Langsung ke konten utama

[Tutorial] Satu CMS untuk Beberapa Blog

printscreen Kutub Boekoe
KITA beruntung punya media blog yang bisa dipakai gratis. Artinya isi kepala kita bisa kita publikasikan dan dibaca orang kapanpun kita mau. Tentunya dengan biaya yang terjangkau tapi lebih efektif dan daya sebar yang lintas benua. Asyik ya?

Ibarat rumah, blog adalah tempat kita menyimpan semua perkakas rumah tangga (tulisan). Orang miskin (baca: malas) biasanya punya satu rumah saja tidak terurus. Dibiarkan kosong melompong bak gudang tanpa isi. Alhasil tetangga (baca: pengunjung) malas main ke rumah kita. Dampaknya lama-lama rumah itu jadi gubuk kosong yang trafiknya di alexa segitu-gitu aja.

Sebaliknya ada orang-orang yang punya energi lebih untuk mempunyai dua rumah sekaligus. Dalam hal ini mengelola blog lebih dari satu akun. Akun-akun tersebut bisa disesuaikan dengan minat mereka misalnya tentang sastra, traveling, atau buku, atau hobi lainnya.

Hari ini saya membuat sebuah blog baru yaitu Kutub Boekoe. Dari titlenya sudah jelas itu blog isinya apaan. Blog ini satu CMS (Control Managemen System) dengan blog yang sudah ada yaitu Senarai Cinta. Dengan begitu saya nggak perlu bikin blog dengan akun lain. Kemudahannya menurut saya sih sekali login tapi saya bisa mengontrol dua CMS sekaligus.

Contoh cms blog saya
Gimana cara bikinnya? Sangat gampang. Saya yakin para blogger semuanya udah khatam berkali-kali deh soal ini. Tapi kenapa saya buat juga tutorial ini? Ini untuk memenuhi permintaan seorang sahabat. Dia sudah menginspirasi saya untuk membuat Kutub Boekoe, giliran saya menyenangkan hatinya :-D

Langkah pertama: Masuk (login) ke blog kamu


Klik tanda masuk di pojok kanan atas, kalau kamu pas lagi buka akun gmail dari satu tab biasanya begitu kita klik masuk langsung login otomatis. Kalau enggak kamu tinggal masukkan alamat email dan password.

Langkah 2: Klik tanda Blog Baru seperti yang ada di pojok kiri atas gambar di bawah ini



Langkah 3: Isi Kolom Judul dan Alamat Blog Sesuai Selera Kamu.

Kalau sudah klik salah satu template yang ada di sini, setelah itu klik Buat Blog! yang warna kuning telur itu.  Saat mengisi alamat blog kalau tidak tersedia langsung ketahuan.

Langkah 4: Blog Kamu Sudah Jadi, Ini Penampang CMS Barunya
Lihat, sudah ada tiga nama blognya. Nah kalau mau editing tinggal klik di salah satu nama blognya. Blog kamu penampangnya (blogspot) gini juga kan? Kalau mau balik ke semula klik saja button Blog Saya yang kuning itu. 

Nah itulah sedikit tutorial cara mengelola beberapa blog dari satu CMS. Semoga berguna yang rerakan :-). Cuma kalau pake cara begini nama penggunanya tetap satu, saya misalnya walaupun ngepost di Kutub Boekoe atau di Urat Nari tetap saja authornya muncul sebagai Ihan Sunrise. Artinya kamu ngga bisa nutupin jati diri kamu alias bersembunyi di balik akun blog yang baru.[]

Komentar

  1. Wah, asyik juga ya... So, mesti buat alamat baru juga ya buat blog barunya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.