Langsung ke konten utama

Bulan yang Tak Setia*





Ngik…ngik…ngik…suara radio butut dari kamar Rosihan, bukan malah membuat telinganya enak tapi malah seperti akan tuli karena terlalu sering mendengar suara kresek-kreseknya. Belum lagi suara jeritan Alman dari halaman rumah yang menangis minta dibelikan es krim, padahal pedagang es krimnya sudah pergi sejak tadi.

Rosihan mengaduk-ngaduk nasinya yang tengah mendidih, lalu meniup apinya agar lebih besar supaya nasinya tidak mentah. Matanya memerah dan berair karena perih oleh asap dan bajunya sedikit agak kotor dihinggapi abu yang beterbangan oleh tiupannya tadi.

Setelah nasinya kering dan mengecilkan apinya Rosihan tergopoh-gopoh ke halaman rumah, dilihatnya Alman sudah berguling-guling di tanah, rambutnya sudah putih bercampur dengan tanah. Di bawah hidungnya cairan kental berlendir agak kehijauan membentuk angka sebelas.

Rosihan menghela napas berat sambil mengurut dada melihat ulah bungsunya, marah dan kasihan berkecamuk dalam jiwanya. Mengaduk-ngaduk perasaannya sebagai ayah dan sebagai lelaki yang terkadang sukar sekali mengendalikan emosi.

Manoe yak Neuk…” Rosihan mengepit lengan Alman, setengah menyeret ia membawanya ke belakang rumah karena Alman sama sekali tidak mau berjalan.

Dengan telaten Rosihan menyabuni seluruh tubuh Alman, memberi shampoo di rambutnya, menyikati kuku-kukunya dengan sikat gigi bekas dan sepuluh menit kemudian ritual mandi sore itu pun usai sudah.

Bocah mungil yang baru berusia lima tahun itu kini merasa badannya lebih enakan dan segar, tidak ada lagi angka sebelas dan abu yang menempel di badannya.

“Masuk sana pakai baju sendiri ya…”

“Iya ayah…”

“Jangan lupa bangunkan abang…”

Alman berlari kecil menuruti perintah ayahnya, suara sandalnya berkecipak-kecipak beradu dengan tanah. Mulut kecilnya bersenandung mendendangkan lagu Bintang Kecil. Rosihan termangu menatap punggung anaknya hingga hilang di balik dinding rumah. Batinnya berteriak-teriak menuntut keadilan bagi dua buah hatinya, tapi kepada siapa? Yang pergi takkan pernah kembali.

@@@

Suara binatang-binatang malam terdengar sama jeleknya seperti radio butut milik Rosihan, kadang suara kodok, suara jangkrik dan suara cacing tanah. Semuanya berkolaborasi menjadi nyanyian alam yang gratis namun sangat jauh dari kategori memuaskan. Tapi suara-suara itu tidaklah lebih menjengkelkan ketimbang suara nyamuk yang terus mengengeng di telinga Rosihan. Bahkan menggigiti telinganya, tangan dan wajahnya, sampai kejari kakinya. Dengan menggunakan kipas pandan yang sudah usang Rosihan menghalau nyamuk-nyamuk nakal itu dengan harapan segera menjauh.

Dengan kaki kirinya Rosihan menggaruk kaki kanannya yang gatal digigit nyamuk, sedangkan matanya jauh memandang ke langit lepas, menerobos sekat-sekat malam dan belantara awan yang sedikit terang oleh pantulan cahaya bulan. Banyak bintang gemintang bertaburan di sana. Ah, tiba-tiba ia jadi terkenang pada waktu beberapa tahun silam, saat malam-malam seperti ini dilalui dengan keberadaan Salma di sampingnya. Mengapa pula ia menjadi ingat kepada mantan istrinya. Tapi…apa pantas disebut mantan istri sebab dirinya tak pernah menceraikannya tapi disebut istri rasanya lebih tidak pantas lagi.

