Langsung ke konten utama

Perempuan yang Datang Menemuiku

ilustrasi

"Aku ingin kita selalu bersama."

Suaramu begitu lirih. Nyaris kalah ditelan angin pantai yang menderu-deru. Lalu kau menyentuh tangan kiriku dengan tangan kananmu, dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Kita akan selalu seperti ini," bisikmu di telingaku.

***

Aku masih ingat dengan jelas apa yang kau katakan dan apa yang kau bisiki di telingaku ketika itu. Saat kuingat-ingat ternyata itu sudah lama sekali, sudah belasan tahun. Tapi aku masih bisa merasakan hangat nafasmu yang menempel di telingaku sore itu. Darah yang tiba-tiba berdesir dan memacu adrenalin.

Aku bahkan belum lupa pada senja yang bergerak turun meningkahi kepergian kita. Saat inipun, aku masih bisa merasakan kuatnya cengkeramanmu yang berhasil membuatku meringis. "Rupanya Xena mewarisi kekuatannya padamu," candaku saat itu.

"Kenapa kau ingin agar kita selalu bersama?"

"Karena kamu adalah sajak-sajakku. Aku ingin terus membacanya."

"Seruni, kau memulai lagi."

Bibirmu menarik segaris horizontal. Tak menjelaskan apa-apa. Seperti biasa, aku akan sabar menunggu penjelasanmu yang terputus-putus. Terus terang, bahasa-bahasamu terkadang tidak kumengerti.

Terlalu sulit untuk dipahami oleh seorang pria yang sehari-hari bekerja dengan benda-benda semacam pipa dan sejenisnya. Tapi kau adalah kekasih yang hebat, mampu membuatku candu pada sajak-sajakmu yang kau sebut sebagai 'surat cinta'.

"Seruni... kau masih diam, atau memang tak mau menjelaskan?"

"Aku sudah sering mengatakannya."

"Tapi aku ingin mendengarnya lagi, lagi, dan lagi."

"Karena kamu adalah sajak-sajakku. Aku ingin terus membacanya."

Aku menyerah. Tak ada gunanya mendesakmu atau memaksamu.


***

Senja yang memerah mengingatkanku padamu. Tepatnya pada sajak-sajak yang kau kirimkan padaku di waktu senja. Sudah dua tahun ini tidak ada sepotong sajak pun yang hinggap ke email-ku, atau ke nomor ponselku. Setiap senja, aku menghabiskan waktu di beranda sambil memandangi langit yang keemasan. Hingga akhirnya benar-benar tenggelam di balik pohon-pohon bercabang. "Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kau yang meninggalkan aku, Seruni!" aku selalu memekikkan kalimat itu sebelum beranjak.

***

"Aku ingin kita selalu bersama."

Aku berkata lirih. Suaraku nyaris ditelan angin pantai yang menderu-deru. Perlahan aku menyentuh tangan kirimu, dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Kita akan selalu seperti ini," bisikku di telingamu.

Aku masih ingat dengan jelas apa yang kukatakan dan apa yang kubisikkan di telingamu ketika itu. Saat kuingat-ingat ternyata itu sudah lama sekali, sudah belasan tahun. Aku masih ingat bagaimana ekspresi wajahmu saat nafasku menempel di telingamu.

Aku bahkan belum lupa pada senja yang bergerak turun meningkahi kepergian kita. Saat inipun, aku belum lupa bagaimana kau meringis saat itu. "Rupanya Xena mewarisi kekuatannya padamu," candamu saat itu.

Kau mungkin bertanya mengapa pada akhirnya aku meninggalkanmu. Padahal selama belasan tahun denganmu, aku selalu mengatakan hal yang sama; aku ingin kita selalu bersama.


Rumi, aku ingin mengatakan sesuatu. Entah suatu hari nanti kau mengetahuinya atau tidak, aku tidak peduli.

Suatu pagi di bulan Mei dua tahun silam, seorang perempuan menemuiku. Kulitnya kuning langsat, tinggi, biji matanya hijau seperti mata kucing. Tanpa perlu mengatakan siapa dirinya pun aku sudah mengenalnya. Ia tiba-tiba muncul di tempatku bekerja.

"Kau pasti Seruni!" ucapnya penuh yakin.

Aku mengajaknya masuk ke ruangan kerjaku yang sempit. Kupersilakan ia duduk di sofa. Patuh ia menuruti perintahku. Agar tak terkesan berjarak aku duduk di sampingnya. Kami hanya terpaut 60 sentimeter.

"Seruni Azalea. Itu nama saya. Jika Anda datang menemui saya untuk membicarakan tentang Rumi, saya akan dengarkan."

"Kau bahkan sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan."

