Langsung ke konten utama

Wisata Halal Aceh, Kita Tidak Mulai dari Nol


Apa itu wisata halal? Berbekal pertanyaan ini, saya tidak pikir dua kali saat ada undangan dari Kementerian Pariwisata untuk mengikuti acara "Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial" yang dibuat Deputi Bidang Pengembangan Pariwisata Nusantara, di Hotel Oasis Banda Aceh, Selasa, 6 September 2016.

Belakangan, pertanyaan itu terus berkelindan di pikiran saya, seiring dengan semakin banyaknya pemberitaan terkait wisata halal atau halal tourism ini. Aceh kan sudah menerapkan syariat Islam, lalu apanya yang perlu 'dihalalkan' lagi? Itulah yang terbayang oleh saya, mungkin juga mewakili pikiran kawan-kawan di seantero jagat. :-D

Alhamdulillah, pertanyaan itu terjawab sudah. Adalah Mas Taufan Rahmadi, 'bidan' yang telah mengantarkan Lombok ke event Halal World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 menjelaskannya dengan sangat terang benderang.

Kalau boleh saya simpulkan, wisata halal itu kira-kira memiliki arti; "suatu konsep wisata alternatif yang standar operasional prosedurnya dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lil'alamin. Kesejahteraan bagi seluruh alam. "Inilah yang menjadi the soul of-nya wisata halal," kata Mas Taufan.



@istimewa 


Jadi, kalau wisatawan berpelesir ke daerah yang sudah menerapkan konsep wisata halal ini, mereka tidak hanya bisa menikmati keindahan dan pesona suatu daerah saja, tetapi mereka juga akan mendapatkan pelayanan yang ramah, jujur, mendapatkan kenyamanan, dan keamanan. Jadi, 'halal' ini bukanlah untuk si tuan rumah, tapi untuk tamu kita nantinya.

Bagi wisatawan muslim, akan lebih mudah mendapatkan makanan halal, kamar mandi yang ramah muslim (yang ada airnya untuk bersuci), dan kemudahan tempat untuk salat. Jadi, jangan bayangkan bisa mendapatkan sex, drug atau alcohol ya.. :-D. Kata temen saya, sekarang sudah nggak jamannya lagi 'nyari' sex saat berwisata.

Bagaimana dengan Aceh? Tahun ini, beruntung Aceh ikut andil di Kompetisi Wisata Halal Nasional 2016. Itu artinya, ini menjadi momentum penting bagi Aceh untuk mempromosikan destinasi wisata andalannya untuk menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya.

Kita bersyukur sebab Aceh jauh-jauh hari sudah menerapkan syariat Islam, jadi kita tidak mulai dari nol. Tempat salat misalnya, sangat mudah didapatkan di Aceh. Selain masjid dan meunasah yang mudah ditemui, warung kopi dan kafe yang ada di Aceh umumnya sudah menyediakan tempat salat.

Kalau soal makanan, dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, mencari makanan halal di Aceh bisa sambil 'memejamkan mata'. Jadi, hemat saya tak ada masalah dengan ini. Tapi, halal saja tidak cukup tentunya, kalau merujuk pada standar Islam, haruslah yang thayyibah juga. Halal dan sehat. Makanan halal tak hanya menjadi buruan kaum muslim saja, tapi juga dicari non muslim, karena mereka suka sesuatu yang higienis.

Tinggal dipoles di sana-sini, ditunjang dengan adat peumulia jame atau memuliakan tamu, Aceh tak perlu ragu menuju andalan destinasi wisata halal di Indonesia.

Jangan lupa dukung Aceh di Kompetisi Wisata Halal Nasional 2016. Berikan hak suaramu melalui link ini:  http://bit.ly/voteaceh atau halaltourism.id.[]

Komentar

  1. Ya, kita tidak memulai dari nol, (karena kita sudah ada titik nol Indonesia di Sabang) karena kita sejak lahir insyaallah sudah dalam kondisi 'halal'. Setidaknya ini menjadi kemudahan bagi Aceh mengkomersialkan wisata halal-nya. :D

    BalasHapus
  2. Ata cit kana di Aceh, tinggai maken tapeumeugah lom. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Isni, tinggal polas poles sana sini sikit dah mantap kali

      Hapus
  3. Naah ini dia konsep wisata halal yang pas.. Jadi g perlu diributkan lagi hehe.. Let go vote

    BalasHapus
    Balasan
    1. di awal-awal memang agak sedikit membingungkan....

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.