Langsung ke konten utama

Cinta dan Kelaziman

ilustrasi @goodlightscraps.com

kau mungkin bisa mengeringkan matamu, lalu berkedip-kedip, sesaat kemudian matamu yang tadinya memerah karena menangis perlahan-lahan memudar. lihat, kau melihat dirimu kembali ceria di hadapan cermin. kau menarik sesungging senyum, manis, orang-orang menangkap yang manis muncul dalam dirimu.

aku masih menunggu. selanjutnya apa yang akan dikatakannya?

tapi kau tak bisa menahan hatimu untuk berhenti menangis. kau boleh kuat, tapi selalu ada sisi terlemah dalam diri seseorang. kau tak bisa memaksa hatimu tersenyum seperti menarik segaris lengkung di bibirmu

lalu? aku bertanya dalam hati


atau kau pernah mengalami, mungkin menangis sebelum tidur. ah... kau berharap dongeng sebelum tidur bukan? seperti yang kuharapkan, tapi apa yang bisa kau lakukan saat kau hanya bisa menangis, di kamar mandi pula agar tak ada orang yang mengetahui.

hm...

pernahkah kau hidup dalam baling-baling rahasia yang membuatmu jungkir balik? berkelit sana sini untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. atau, barangkali kau pernah muak ketika orang-orang di sekelilingmu berbicara tentang cinta. aku ingin bertanya, cinta itu apa sih? mereka menjawab bahwa cinta adalah kelaziman.

menurutmu, apa itu cinta?

kau sedang ingin mengujiku?

tidak

aku tak punya definisi tentang itu, dan tak mau mendefinisikan,

ajari aku arti cinta

kau takkan mengerti sampai kau menemukan rasa yang tak bisa kau terjemahkan

aku tak mengerti

cinta mengajarkan kita banyak ketidakmengertian. ah, cinta mengajarkan kita untuk berjiwa besar, bersabar, sabar dan sabar, berdamai.... bukan dengan orang lain, tapi dengan dirimu sendiri. cinta kadang kala membuatmu merutuk-rutuk, menghadirkan kebencian, membakar emosi, meluap-luap, tapi dalam sekejap semuanya mencair, bagai bongkahan es yang terpapar sinar mentari, cinta itu.......

dia terdiam. aku juga. cinta itu....

dua orang yang hidup bersama kemudian memutuskan untuk berpisah, itu bukanlah cinta. cinta itu tak pernah berpisah walaupun tak pernah bersama. kau bingung? maka berhentilah bertanya definisi cinta padaku, bagiku cinta adalah kenormalan namun di luar kelaziman.

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja