Langsung ke konten utama

Tentang Mimpi

Mimpi....kerap kali mengundang senang, gembira tapi tak urung juga gelisah, senang bila mimpi itu seperti bunga yang memberi harum dan segar, gembira bila mimpi hadir seperti yang diharapkan, tapi...menjadi gelisah ketika mimpi yang datang bertolak belakang dengan keinginan si pengingin mimpi. apalagi bila adegan dalam mimpi itu terlihat jelas hingga terbayang terus menerus sampai besok pagi, bahkan sampai ia akan menceritakan mimpinya pada seseorang, ataupun sesuatu...

Seperti saya...si pemimpi yang menjadi gelisah sampai hari ini....betapa tidak, mimpi yang indah menjadi tidak menyenangkan ketika orang yang hadir dalam mimpi itu adalah orang yang tidak saya inginkan, alhasil saya menjadi geli sendiri hahaha...kadang sampai merinding hihihih....


beberapa minggu yang lalu, saat pulang kampung Ibu sempat memberi aba-aba, "Jangan terlalu sibuk bekerja..." katanya ketika itu, "Umur sudah cukup...". lanjutnya. walaupun tidak langsung mengatakan atau bertanya "kapan mau menikah" tapi itu cukuplah sebagai signal. soal umur? ah, saya merasa masih terlalu muda, masih belum pantas menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak, diri sendiri saja jarang diurus. konon lagi harus mengurus orang lain yang dalam segala hal bertolak belakang dari saya, ya jenis kelamin, fisik, hobby, keinginan...etc. bukan...bukan itu, yang benar, saya masih ingin menikmati kesendirian ini tanpa ada yang memerintah dan mengomandoi, tanpa ada yang melarang apa yang saya kerjakan, dan tanpa ada yang protes ketika saya tidak pulang ke rumah sama sekali hahaha...dasar edan.

Sore kemarin, seorang teman mengirimkan sms yang intinya dia mendoakan saya agar cepat punya pasangan, yang baik, yang good looking, yang bisa memberi keturunan, yang kaya, yang setia, seiman, dan rajin sholat....oh teman...lengkap sekali doanya, iseng saya balik bertanya apakah semua kriteria itu ada pada dirinya? dia tak menjawab. malamnya pukul 11.16 dia memperjelas lagi doanya, meminta kepada Tuhan agar Ia senantiasa melindungiku, mempertemukanku dengan pasangan hidup yang dipilihkan Tuhan, menyenyakkan tidurku... oh... teman...

Saya tidur lagi setelah membaca pesan dari nya. tak lama berselang saya terbangun lagi, tapi bukan kerena bip sms melainkan karena saya terisak-isak. oh...ternyata saya bermimpi, mimpi menikah, tetapi bukan dengan orang yang saya cintai melainkan dengan teman satu kerja...itulah yang membuat saya sedih dan menangis, saya terisak-isak karena merasa hidup saya menjadi gelap dengan dinikahi olehnya. menjadi risih harus berdekatan dengan sangat dekat dengan lelaki itu....ah...dasar mimpi...lebih menyebalkan lagi karena perkawinan itu bukan atas dasar kemauan saya melainkan perjodohan orang tua...huh! tak berhenti saya menggerutu ketika sedang bermimpi, bahkan tangisan itu terjadi ketika saya curhat pada seorang teman perempuan saya tentang perkawinan yang tidak saya ingini ini. tetapi...dalam mimpi saya bersykur karena tiba-tiba ada anak kecil yang menjadi penghalang saya dengan suami bayangan itu.

Mimpi ini memang tidak ada kaitannya dengan dua cerita di atas, tapi Mimpi ini benar-benar membuat saya gelisah hingga pagi, tapi juga takut, karena kata orang tua kalau mimpi menikah itu pertanda akan meninggal dunia...hohohoh...semoga tidak ya Allah.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…