Langsung ke konten utama

Rindu Senyummu


"Semalam aku memimpikanmu," kataku tadi pagi. Saat itu aku belum lama sampai di tempat bekerja. Sambil mengedit pekerjaan aku menyempatkan diri mengirimkan pesan pendek untukmu. Memberitahumu perihal mimpi semalam.

"Mimpi apa?" balasmu beberapa saat kemudian.

"Mimpi bersamamu. Rindu melihat matamu," kataku.

"Oh,"

"Cuma bisa bilang oh?" balasku dengan nada bertanya.

"Ah ah ah lagi,"

"Ih,"

"Cuma bisa bilang ih?" tanyamu.

"I miss you honey," kataku.

"I miss you too say," jawabmu.

Setelah itu kabar-kabari pagi hari tadi pun selesai begitu saja. Kamu kembali sibuk dengan pekerjaanmu. Pun juga aku. Mimpi semalam bukanlah yang pertama kalinya aku alami. Sejak kita bersama entah sudah berapa puluh kali aku memimpikanmu.

Meski tak terjadi apa-apa dan tak menyelesaikan apa-apa, aku senang karena bisa menghadirkanmu di alam bawah sadarku. Tapi ada satu yang tak berbeda antara mimpi dan kenyataan; senyummu.

Kau tahu, senyummu itu indah sekali. Meluluhkan hatiku. Apalagi ketika kamu sengaja mengulum senyum itu. Rasanya ingin kucomot senyum itu dengan bibirku. Lalu kutelan bulat-bulat. Dan setelah itu kukembalikan lagi ke tempatnya, di bibirmu.

Beberapa hari terakhir ini aku dilesak rindu yang parah. Kuingat-ingat kapan terakhir kali kita bertemu. Dan, ah sudah berganti tahun rupanya. Pertemuan sehari sebelum hari jadimu rasanya terlalu singkat. Terlalu tergesa-gesa, dan sepertinya kita belum menyampaikan apa-apa. Tapi aku perlu berterimakasih pada kesibukan ini. Membuatku tak terlalu tersiksa karena rindu yang menggoda hati.

Aku juga teringat pada pertemuan kita sebelumnya, sambil menyesap teh kita bercerita tentang banyak hal. Pekerjaan, keluarga, peluang-peluang, kapan kita bisa melakukannya lagi? Secangkir teh itu menjadi lebih nikmat karena aku bisa meneguknya sambil menyentuhmu.

Aku juga teringat pada suaramu yang lembut, yang selalu tak pernah bosan membujukku jika aku merajuk. Hahahah...kadang-kadang juga marah sampai tak mempedulikanmu. Tapi senyummu, seperti panas yang mencairkan beku salju. Atau sebeliknya dingin yang membekukan panas hatiku.

Cinta...

Aku rindu menatap matamu, karena di sana aku menemukan keteguhan, di sana aku melihat harapan; meski wujudnya entah seperti apa. Di matamu aku menemukan lega. Di matamu aku menemukan getar yang mampu menghadirkan debar di hatiku. Berkali-kali meski telah sering kulakukan. Aku ingin tenggelam di sana.

Cinta...

Aku ingin kau tahu, ada rindu dan cinta yang banyak untukmu hari ini.

Luv you Z


00:38 am | 8 Februari 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.