Langsung ke konten utama

Meretas Jalan Menuju Jingga Bagian V

Juan banyak bercerita tentang keluarganya yang dulu, anaknya berusia lima tahun sekarang dan diasuh oleh mantan istrinya. Mereka sekarang berada di Lhokseumawe dan mantan istrinya juga sudah menikah lagi sekarang. Dimatanya tak ada kemarahan apalagi dendam saat menceritakan perihal istrinya yang menurutnya suka menghambur-hamburkan uang dan tidak setia. Diam-diam tanpa sepengetahuan Juan ia menjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain. Namun, sepintar-pintarnya tupai melompat sekali waktu akan jatuh juga. Begitulah, mantan istrinya yang bernama Rada ketahuan berselingkuh. Namun yang lebih menyakitkan ia berselingkuh dengan teman Juan sendiri.

Diam-diam aku menaruh simpati pada laki-laki itu. Dengan berbagai kesibukannya yang padat harusnya ia mempunyai seorang istri yang bisa mengerti kondisi dan keadaannya. Bisa menjadi penyemangat bagi hari-harinya yang sibuk. Bukan lantas menambah bebanya dengan hal-hal yang tidak perlu. Tapi, siapapun Rada aku tak berhak mengomentari apapun tentangnya. Dia adalah masa lalu Juan, dan tak ada kaitannya dengan ku.

Entah mengapa aku ingin sekali hadir sebagai penyemangat bagi Juan, melakukan tugas-tugas seperti yang dilakukan ibu kepada ayah dirumah. Membuatkan segelas kopi sebelum ia berangkat kerja, menyiapkan air hangat saat ia pulang kemalaman, atau sekedar memijit pundaknya yang kelelahan.

Aku menatap mata Juan dalam-dalam. Kerinduan jelas tak bisa ku sembunyikan didepannya. Juan tersenyum, memamerkan sederet giginya yang indah.

“Karena itulah aku memutuskan untuk bercerai darinya, ia hanya mencintai harta ku saja. Bukan aku.”

“Dari segi apa dia tidak mencintai abang? Apa kurangnya abang? Tampan, kaya, baik.”

“ Sudahlah, lupakan dia. Kamu bersedia kan jadi istri ku Jingga? Aku akui usia ku barangkali sedikit agak tua untuk mu. Tapi aku yakin, kamu akan jadi teman hidup yang menyenangkan bagi ku. Kamu periang, ngobrol sama kamu enak dan nyambung.”

“Aku perlu berfikir, beri aku waktu ya?”

“Berapa lama?”

“Jingga tidak tahu Bang.” Suara ku tiba-tiba berubah. Bayang Zal melayang-layang tepat dipelupuk mata ku, membuat ku kian samar memandangi Juan yang mengharapkan jawaban ku.

Suasana hati ku sangat kacau. Aku ingin mengakui semua kemelut hati ku pada Juan, tapi tidak berani. Pada saat yang bersamaan aku juga belum sanggup hidup tanpa Zal.

“Abang mau minum apa?” Tanya ku berbasa-basi, berharap ketegangan hati ku mereda. Aku tidak ingin Juan tahu kegalauan ini.

“Terserah kamu,”

“Sebentar, Jingga buatkan minuman dulu ya.”

Aku pamit ke dapur, membuat minuman adalah alasan yang ku gunakan agar bisa terhindar sesaat dari Juan. Air mata ku sudah tak dapat ku bendung lagi. Hati ku menjadi sumbat dan membuat ku tersengal. Di dapur aku menangis sepuas-puasnya. Mata ku nanar menatap langit-langit dapur yang putih. Adakah Zal tahu isi hati ku yang sebenarnya? Aku sangat mencintainya, aku teramat sangat menyayanginya dan itu membuatku sangat sulit menentukan hal-hal seperti ini dalam hidupku.

Aku masih ingat setahun yang lalu, Zal marah besar saat tahu aku punya hubungan sesaat dengan seorang laki-laki. Ia tak bisa terima diperlakukan begitu. Ia tak mau aku punya laki-laki lain selain dirinya.

“Kamu yang mengatakan kalau kamu adalah kekasih abang, tapi mengapa kamu sampai begitu dibelakang abang?” tanyanya ketika itu.

Aku hanya diam, tak menjawab tepatnya tidak tahu menjawab apa. Ku akui aku memang salah dan aku sudah minta maaf.

“Abang tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Abang tidak suka kamu menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Abang cemburu. Abang mau kamu tetap setia pada abang”

Mungkin itulah kata hati Zal yang paling dalam, yang ia katakan saat ia sedang marah. Diam-diam aku menyesali perbuatan ku dan berjanji untuk tidak mengulangnya kembali. Tapi sekarang? Saat Juan hadir dalam kehidupan ku yang lain, apakah aku harus meminta persetujuan dari Zal, sementara ia sendiri tidak bisa memberikan kepastian kepada ku.

