Langsung ke konten utama

My Dear

Bilik hati
My dear...
Terimakasihku kepada Tuhan karena telah mengirimkan seseorang sepertimu dalam kehidupanku. Aku tahu kau bukanlah sosok yang sempurna, tapi kau telah menjadikanku begitu sempurna. Sempurna mencintaimu, sempurna menyangimu, sempurna mengasihimu, sempurna merinduimu. Seperti sesempurnanya malam dengan atau tanpa gemintang.
Seperti sempurnanya suaramu yang mampu leburkan emosi dan amarahku. Sama sempurnanya seperti kuatnya pelukanmu yang mampu halaukan semua gelisah dan resah dalam jiwaku. Di sanalah aku menemukan oase. Dalam sentuhanmu, dalam sapuan lembut jemarimu, dalam pelukanmu yang mendamaikan.
Aku merasa caramu menepis cemburuku adalah tawamu yang khas. Yang telah menjerat hati ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Kau begitu berderai-derai, kau begitu sederhana, tapi kau tak mudah. Kau teka-teki bagi kehidupanku. Kau permainan catur yang memeras tenaga dan pikiran. Tapi kau juga puisi-puisi indah yang memabukkan dan membuatku melayang. Kau adalah bait-bait sakral yang penuh makna. Bagi kehidupanku, bagi keberlangsunganku. Namun begitu, aku tak mendewakanmu, sebab seperti katamu, yang pantas kita agungkan adalah Tuhan dan Rasul Nya. Untuk yang kesekian kalinya, kali inipun aku menyetujui perkataanmu.
Kau kekasih yang mengerti betul tentang arti persahabatan. Maka kita berdua adalah sahabat yang tak pernah terpisahkan sampai kapanpun. Sampai kulitku dan kulitmu mengeriput, sampai rambutku dan rambutmu memutih, sampai mataku dan matamu tak mampu lagi melihat. Tapi hati kita, selamanya akan mampu melihat, merasakan, dan mendengar perasaan jiwa kita.
Tuhan hanya menciptakan yang sepertimu satu di dunia ini. Begitu juga ketika hatiku memilih. Tak pernah terfikir lebih dari itu. karena aku hanya menginginkan senyummu, karena hanya senyummu yang mampu sembuhkan luka, karena hanya luka yang mampu membuatku mengerti betapa senyummu begitu berarti dalam hidupku.
Sebab cinta tak pernah memilih dan memilah. Perbedaan kebudayaan, latar belakang yang tak sama, warna kulit yang berbeda, bahasa, usia... semuanya melintasi ruang dan waktu. Dan itu, bukan alasan untuk menggugat. Sebab cinta adalah cinta. Yang tak pernah lahir kebecian setelahnya, yang tak pernah tumbuhkan dendam setelahnya, yang tak pernah telurkan permusuhan. Sebab cinta adalah keikhlasan, penerimaan tanpa syarat, ketulusan tanpa cacat.
Maka cukuplah Tuhan yang tahu seperti apa gemuruhnya, setinggi apa gelombangnya, dan sekuat apa geletarnya. Hatiku tak akan pecah karenanya, jantungku tak akan berhenti karenanya. Sebab hakikat cinta adalah memberi kehidupan, bukan kematian. Dan aku, tak ingin mati atas nama cinta. Aku ingin hidup untuk cinta. Untukmu...
Lalu adalah kamu setelah itu. tak ada kebohongan tentang suatu apapun. Sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan sejak pertama kali mengatakan aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku memintamu menjadi kekasihku. Adalah untuk selamanya kekasih. Sejak pertama kali aku mencemburuimu. Di hadapanmu, aku ingin menjadi istimewa dengan keterus-terangan.
Kesalahan dalam hidup adalah hal yang biasa. Tapi hati dan jiwa yang tulus tak pernah melakukannya. Sekalipun di saat dan waktu yang tidak tepat. Sekalipun ingin menjadikannya berbeda. Dan itu artinya tak pernah ada penyesalan. Karena telah memilihmu. Aku hanya ingin memberi tahu untuk yang kesekian kalinya bahwa aku benar-benar bahagia denganmu.
Bertengkar denganmu, adalah saat-saat mendebarkan sekaligus menyenangkan, karena di sanalah kita mendapatkan bentuk lain kepedulian. Saling mengingatkan, saling memberi tahu dengan bahasa yang berbeda. Bahwa sebenarnya kita saling menginginkan yang terbaik untuk sesuatu yang tak ingin kita akhiri.
Pertengkaran kita pertengkaran istimewa, tak ada sumpah serapah, tak ada suara melengking, tak ada yang saling mendominasi. Pertengkaran kita adalah pembelajaran untuk saling menghormati, saling menghargai, saling memberi hak dan kewajiban. Pertengkaran kita jalan menuju dewasa. Dan orang dewasa, seperti katamu selalu melihat kebaikan dari hal-hal buruk sekalipun. Pertengkaran kita mengajarkan kita menjadi bijaksana, tepatnya aku.
Dan, terima saja bila aku sering-sering bilang terimakasih karena kau telah mencintaiku dengan cara sederhana tapi tak mudah. Rumit, namun begitu aplikatif. Karena beginilah caraku mencintaimu; mengedipkan sebelah mata untukmu.
Yours
Ihan
00:00
01 Mar. 10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.