Langsung ke konten utama

Jodoh

sepasang pengantin baru saat jalan-jalan di Taman Kuliner Ulee Lheue

SUDAH lama tidak meng-update blog. Tau-tahu Februari sudah lewat sepekan. Baiklah, kali ini aku akan menulis tentang JODOH. Tetap saja tak jauh-jauh dari tema cinta, sesuai title blog ini.

Yang di atas itu foto sepupuku bersama istrinya. Namanya Miswardi, tapi aku punya panggilan khusus untuknya. Bang Suwar. Usiaku dengannya hanya terpaut 22 hari, saat balita kami tumbuh bersama. Sering mandi hujan dan main lumpur berdua sampai menggigil dan gigi bergemeretak.

Pernah sekali waktu wawak -ibunya bang Suwar- membeli dua pasang baju. Untukku dibelikan baju kembang model terusan. Khas baju anak perempuan. Tapi aku menolak menerima baju itu, minta bajunya bang Suwar. Endingnya terpaksa beli baju yang sama seperti yang bang Suwar punya. Kata ibu, dulu aku juga sering mengigit bang Suwar sampai biru-biru. Tapi bang Suwar tidak pernah membalas, cuma nangis pilu hehehe. Dia memang baik, sampai sekarang juga baik.


Enam belas Januari 2014 kemarin ia baru saja menikah. Menjelang tiga dekade usianya, bang Suwar mengakhiri masa lajangnya. Gadis yang menjadi istrinya itu bernama Iklima, berasal dari Meureudu, Pidie Jaya. Orangnya juga baik, sopan dan aku bisa dekat dengannya walau baru beberapa kali bertemu. Ini yang kuherankan, sebab aku agak sulit beradaptasi dengan orang baru. Apalagi kalau sampai langsung dekat, pasti sudah terjadi 'sesuatu'.

Aku merasa pernikahan ini unik. Sebab sejak duduk di bangku SD bang Suwar sudah menetap di Jawa. Pulang ke Aceh paling lima tahun sekali, bisa kuhitung jari. Dua tahun lalu setelah selesai kuliah, dia diterima kerja di PT. Gulaku, di Lampung. Setahun kemudian pindah ke Kalimantan, bekerja sebagai mekanik di perusahaan tambang. Jadi, kapan dia bertemu soulmate-nya Iklima?

Lebaran tahun 2012 lalu wawakku pulang ke Aceh. Bang Suwar ikut pulang, langsung dari Lampung. Mengetahui wawakku ada di Aceh, orang tua Iklima main ke Teupien Raya, Pidie. Orang tua Iklima karib nenekku saat masih merantau di Aceh Tamiang puluhan tahun silam. Iklima ikut. Entah bagaimana wawakku terlibat pembicaraan 'khusus' tapi tak serius dengan orang tua Iklima. Yang tak serius itu akhir-akhirnya berujung ke pelaminan.

Begitulah jodoh sudah diatur Tuhan. Padahal mereka sebelumnya sama sekali tak saling kenal. Mungkin dulu, saat keduanya masih SD pernah bertemu. Tapi itu sudah lama sekali, raut wajahnya pun sudah lupa. Selama ini yang kukenal sebagai bakal calon istrinya itu seorang gadis Jawa. Tuhan sudah mengatur semuanya. Mereka berpisah. Bertemu gadis Aceh. Bertunangan. Menikah. Tak ada pacaran dan apel malam minggu. Kini keduanya sudah berada di Borneo.

===
Sekali waktu, aku pernah mendengar kisah lain tentang jodoh. Seorang pemuda kota meramal tentang siapa istrinya kelak. Di luar harapannya, si peramal mengatakan istrinya kelak seorang gadis dusun. Pemuda itu tak terima. Ia pun pergi ke dusun tempat bakal calon istrinya tinggal. Karena tak terima dengan ramalan itu ia melukai gadis itu. Pemuda itu bahagia, tak ada lagi gadis dusun yang bakal menjadi istrinya kelak. Ia tak sudi punya istri seorang dusun yang udik.

Tibalah saatnya si pemuda menikah. Istrinya rupawan dan begitu memikat hatinya. Namun alangkah kagetnya dia saat melihat ada bekas luka di perut perempuan yang telah menjadi istrinya itu. Usut punya usut, rupanya istrinya itu tak lain adalah gadis dusun yang dulu dilukainya. Nasib baik gadis itu berumur panjang. Yang kini telah ia nikahi. Pemuda itu tak bisa membunuh takdir!

===
Langkah, rezeki dan maut sudah diatur Tuhan. Kita meminta, Tuhan yang mengabulkan. Mintalah yang baik-baik, dan Tuhan akan memberikan sesuai kebutuhan kita. Cinta adalah misteri.[]

Komentar

  1. Amiiin buat doa yang di akhir tulisan ya dek

    BalasHapus
  2. Manusia memang bisa berencana, tapi pada akhirnya Allah yang memutuskan mana yang terbaik ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Isya, makanya jangan berhenti meminta

      Hapus
  3. Aku terharu baca ini..

    BalasHapus
  4. Ohh org Meureudu.. Sodara Abng jg ada yg dpt org sana. Dulu aku kl doa mnt jodoh ksh yg dr jauh ya Allah eh Allah ksh org Aceh kn bnr jauh, ujung Indonesia... Hihihi..
    Allah itu maha mendengar jd jgn ragu utk memohon, yg baik pastinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Muna... jodoh memang ajaib yaa... aku berdoa dapat jodoh orang jauh, entah dari pulau mana nanti dapatnya hahahah

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.