Apakah aku harus merasa berdosa dan sebersalah ini untuk mengatakan bahwa aku juga menyukai Juan? Meskipun aku tahu cinta itu belum terlalu tulus seperti cinta ku pada Zal. Cinta ku pada Juan masih sebatas karena ia punya banyak kemiripan dengan Zal, tapi aku yakin bila aku menjalani semua itu dengan serius aku akan berhasil melakukannya dengan tulus.

Kemana aku bertanya disaat-saat seperti ini. Kepada siapa aku bercerita tentang Zal dan Juan? Pernah sekali waktu aku mencoba membagi gundahku tentang Zal pada seorang teman, belum selesai aku bercerita dia sudah memvonis ku sebagai perempuan tidak baik. Apakah jatuh cinta itu salah? Apakah mencintai laki-laki yang sudah beristri itu dosa? Sedang aku tak pernah berharap lebih dari itu.

“Jingga…kamu menangis?”

Suara Juan membuat ku tersentak. Buru-buru ku hapus air mata ku. Aku mencoba tersenyum tapi terasa hambar dan kaku. Aku baru sadar bila air yang ku janjikan tadi sama sekali belum ku buat. Aku jadi serba salah didepan Juan.

Ada apa? Ceritalah pada abang.”

Bagaimana aku memulainya? Bagaimana aku mengatakannya? Aku tidak sanggup. Aku terlalu takut, untuk kemudian dikatakan perempuan tidak baik. Perebut suami orang, pengacau rumah tangga orang. Perusak aturan dan norma. Aku tak berani menghadapi kenyataan itu. Apalagi oleh Juan.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba melonggarkan sedikit ruang di hati ku. Ku beranikan diri untuk menatap mata Juan yang bersinar. Tatapan teduhnya membuat ku sedikit tenang dan nyaman. Terlebih saat ia merebahkan ku dalam pelukannya yang hangat. Tangannya yang lebar membelai kepala ku dengan lembut, mengusap air mata di pipi ku.

“Aku boleh bercerita tentang keadaan ku yang sebenarnya?”

“Apa abang pernah melarang mu?”

“Aku takut abang akan meninggalkan ku setelah aku menceritakan yang sebenarnya.”

“Apa kamu menilai abang seburuk itu Jingga?”

Aku menggeleng.

“Lalu, kenapa kamu berfikiran begitu secepat ini?”

“Aku hanya takut bang.”

“Ceritakanlah, agar ketakutan mu bisa hilang, semoga saja ada jalan keluar dari ketakutan yang kamu katakan itu.”

“Sebenarnya…saat ini aku masih mencintai seseorang, usianya sebaya dengan abang. Dia sudah menikah dan berkeluarga, dan itu adalah kenyataan yang tak mengenakkan untuk ku. Aku kesakitan setiap kali hati ku membentuk getaran rindu terhadapnya. Aku hanya bisa menangis setiap kali teringat padanya, seperti sekarang ini…” ujarku setelah lama diam.

“Sejak bertemu abang, sedikit-sedikit aku mulai bisa melupakannya. Tapi sekarang aku benar-benar bingung bang. Aku seperti tidak bisa membuat keputusan untuk diri ku sendiri. Jiwa ku sudah terikat, walaupun aku tahu aku berhak untuk tidak mempertahankannya.”

Juan masih membimbingku dalam pelukannya, ia tak berkomentar suatu apapun. Aku juga tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya karena aku hanya bisa meringkuk dalam dadanya yang bidang. Aroma tubuhnya membuat ku benar-benar nyaman dan merasa aman.

“Tapi dilain sisi aku juga tidak bisa membohongi perasaan ku, aku sayang pada abang. Aku ingin mengisi hari-hari abang seperti halnya abang mengisi hari-hari ku.”

Aku memajamkan mata, cemas menunggu-nunggu kata apa yang akan diucapkan Juan. Marahkah dia atau tidak.

“Apa kamu ingin terus menerus terjebak dalam situasi begitu sayang?” tanyanya kemudian. Secepat kilat aku menggeleng.

“Lalu, apa keinginan mu sekarang?”

“Aku hanya perlu seseorang yang bisa membantu ku keluar dari situasi ini.”

“Kamu sudah yakin abang orang yang kamu perlukan itu?”

Aku mengangguk. Juan tak menjawab. Semua yang diucapkan oleh Juan terdengar seperti angin pagi yang menyegarkan rongga-rongga jiwa ku. Aku merasa tenang. Aku bahagia bisa didekatnya. Aku memeluk Juan dengan erat.

“Aku tidak mau abang hilang lagi dalam kehidupanku.”

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.