Dulu, ia sering duduk hingga larut malam dengan Salma di panteu trieng tua ini, membicarakan tentang masa depan mereka, tentang anak-anak, tentang apa saja yang bisa membuat mereka senang. Kadang di saat-saat seperti itu Rosihan belajar mempraktekkan ilmu merayunya yang sangat sedikit. Agar istrinya tidak terlalu menderita pikirnya, setidaknya hatinya menjadi terhibur walaupun hidup mereka susah, lebih tepatnya dikatakan melarat.

“Melihat wajahmu selalu membuat hatiku senang Salma.”

Pakoen?”

“Karena ada bulan menggantung di sana.”

Salma tertawa sambil mencubit pinggang Rosihan, dalam gelap bisa dipastikan wajahnya yang putih itu akan kemerahan karena menahan malu.

“Abang bisa saja…”

“Iya Salma, abang nggak bohong. Hh…seharusnya abang bisa sedikit menyenangkanmu, tapi beginilah…sudah punya dua anak kita masih melarat juga.”

“Hanya belum kaya barangkali.”

Salma dan Rosihan tertawa bersama, beban hidup yang berat seakan hilang larut dalam tawa canda mereka. Rosihan mengulang kembali kata-kata Salma barusan, “semoga…” tambahnya.

Tapi semua itu adalah kenangan lama yang kebetulan singgah dalam kehidupan Rosihan. Dan sekarang, kenangan indah itu telah berubah menjadi mimpi buruk yang terus mengapung dalam ingatannya.

Ia menyesal telah menyamakan Salma dengan bulan. Bulan adalah makhluk yang selalu setia kepada malam, sampai kapan pun hingga dunia dan isinya terbelah kelak. Dan selama itu ia tak peduli pada pergantian musim, hujan atau panas, semi atau gugur. Sedangkan Salma? Dia adalah bulan yang tak setia pada penderitaan hidup, bulan yang tak sanggup mendengar rengekan dan tangis anak-anaknya. Apa dia pantas disebut bulan? Semua itu hanyalah ketelanjuran bagi Rosihan yang pernah sangat mencintainya.

Hingga akhirnya Salma meninggalkan dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil, yang membuat Rosihan sangat marah dan merasakan sakit yang tidak terperi adalah Salma kabur bersama Samidan yang memang masih menyimpan cinta kepada dirinya. Yah…Samidan yang dulu sama-sama bermain cang keucubet dengannya.

“Ayah…ayah…”

Suara Alman memanggilnya dari dalam rumah, Rosihan menyeruput kopi bikinannya sendiri sebelum masuk menemui anaknya.

“Ada apa? Kok bangun?”

“Alman mau pipis.”

“Oh…ya udah sini.” Rosihan menggendong anaknya keluar

“Ayah, punya ibu itu enak ya?” Tanya Alman tiba-tiba setelah selesai buang air kecil.

Rosihan terperanjat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Selama ini baik Alman maupun Alam tidak pernah bertanya perihal ibu mereka atau yang menyangkut dengan ibu. Atau barangkali mereka berpikir terlahir sendiri ke dunia ini tanpa perantara ibunya.

“Ayah, kok diam?” Alman menjawil lengan ayahnya.

“Eh…tanya apa barusan?” Rosihan pura-pura tidak mendengar.

“Kata Dori punya ibu itu enak, benar Yah?”

“Mm…iya enak…” jawab Rosihan sekenanya.

“Lalu kenapa Alman nggak punya ibu?”

Rosihan benar-benar kelabakan dibuatnya. Untuk malam selarut ini pertanyaan seperti itu sangatlah mengusik ketenangan hatinya. Bukan apa-apa, mengingat Salma kadang ia ingin marah atau memakinya, menyumpahinya, tapi ia tidak bisa. Sebab dia tidak pernah diajarkan untuk menyerapahi orang lain apalagi bekas istrinya sendiri. Yang ia tahu hanyalah bagaimana mengikhlaskan sesuatu yang memang ditakdirkan bukan untuknya, termasuk istrinya yang dibawa kabur oleh temannya sendiri kah?

