Langsung ke konten utama

Menikah

laki-laki dan perempuan tentu saja merindukan yang namanya pernikahan, karena dengan menikahlah proses regenerasi anak manusia berlanjut. tapi membicarakan pernikahan tentu saja tidak berhenti pada proses regenerasi yang harus terus diperbaharui tetapi juga pada tahapan-tahapan lain yang harus dilalui hingga akhirnya sampai pada prosesi ijab qabul. menilik dari berbagai diskusi dan pengalaman, setidaknya ada beberapa hal penting yang harus dimengerti sebelum kita memasuki jenjang pernikahan.

perencanaan

bukan hanya di dunia bisnis, dalam membangun keluarga juga diperlukan sebuah perencanaan yang baik, seperti pepatah gantunglah cita-cita setinggi langit, paling tidak kita tidak akan menyentuh lumpur. begitu juga dengan menikah, bila kita sudah merencanakannya dengan baik paling tidak kita dapat menjalankannya dengan ritme yang lebih teratur. walaupun pada prinsipnya lelaki lebih mengutamakan perencanaan ini, tetapi tidak ada salahnya bila perempuan juga melakukannya. yang paling penting untuk direncanakan adalah pada usia berapa kita akan menikah, dengan adanya perkiraan semacam ini tentu akan memudahkan kita untuk menyusun rencana selanjutnya seperti misalnya kalau sudah menikah akan tinggal dimana, akan membangun usaha apa, akan punya berapa anak, akan membuat rumah tipe berapa. kalau kita sudah mempunyai gambaran umum seperti di atas akan memudahkan kita untuk membuat perencanaan keuangan yang baik. yah, paling tidak kita sudah mulai bisa bermanuver untuk mencari sumber keuangan yang lain diluar pekerjaan utama saat ini.

perencanaan ini sebaiknya dibicarakan dengan pasangan (bagi yang sudah mempunyai pasangan serius), karena kalau tidak akan menimbulkan kesenjangan bila sudah menikah kelak. hal ini penting untuk saling mengerti sikap dan keinginan masing-masing. bayangkan bila dalam sebuah keluarga antara suami dan istri memiliki keinginan dan sikap yang saling bertolak belakang, repotkan? contoh kecil saja misalnya, istri ingin punya anak dua, sedangkan suami ingin punya empat orang anak, suami ingin punya rumah sederhana, istri ingin punya rumah mewah. apajadinya bila ini baru dibicarakan sesudah anda menikah? pada saat dimana anda sudah mulai bisa menentukan seperti apa arah perkawinan pada usia satu tahun, dua tahun dan seterusnya, eh....ini masih ributin mau tinggal sama mertua atau ngontrak.

bagi para perempuan, bila punya pemikiran bagus sebaiknya jangan simpan sendiri, dan bagi para lelaki sebaiknya jangan terlalu mempertahankan ego untuk tidak menerima masukan dari calon istri. kebanyakan perencanaan seperti ini dimiliki oleh para perempuan, ini wajar karena perempuan biasanya lebih teratur hidupnya. tetapi juga banyak diantara mereka yang enggan menyampaikan rencana masa depannya dengan calon suami, apalagi bila sudah menyangkut dengan masalah keuangan. padahal, kalau masalah ini bisa cepat diatasi tentu nanti setelah menikah tidak ada lagi masalah serupa bukan?

Kesiapan Mental

banyak orang menikah tanpa persiapan , mereka menjalaninya seperti laluan air, yang tenang, mengalir kemana arus tapi tanpa mereka sadari air itu bisa bergolak kapan saja. sampai pada akhirnya kebosanan itu hadir karena ritme yang begitu datar, tidak ada improvisasi sama sekali. memasuki dunia pernikahan berarti memasuki dunia "lain" yang baru, budaya baru, komunikasi baru, adat istiadat baru, kebiasaan baru, dan religiusitas yang berbeda pula. tantangan inilah apabila tidak bisa dihadapi dengan mental yang kuat akan melahirkan penyakit mental yang berbahaya, stress, depresi hingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


dunia perkawinan adalah dunia multi kompleks, ragam kehidupan pra menikah bisa menjadi contoh mengapa kesiapan mental lebih penting dibandingkan kesiapan materi. dan, tentu saja godaan sesudah menikah lebih kompleks lagi dibandingkan sebelum itu. apakah kita sudah siap bila pasangan kita harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja daripada untuk kita? apakah kita sudah siap untuk mengasuh anak sendiri tanpa bantuan baby sitter? tanpa pembantu rumah tangga? dan apakah kita sudah siap hidup menderita bersama pasangan, sementara selama ini barangkali hidup bersama orang tua berlimpah materi? kalau belum, berarti harus ada perencanaan yang lebih matang lagi.


financial

uang memang bukan segalanya, tapi untuk mendapatkan segalanya kita membutuhkan uang. untuk biaya persalinan istri, untuk biaya sewa rumah, untuk biaya sehari-hari, untuk cicilan kendaraan, semua itu harus dipikirkan. jauh sebelum itu bagi yang akan menikah juga harus memikirkan mahar, hantaran, isi kamar, dan segala tek tek bengek lainnya. yang ini tentu saja untuk laki-laki, tapi apakah perempuan tidak boleh memikirkannya? harus! kalau laki-laki bisa menikah dengan biayanya sendiri mengapa perempuan tidak? inilah yang masih jarang dipikirkan oleh sebagian besar perempuan.

apabila masalah keuangan ini sudah dibicarakan sejak awal, tentu saja soal mahar juga bisa dibicarakan dengan pasangan. sehingga ketika waktunya tiba tidak ada pihak yang dirugikan. (Ihan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n