Langsung ke konten utama

Selamat Ulang Tahun, Adikku




Happy birthday my sista
Happy sweet seventeen

Selamat ulang tahun adikku,

Akhirnya kau genap berusia 17 tahun. Usia yang sering disebut-sebut sebagai 'gerbang' menuju kedewasaan. Sehingga banyak gadis remaja yang sangat antusias menyambutnya, dan kamu salah satu di antara mereka.

Itulah sebabnya jauh-jauh hari kau telah memberi 'sinyal' pada kakak. Kau bercerita sambil menangis. Kau bilang ini, kau bilang itu... kau sampaikan semua harapanmu, juga permintaan-permintaanmu.

Ya, kakak bisa menangkap apa 'pesan' yang ingin kau sampaikan lewat cerita-cerita itu. Kau ingin ada pesta kecil dengan kue dan beberapa potong lilin kan? Ada mamak, kakak, abang dan juga keponakan yang duduk mengelilingimu. Lalu satu persatu di antara kami mengucapkan; selamat ulang tahun, selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun.

Kemudian setelah tiup lilin selesai, kau memotong kue dan memberikannya kepada mamak. Setelah itu mamak memeluk dan menciummu. Tapi sayangnya semua itu tidak terwujud. Seperti harapanmu, kakak juga ingin keluarga kita berkumpul seperti dulu lagi.

Adikku sayang,

Sebagai seorang kakak, kado terbesar yang bisa kakak berikan adalah doa. Memang, kado ini sama sekali tak berbentuk, tidak bisa dibawa-bawa, tidak bisa ditunjukkan kepada teman-temanmu, tidak bisa disimpan sebagai kenang-kenangan, tidak bisa difoto dan diposting di sosial media, sehingga tak bisa kau 'pamerkan' kepada teman-temanmu.

Tapi kakak percaya 'kado' doa dari orang-orang yang benar-benar sayang padamulah yang siap mengantarkanmu ke 'gerbang' itu. Yang selalu menjadi pagar pelindung dari marabahaya yang mengintaimu.

Rasanya baru kemarin kakak menggendongmu dan membawamu jalan-jalan dengan Astrea Grand berkeliling kampung. Rasanya baru kemarin kakak mencubit pipimu yang mulus, tapi hari ini kakak mendapati pipimu sudah ditumbuhi satu dua jerawat. Pertanda usiamu bukan lagi anak-anak. Rasanya baru kemarin kau lari ke sana ke mari, lompat sini lompat sana sebagai balita, tapi hari ini kau sudah tumbuh sangat besar. Begitu cepatnya kau tumbuh, Dek. Begitu cepatnya kau besar.

Adikku sayang,

Kakak hanya ingin kau tahu, betapa kakak sangat menyayangimu. Selalu berharap yang terbaik untukmu, selalu mengusahakan yang terbaik untukmu.

Ya, mungkin kakak belum menjadi kakak yang ideal seperti harapanmu, belum bisa memenuhi semua keinginan-keinginanmu, belum bisa mengabulkan semua permintaanmu, belum bisa menjadi 'teman' yang selalu ada untukmu, bukan teman yang asyik untuk mengobrol atau bercanda, yang sering memarahimu, ataupun sering bersikap cerewet. Kakak hanya ingin katakan, semua itu kakak lakukan untukmu juga. Mungkin sekarang kau belum memahaminya, tapi kakak yakin suatu saat kau akan paham.

Selamat ulang tahun adikku,

Tumbuhlah layaknya sebatang pohon yang rimbun. Tancapkan akarmu sedalam-dalamnya agar kau kokoh dalam situasi apapun. Jangan pernah takluk pada angin yang bertiup kencang, atau pada semilir yang melenakan.

Jadikan dirimu sebagai pribadi yang meneduhkan dan memberi kesejukan, juga sepasang tanganmu layaknya dahan yang siap merangkul siapapun untuk memberi kekuatan dan kedamaian.

Tumbuhlah, tumbuh, tumbuh....jangan pernah merasa cukup dalam mencari ilmu, berbaktilah dengan sebaik-baik bakti pada mamak, karena itu satu-satunya orang tua yang kita punya sekarang. Kasihilah saudara-saudaramu dengan sebaik-baik kasih yang kau punya.

Jadilah mata air bagi keluarga, yang sejuk saat disentuh, yang menenangkan saat dilihat, yang melepaskan dahaga saat diminum.

Ditulis dengan cinta yang paling dalam
Kakak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n