“Ayah…?”

“Tuh kan bengong lagi.” Alman protes.

Apa yang bisa ia jelaskan pada anak sekecil itu? Mengatakan kalau ibu mereka kabur dengan laki-laki lain karena tidak tahan hidup menderita. Haruskah hal sepahit itu diceritakan kepada mereka? Dalam kegamangan seperti itu entah mengapa ia jadi ingin melihat bulan.

“Coba Alman lihat ke langit.”

“Ada bulan kan, Yah?”

“Itulah ibu kita…”

Ibunya malam, lanjut Rosihan dalam hati.

@@@

19 Tahun kemudian

Rosihan yang tengah makan siang bersama kedua anaknya terpaksa menghentikan suapannya begitu melihat seseorang muncul di ambang pintu. Lelaki itu memicingkan matanya karena silau, siapa dia? Pikirnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Alman dan Alam, mereka saling bertatapan. Seorang perempuan setengah baya berdiri mematung di depan pintu, wajahnya kelihatan lelah, bibirnya pucat dan kering. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa dan tampak agak kepayahan. Alhasil ia hanya bisa berdiam diri sambil memilin-milin kerudungnya. Dalam hati ia berteriak “Kalian, sapalah perempuan ini jangan diam saja.” “Suruhlah aku masuk”

Piring yang tadi dipegang Rosihan tiba-tiba terjatuh ke lantai dan dalam sekejap menjadi kepingan-kepingan beling, ia mulai mengenali siapa perempuan itu. Rasa tidak percaya dan kaget bercampur mengaduk-ngaduk perasaannya. Tak ada tanda-tanda pernah ada bulan menggantung di wajah perempuan itu, tak lagi bercahaya. Penuh keriput…

“Masuklah…” ucapnya sepatah, masih belum hilang kagetnya. 

Ia amat bingung menghadapi situasi seperti saat ini. Tak pernah sekalipun ia berpikir jika suatu saat Salma akan kembali, kalaupun sepeninggal Salma ia memilih tidak menikah lagi bukan berarti ia setia kepada Salma, tapi ia hanya ingin hidup untuk kedua buah hati terkasihnya. Itu saja.
Dan sekarang, Salma benar-benar ada di hadapannya, apa yang harus ia lakukan?

“Alam, suruh ibumu masuk,” ucap Rosihan kepada Alam, melihat Salma bergeming.

Kali ini Alman yang terperanjat bukan kepalang.

“Ibu?!” Ia menatap dengan seribu tanda tanya pada ayah dan abangnya. “Ibu?” ucapnya nyaris berdesis. “Ibu…” selama ini saat ia bertanya ibu ayahnya hanya menunjuk bulan lalu bagaimana mungkin sekarang tiba-tiba muncul perempuan sebagai ibunya. Air muka Alman berubah seketika.

“Ayah, katakan dia bukan ibu kami,” ucap Alman tegas. Rosihan mendongak, begitu juga dengan Alam.

“Nak, itu ibu kalian.”

“Bukan!”

“Nak! Aku ibumu, yang telah melahirkan kalian!” Salma setengah berteriak dari depan pintu. Kedua tangannya mengembang. Air matanya menetes. Ia sangat terpukul mendengar ucapan Alman barusan.
Alman menggeleng, jiwanya terguncang.

“Ibuku bulan yang selalu setia pada malam,” entah darimana ia mendapatkan kata-kata itu.

“Aku ibumu, Nak!”

“Aku ibumu! Bulan yang selalu setia pada malam!”

“Aku ibu kalian!”

Teriak Salma berulang-ulang sambil menyusuri jalan. Ia menjadi gila sejak saat itu.

Bilik Hati, 10:04 pm
21/02/07


*cerpen ini pernah dimuat di Harian Aceh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.