"Terlalu bodoh jika saya mengatakan tidak."

"Kami sudah tidak bersama...." suaranya menggantung. Aku sengaja tidak menyela, kubiarkan ia mengambil napas atau sekadar memberinya ruang untuk menyusun kata. "Aku yakin kau sudah mengetahuinya kan?"

"Bohong juga kalau saya mengatakan tidak."

"Aku tidak tahu mengapa aku harus menemuimu Seruni."

"Anda tahu," jawabku kaku.

"Seruni.... anak-anak....kami..."

"Maaf, jika Anda datang jauh-jauh hanya untuk meminta agar saya menjauhi Rumi percuma saja. Saya tidak akan pernah menjauhinya. Kami saling mencintai, dan pada akhirnya Anda pun tahu itu. Dan kini Anda menyesal telah 'membuang' lelaki sebaik Rumi?"

"Tidak... saya tidak menyesal."

"Kalau Anda tidak menyesal, Anda tidak akan pernah menemui saya."

"Baiklah, tolong pahami keadaan kami..." "Aku memintamu untuk tidak berhubungan dengan Rumi lagi, aku ingin menata kembali apa yang sudah pecah di antara kami."

"Apa yang akan Anda tata itu mungkin akan terlihat utuh kembali, tapi percayalah ada luka yang tak pernah bisa ditutupi dengan lem,"

"Kau benar, Seruni."

"Sayangnya saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda. Rumi adalah sajak-sajak yang ingin kubaca selamanya."

Perempuan itu tergugu. Kurasa ia tak paham pada apa yang kuucapkan. Pun aku, tak kusadari apa yang baru saja keluar dari lidahku. Tiba-tiba saja pikiranku dipenuhi semua hal tentang rumi; wajah bulatnya, senyumnya yang menawan, alis tipisnya yang melengkung. Bisakah aku melupakannya?

Rumi, jika pada akhirnya aku benar-benar meninggalkanmu, itu bukan karena aku memenuhi permintaan perempuan yang datang menemuiku. Tapi karena aku ingin kau terus menjadi sajak-sajakku. Hatiku panas setiap kali memikirkanmu. Jantungku rasanya berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasa. Ya, hampir mati rasanya. Mimpi-mimpiku hanya tentangmu.

***

Kerinduanku padamu sudah tak terbendung lagi Seruni. Aku membaca sajak-sajak yang dulu rutin kau kirimkan kepadaku yang tersimpan rapi di email. Aku membuatkan folder khusus untuk itu. Hatiku seperti mendapatkan oase. Seruni, kau adalah mata airku.

Tiba-tiba saja aku mencari namamu di tombol search mesin pencari. Dan aku terlempar ke sebuah 'rumah' di dunia maya. Rumahmu Seruni. Sekarang aku mengerti mengapa kau meninggalkan aku.

"Bagiku, mencintaimu tak harus berakhir pada pernikahan. Jika dengan pernikahan kita akan terpisahkan, maka aku memilih memilikimu tanpa melewati ritual tersebut," katamu suatu ketika, mungkin sekitar lima atau tujuh tahun yang lalu.

"Aku memang mencintaimu Rumi, sangat! Aku bahkan selalu mengidam-idamkan agar bisa hidup denganmu, menghabiskan waktuku tanpa melewatkan sedetikpun denganmu. Tapi mendengar kalian bercerai membuatku sangat sedih, kesedihan yang tak bisa kukatakan. Siapa pun pengganti ibu anak-anakmu kelak kupastikan itu bukan aku," katamu di lain waktu, saat aku menunjukkan akta ceraiku dengan ibu anak-anak.

Seruni, bilakah waktu mempertemukan kita kembali?

***

Rumi menutup layar gawainya. Di belakangnya sepasang mata mengamatinya dengan hati yang tumpah. Benar kata Seruni, batinnya. "Yang kutata dengan susah payah ini hanya perlu sekali tiupan untuk hancur," batinnya sambil beranjak.

***

Seruni menyelesaikan kalimat terakhirnya; percuma saja membunuh seseorang di kehidupan, sementara dia terus hidup di hati.[]

Komentar

  1. Astaga ini keren. Awalnya saya kira, si tokoh utama itu laki-laki, soalnya dari karakternya, hobinya 'menggombal', dan kisah cinta dia yang tragis, itu semua biasanya terjadi di cowok.

    Empat jempol deh. Khususnya di paragraf2 akhir. Keren. Klimaksnya dapet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasi atas apresiasinya Mas, menulis mengikuti ke mana gerak angin berlari, beginilah jadinya :-D

      Hapus
  2. Kalimat akhir maknanya dalem banget, dan serasa jadi tokoh utamanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.