Langsung ke konten utama

Saat Cinta Kehilangan Warna

"Hidup Akan Lebih Terasa Bermakna
Bila Kita Memberi Tempat dan Ruang Kepada Sesuatu Secara Proporsional"

Cinta seringkali berakhir dengan duka dan air mata. Cut Miranda (20) mengalami itu. Didepan polisi yang memeriksanya gadis itu sempat pingsan selama 30 menit setelah mendengarkan lagu pop melankolik yang dipopulerkan oleh group banda Naff yang bertajuk “Kau masih kekasih ku” dan “Akhirnya ku menemukan mu”

Bait-bait indah dalam lagu tersebut bukan hanya indah dan menyentuh kalbu, tetapi juga mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk Cut Miranda yang tengah dirundung duka karena kehilangan kekasih tercintanya, Toni (36). Ia kembali terkenang pada almarhum yang tewas ditangannya sendiri.

Prosesi pingsannya Cut saat menjalani pemeriksaan memang sangat menggugah siapapun yang menyaksikannya, sebab, ia pingsan bukan karena lelah ataupun takut karena telah melakukan kesalahan besar yang menyebabkan hilangnya satu nyawa manusia. Tapi lain daripada itu, ia tengah terhipnotis oleh kedalaman cintanya sendiri pada almarhum Toni. Dan saat polisi penyidik itu mengatakan “coba renungi lagu itu” maka yang terdengar diruang imajinasinya adalah “Coba hadirkan kembali wajah kekasih mu.”

Ketulusan dan kedalaman cinta Cut bisa dikatakan telah kehilangan makna, sebab pada akhirnya ia harus menelan pil pahit yang berujud kekecewaan berulang kali dalam hidupnya untuk hal yang sama. Pertama, ia kecewa saat tahu bahwa laki-laki yang dicintainya telah mempunyai istri dan tiga orang anak. Tentu rasa kecewanya akan berbeda bila ia sudah mengetahui hal itu sedari awal meskipun ia tetap nekat menjalin hubungan dengan laki-laki yang telah beristri tersebut. Dengan konsekwensi “suatu saat aku (dia) akan meninggalkannya (aku)”.

Kedua, ia harus kecewa yang teramat sangat saat lelaki yang sangat dicintainya itu tewas ditangannya sendiri secara tidak wajar. Lelaki yang berprofesi sebagai satpam di bank BTPN Lhokseumawe itu tertembak saat rebutan pistol dengan Cut. Adalah kenyataan paling pahit saat menyadari orang yang kita cintai telah tiada untuk selamanya. Kekecewaan lainnya tentu saja hal yang paling berharga dalam dirinya telah ia persembahkan kepada Toni sebagai ekspresi kecintaannya yang besar tadi. Dan ini, tentu saja ia hanya berani mengakuinya dalam hati saja. Semuanya atas nama cinta, maka ia pun rela memberikan kegadisannya pada laki-laki itu.

Kegenitan Berfikir


Ada apa dengan cinta? Itulah yang terpikir dibenak saya saat mengikuti cerita demi cerita tentang kasus Cut Miranda di surat kabar. Berkali-kali membaca Koran, membaca cerita, nonton film, cinta selalu dikarakterkan sebagai duka dan airmata dan juga seks. Tak lengkap rasanya jatuh cinta tanpa ada caci maki dari orang tua/keluarga dari salah satu pasangannya, penderitaan, perbedaan kasta, cinta terlarang, hingga akhirnya perjuangan untuk membebaskan cinta dari belenggu itu sangat panjang dan rumit. Beruntung bila berujung manis, karena tak sedikit yang berakhir dengan kenyataan sebaliknya. Cut adalah salah satu pelakon itu.

Namun, terlepas dari semua itu ada semacam “kegenitan berfikir” bagi sebagian orang dalam memaknai cinta. Bahwa cinta adalah sex, cinta adalah boleh melakukan apa saja termasuk melanggar adat dan istiadat serta norma agama. Cinta adalah melabrak hukum, cinta tanpa aturan, setiap yang jatuh cinta harus mengenyahkan akal sehat dan logika. Konteks cinta menjadi kabur dan kehilangan makna, ia hanya berkutat pada persoalan percintaan antara laki-laki dan perempuan saja. Padahal secara harfiah arti cinta tidaklah sesempit itu.

Mana yang cinta? Mana yang nafsu? Saya yakin akan sulit sekali membedakannya. Sebab kedua hal tersebut memang saling berdampingan. Mencintai tanpa nafsu akan terasa hambar, sebab tidak munculnya rasa memiliki yang dalam. Nafsu, tentu saja tidak hanya berkonotasi negative, tetapi juga keinginan untuk melindungi, untuk membuat orang yang kita cintai bahagia, untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Namun mengikuti nafsu tanpa perlu menyertakan cinta adalah hal yang biasa. Dan kenyataannya inilah yang sering terjadi pada banyak orang.

Bila dimasa-masa awal cinta selalu diidentikkan dengan duka dan air mata, termasuk perbedaan status social dan kasta, maka di era sekarang cinta bisa disejajarkan dengan kedudukan seks, perselingkuhan dan bisa dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu.

Imajinasi Yang Salah

Ya, kesalahan imajilah yang menyebabkan semua itu kehilangan definisi. Cinta yang semula diartikan sebagai wujud kasih sayang dan proses penyempurnaan dari wujud silaturrahmi seiring dengan perubahan zaman dan perbedaan culture menjadi sesuatu yang sangat sempit; hanya sebatas hubungan laki-laki dan perempuan saja. Lebih daripada itu kesalahan imaji ini akan menyebabkan seseorang akan melakukan apa yang ia fikirkan dalam prilaku kesehariannya.

Cut yang terlalu mengagungkan cinta, maka ia akan begitu saja rela menyerahkan kegadisannya pada Toni. Meskipun ia tahu bahwa laki-laki itu sudah beristri dan punya anak. Ia yang telah memenuhi ruang pikiranya bahwa Toni adalah miliknya, maka tanpa rasa bersalah ia menyuruh Toni untuk menceraikan istrinya agar ia bisa memilikinya dengan utuh. Nafsu telah mendikte prilakunya, maka mengunjungi tempat tinggal Toni secara diam-diam adalah bentuk lain dari tantangan mencintai untuk menciptakan sensasi yang luar biasa.

Para pelaku cinta sepertinya sedang lupa, bahwa cinta juga milik bumi yang senantiasa setia memeluk dunia. Milik para rumput yang selalu berusaha untuk hijau, milik waktu yang membawa kita kedunia lain. (Ihan)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.