persoalan cinta ku yang unik dan lucu."
mata mu ku lihat memerah, hal pertama yang kau ceritakan juga membuatku sedikit ingin menangis. tega-teganya kakak ipar mu begitu, pikir ku. kakak ipar mu adalah bibi ipar ku, sebab ia menikah dengan abang mu, paman ku. umurnya sebaya dengan kita, tapi sikap kekanakannya masih juga belum hilang meskipun ia sudah bersuami dan mempunyai anak.
"Menggendong anak saja masih belum bisa," kata-kata itu ku dengar dari bibi yang lain malam kemarin saat aku menginap dirumahnya. kebetulan saat sedang tidur aku terbangun dan mendengar obrolan nenek dan bibi, istri paman ku yang lain. kata-kata tidak enak itu masih ditambah dengan ujung yang lain yang tidak kalah kecut nya. "Percuma saja dia sekolah tinggi, di keperawatan lagi, bila mengurus anak saja tidak bisa, kasian anaknya."
kembali kecerita kita
"Sebenarnya aku sudah lama menjalin hubungan dengan Zal. sudah dua tahun lebih." kata ku tanpa ba bi bu dan tanpa pengantar yang baik
"Kamu lebih parah lagi tuh...!!!" komentar mu setengah serius.
"Tapi jangan bayangkan yang macam-macam, kau kan tahu, aku dimana dan Zal dimana." ralat ku cepat-cepat tak ingin ia berburuk sangka. semua tentang Zal ia memang tahu, satu yang ia tidak tahu bahwa aku dan Zal punya hubungan istimewa.
"Tapi sekarang aku sangat ingin melupakannya, dan aku ingin hidup 'normal'. ingin melupakan bahwa aku pernah mencintai laki-laki beristri dalam hidupku, pernah sangat mencintai seseorang melebihi mencintai diri ku sendiri. tapi, aku sendiri tak yakin untuk itu."
kau tak ada komentar, hanya diam. sama seperti ku kamu juga bingung. meski kau tak katakan tapi sorot mata mu sudah menjelaskan itu.
"Percayalah, aku takkan jahat. cepat atau lambat aku akan meninggalkan dia meski dan dengan tanpa kerelaan yang utuh."
"kau pernah bertemu dengannya?" tanya mu tersenyum geli
"pernah,"
"hm... kalian melakukan apa saja?"
"apa yang terjadi diantara kami, biar aku dan dia saja yang tahu. tak perlu ku ceritakan kepada mu. aku yakin, kau pun akan mengerti mengapa kami melakukan itu."
"itu akan membuat mu lebih tak sanggup melupakan dia,"
"tapi dengan begitu aku telah merasai puncak mencintainya, begitu juga sebaliknya."
"kita sudah sama-sama dewasa, yang penting tahu konsekuensinya. dan satu lagi, siapa itu My Honey?"
"dia orang jauh, malam kemarin aku telah berbicara dengan ibunya. tapi aku juga tidak yakin dengan semua itu..."
"dia terlalu muda untuk mu, ya sudah, jadian saja dengan duda itu...."
"hahahahahhaha....itulah yang tengah ku pikirkan."
"rlgjeogelntlerj254075gndlfkhwehr;k2"
"galrehrg?;typ21yklur422@"






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.